• Rembulan Cinta Seorang Bunda

    Rembulan Cinta Seorang Bunda

    Hidup terus bergulir, seperti air yang senantiasa mengalir. Manusia yang bijak akan selalu berusaha mencatat setiap jejak dan merenungkan makna di balik setiap tindakan. Inilah buku sederhana, namun membutuhkan pemehaman yang tidak sederhana..

  • Luthfan

    Luthfan Adli Wicaksono

    Basuhlah peluhmu dengan embun. Muliakan tuturmu dengan belaian. Tundukkan kepalamu pada hening sujud. Hingga dirimu tertimbun oleh iman dan takwa.

  • Astri

    Astri Khairana Wardhani

    Rangkaian katamu merasuki jiwa. Merangkum warna warni kehidupan. Menganyam keindahan yang tak bersekat. Titikan langkahmu pada masa depan yang gemilang.

  • Hilman

    Hilman Zata Amani

    Teruslah berlari, anakku. Kumpulkan semua yang kau lewati. Goreskan pada segala kisah. Teriakkan pada semesta. Hai... Aku ada!.

  • Fanni

    Fanni Nurul Dzihni

    Ceriamu rangkaikan hari Kau adalah perangkai dari banyak kisah. Pelukmu damai kembangkan tawa. Jernihkan hati dalam lautan nurani.

  • Kayla

    Hanifa Kayla Anindya

    Kusapa hadirmu dengan takbir Kupeluk tubuhmu dengan sajadahku. Doaku terpatri dalam tiap denyutan nadimu. Aku adalah jiwa yang ingin engkau peluk.

Prediksi Jitu: Pancingan

60 komentar
Bismillahirrohmannirrohiim,

Program Peduli Kata Kunci (PKK) yang diselenggarakan oleh Warung Blogger minggu ini adalah mengenai Prediksi Jitu. Waktu baca temanya, aku langsung cek ke Google kata kunci itu, karena betul-betul nggak nyangka kalau ada yang begituan. Dan amat mencengangkan! Ternyata kata kunci Prediksi Jitu jadi juaranya untuk mereka-mereka yang ingin mendapatkan uang dengan jalan pintas, alias judi. Woow! Speechless!

Upaya Warung Blogger untuk menyingkirkan konten-konten negatif dari halaman pertama Google memang patut mendapatkan dukungan. Walaupun untuk betul-betul menghapusnya membutuhkan kerja sama dari banyak pihak, namun setidaknya ada niat baik untuk memberikan sesuatu yang bagi masyarakat kita.

Prediksi jitu versiku adalah pada kegiatan memancing ikan. Memancing ikan kelihatannya memang sepele, tapi kalau tidak bisa memakai prediksi dan ketepatan, bisa lepas lagi ikannya. Yang sering terjadi, umpan sudah dimakan ikan tapi lolos. Kurang cepat narik pancingannya.

Pemilihan pelampung dan ukuran mata kail juga perlu dicermati. Harus membedakan mau memancing di mana, kira-kira berapa besar ikannya. Memancing di laut, sungai, empang harus memperhatikan jenis umpan yang akan kita pakai. Bisa memakai udang, cacing, pelet atau racikan sendiri. Jarak mata kail dengan timah juga membutuhkan prediksi jitu kalau ingin mendapatkan ikan dengan tepat. Memancing ikan-ikan besar tentu saja membutuhkan tongkat pancing dan reelnya yang lebih kokoh. Ikan besar menariknya membutuhkan tarik ulur yang pas supaya tidak lepas dari kailnya.

Berikut ini adalah hasil prediksi jitu Hilman, anakku, ketika memancing di empang kompleks rumah kami.



Jadi, memancing itu bukan sekedar melemparkan kail, menunggu laru tarik. Diperlukan kecermatan, ketepatan dan prediksi jitu.

"Artikel ini turut mendukung gerakan PKK Warung Blogger"









Read more

Masuk Neraka Siapa Takut #Luruhnya Sebuah Kesombongan

34 komentar
Bismillahirrohmannirrohiim,

Jujur aku akui, bahwa aku berhati-hati ketika memutuskan untuk mengikuti GA yang diselenggarakan oleh pak Hariyanto ini. Hati-hati dalam memilih apa yang akan aku tuliskan. Bukan karena merasa tak ada kesalahan di masa lalu. Justru amat banyak. Tapi aku harus memilih, kisah apa yang akan aku paparkan untuk GA ini. Jangan sampai apa yang aku ceritakan merupakan aib diri yang harus ditutupi, karena Alloh sudah lebih dulu menutupnya.

Sebagaimana hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Al Bukhori dan Muslim:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Seluruh umatku akan diampuni dosa-dosa kecuali orang-orang yang terang-terangan (berbuat dosa). Di antara orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang yang pada waktu malam berbuat dosa, kemudian di waktu pagi ia menceritakan kepada manusia dosa yang dia lakukan semalam, padahal Allah telah menutupi aibnya. Ia berkata, “Wahai fulan, semalam aku berbuat ini dan itu”. Sebenarnya pada waktu malam Tuhannya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi justru pagi harinya ia membuka aibnya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah.”

Inilah alasan mengapa aku merasa harus berhati-hati dalam menuliskan kisah untuk GA ini. Harus ada hikmah yang bisa diambil. Insya Alloh, aku luruskan niatku, bahwa keikutsertaanku dalam GA ini bukan karena ingin mendapatkan hadiah-hadiah yang ada, atau hal apapun selain ingin sedikit berbagi kepada teman-teman, agar tidak melakukan hal yang sama. Sebagaimana yang disampaikan oleh pak Hariyanto:

"Tanpa bermaksud membuka aib seseorang, dengan berbagi kisah, tentunya kita mengharapkan kisah itu bisa menjadi inspirasi, motivasi serta tuntunan bagi pembacanya agar kelak orang yang membacanya bisa berubah menjadi manusia yang lebih baik dalam pandangan dunia, tentunya terutama dalam pandangan ALLAH, sehingga dengan berbagi kisah tersebut kita bisa pula menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama hamba ALLAH."

******

Cerita ini terjadi sudah lama sekali. Yaitu pada masa aku kuliah. Pada waktu itu aku punya beberapa sahabat dekat, salah satunya adalah Prasti (bukan nama sebenarnya). Gadis manis asli Purwokerto ini orangnya kalem, sedikit tomboy, tapi juga perasa. Aku melihatnya sebagai seseorang yang baik, suka menolong, ramah dan berprinsip. Intinya, Prasti adalah seorang teman yang menyenangkan.

Dia sering main ke kostanku. Karena kostku letaknya dekat dari kampus jadi bisa untuk transit kalau ada mata kuliah yang berdekatan, mengerjakan tugas, atau sekedar ingin ngobrol sepulang kuliah. Prasti selalu ke kampus mengendarai sepeda motor yang usianya memang sudah agak tua, tapi begitu setia menemani Prasti ke mana saja

Suatu hari, beberapa teman termasuk Prasti sedang kumpul di kostku. Tiba-tiba aku ingat harus foto kopi beberapa lembar materi kuliah. Prasti mengijinkanku memakai motornya setelah aku mengutarakan untuk meminjamnya. Maka segera aku larikan motor itu ke tempat foto kopi.

Waktu itu memang cuaca sudah mendung. Itu juga salah satu alasan mengapa aku pinjam motornya, supaya cepat dan tidak keburu turun hujan. Tapi rupanya, hujan turun ketika aku dalam perjalanan pulang. Langsung lebat, dan entah kenapa motornya tiba-tiba mogok. Dengan berbasah-basah, aku mencoba menstater secara manual karena motor tua itu tidak dilengkapi stater otomatis seperti motor-motor sekarang. Pakaianku, foto kopianku basah semua. Aku berkeringat di bawah guyuran air hujan. Jalanan sepi, tak ada yang membantuku. Aaah... Rasanya waktu itu aku pengen nangis aja. Berteduh juga sudah percuma, jadi aku terus berusaha menstater motor sampai akhirnya bisa menyala.

Perasaanku campur aduk. Jengkel, marah, sebal dan entah apa lagi. Sesampai di kost, sungguh hal tidak mulia aku tunjukkan di depan Prasti dan teman-teman. Aku mengungkapkan kekesalanku di depan semua yang ada di sana. Tanpa menimbang perasaan Prasti sedikitpun. Aku sempat melirik ke arahnya dan melihat seperti ada yang ingin dia sampaikan, tapi dia urungkan karena melihatku basah kuyup dan menggerutu terus.

Begitu hujan reda, Prasti langsung pamit pulang. Aku bahkan tidak mengucapkan terima kasih pada Prasti. Waktu itu, aku belum menyadari kesalahanku. Pikiranku masih penuh dengan kesusahan yang aku alami di bawah guyuran hujan lebat. Setelah teman-teman pulang semua, aku memutuskan untuk tidur sebentar melupakan apa yang baru aku alami.

Bangun tidur, aku melihat buku Prasti ketinggalan di kamarku. Tiba-tiba aku seperti tersadar oleh sesuatu. Astaghfirulloh... Apa yang sudah aku lakukan padanya? Terbayang wajahnya ketika melihatku meluapkan kekesalanku tadi. Ingin menyampaikan sesuatu tapi tidak jadi. Entah apa yang ada dalam hatinya. Mungkin Prasti juga kesal atas sikapku yang tidak menyenangkan tadi. Bukankah seharusnya aku berterima kasih padanya, sudah meminjami aku motornya. Apa yang aku alami adalah di luar kuasanya. Dia juga tak menduga aku akan mengalami hal itu.

Tapi... Niken yang dulu terlalu angkuh untuk meminta maaf pada Prasti. Berharap Prasti memaklumiku dan melupakan kejadian itu. Sekalipun peristiwa itu sering teringat, tapi kata maaf tak terucap dari bibirku untuk Prasti. Dan Prasti tak pernah membahas hal ini. Maka kemudian aku menganggap selesai saja masalah ini. Kami tetap berteman dan berhubungan baik. Peristiwa itu tak mempengaruhi sikap Prasti padaku.

Selesaikah?

Ternyata tidak. Setidaknya bagi diriku. Perasaan itu tak pernah hilang. Rasa bersalah dan wajah Prasti selalu selalu terbayang. Tapi tetap saja perasaan itu aku bawa sampai aku lulus dan berpisah dengan Prasti. Yaah... Aku terlalu angkuh untuk meminta maaf pada sahabatku sendiri, dan malah memilih untuk membiarkan rasa itu bersemayam dalam hatiku.

Tahun berganti tahun.

Kontak dengan Prasti sempat terputus. Maklum waktu itu belum ada handphone atau jejaring sosial seperti Face Book. Waktu bergulir membawa sebuah proses kehidupan pada diriku. Kesadaran demi kesadaran bermunculan merubah jalan hidupku. Satu persatu pertobatan untuk kesalahan di masa lalu aku panjatkan. Termasuk rasa bersalah pada Prasti itu. Aku berjanji pada diriku, andai Alloh mempertemukan kami, aku akan meminta maaf padanya. Karena ternyata, sikapku kala itu menyisakan sesal yang panjang. Hati kecilku selalu tak bisa lepas dari perasaan bahwa aku amat sombong dan bersalah pada Prasti. Aku mengendapkan perasaan ini bahkan sampai bertahun-tahun lamanya.

Ketika sampai padaku ayat Alqur’an dan hadist tentang larangan bersikap sombong, makin gemetarlah rasanya jiwa ini. Peristiwa itu selalu terbayang di pelupuk mataku. 

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)

Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)

Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim)

Siapalah diriku sampai bisa bersikap seperti itu pada Prasti. Tak tau berterima kasih sudah dipinjami motor, malah marah-marah di depan teman-teman, bahkan tak meminta maaf padanya bertahun-tahun lamanya. Berharap Prasti memaklumi keadaanku tanpa memperdulikan perasaannya. Astaghfirullohaladziim... 

Alloh memberiku jalan hidup dengan menikah dengan laki-laki yang juga teman kuliahku dulu. Tentu saja suamiku mengenal baik Prasti. Setelah menikah, aku diboyong ke Jakarta. Sungguh luar biasa Alloh mengatur jalan hidup hambaNya. Ternyata Prasti tinggal di Jakarta juga setelah menikah. Aku mendapat alamat dan nomor teleponnya dari ibunya di Purwokerto, yang sengaja kami kunjungi untuk menanyakan kabar Prasti. Begitu dapat nomor telepon, aku langsung menghubunginya (pertengahan minggu). Subhanalloh... Sungguh aku tak menyangka, Prasti senang sekali ketika aku menghubunginya. Itu ditunjukkannya dengan mengajak suami dan anaknya datang ke rumah hari Ahadnya. 

Surprise sekali aku dibuatnya. Tak menyangka akan mendapat tanggapan sebaik itu darinya. Rasa rindu setelah sekian lama tidak bertemu kami luapkan dengan saling bercerita masa-masa yang kami lewati setelah lulus kuliah.

Sesuai janji pada diri sendiri dan pada Alloh, pada pertemuan pertama itu, aku meminta maaf pada Prasti atas kesalahan yang aku perbuat pada waktu itu.

“Pras, kamu ingat waktu aku pinjam motormu untuk foto kopi, trus motormu mogok dan aku basah kuyup kehujanan. Sampai di kost aku marah-marah dan tidak mengucapkan terima kasih sama sekali.”

Prasti tersenyum dan berkata,”Ingat Ken.”

“Ingat? Berarti kamu merasakan sesuatu yang tidak enak ya waktu itu.

"Yaahh... Sedikitlaah."

"Tau nggak Pras, selama ini aku merasa bersalah dan ingin minta maaf. Tapi kok ya nggak keucap. Maafin aku, ya Pras. Aku jahat banget sama kamu waktu itu. Harusnya aku minta maaf begitu aku sadar kalau aku salah. Tapi aku malah diam aja sampai kita lulus dan pisahan.”

“Sudahlah, Ken. Aku udah memaafkannya. Aku maklum kenapa kamu kesal. Yang aku kenang tentang kamu bukan peristiwa itu. Banyak hal yang nyenengin selama aku jadi temanmu. Itu cuma bumbu biar ada lebih seru aja.”

“Alhamdulillah... Lega sekali rasanya aku bisa menyampaikan maafku sama kamu. Makasih, ya Pras. Itulah yang aku suka dari kamu. Selalu berusaha mengerti orang lain, walaupun mungkin kamu kecewa, tapi kamu berusaha mengerti."

Obrolan kemudian malah jadi makin ramai (berdua aja ramai, hehehe..). Kami malah saling membuka kalau ternyata sama-sama menjadi secret admire masing-masing, dan sama-sama ingin sekali bertemu untuk menyambung silaturahim. Ternyata oh ternyata... Banyak rahasia persahabatan yang justru baru terungkap setelah bertahun-tahun tak bertemu. Alhamdulillah... Terima kasih Ya Robb. Silaturahim memang indah.

Yang selanjutnya adalah sebuah hubungan indah yang kembali terjalin antara keluargaku dan keluarga Prasti. Kami saling mengunjungi, anak-anak saling mengenal. Banyak hal yang aku ambil dari peristiwa itu. Bahwa aku harus mengantongi egoku, menundukkan kesombonganku, belajar mengakui kesalahan yang aku perbuat dan meringankan hati untuk meminta maaf atas sebuah kesalahan. 


Read more

Cerita ABG: Adrenalin Melambung Tinggi

51 komentar
Bismillahirrohmannirrohiim,

Cerita ABG ku selalu tak lepas dari kisah si sulung, Luthfan Adli Wicaksono. Beberapa teman sudah mengatakan kalau aku bunda yang lebay karena sikapku padanya. Hehehehe...Seperti ketika Luthfan tiga hari ikut LDK di Suka Bumi. Rasanya kangen banget. Tiga hari aja terasa lama.

Nah, sekarang ini malah Luthfan lebih lama lagi pergi. Study tour ke Bali, Bromo, Yogyakarta selama delapan hari. Waktu mau berangkat, udah bermacam cara bunda membelai, memeluk. Luthfan sendiri seperti memahami hal itu, sehingga dia memberi kesempatan untuk bundanya memberikan wejangan, dan mencurahkan sayangnya. He know his mom well.

Ternyata, sesampai di Yogya, Luthfan diminta eyangnya memisahkan diri dari rombongan. Yang seharusnya pulang Jum'at sore, diundur jadi Ahad. Huaaaaa.... Ngerti siih, Eyangnya kangen sama Luthfan, tapi bunda kan juga kangeeen. *tuuh kan dikatain lebay lagi ^_^

Tapi... aku memang harus mengakui. Anak ABG-ku ini memang membuat kangen seisi rumah. Tidak hanya aku, tapi juga ayah dan adik-adiknya. Dia memang bisa diandalkan dalam banyak hal. Terasa sekali kalau dia tidak ada. Kepada bundanya, dia juga pengertian sekali. Dia tau kalau bunda suka melakukan apa terhadapnya, dia seperti menyiapkan dirinya untuk bunda mendekatinya. Entah apa yang ada dalam hatinya, tapi dia selalu memberikan kesempatan itu.

Anak ABG yang satu ini, suka sekali dengan olah raga, terutama yang banyak menguji adrenalinnya. Sebut saja parkour, free run, indobarian, dan lain-lain. Tak pernah memanjakan dirinya untuk berbaring kalau hanya terasa meriang atau pusing. Justru dia akan pergi ke lapangan untuk mengeluarkan keringat, menyalurkan adrenalinnya. Dan biasanya pulang dengan badan yang lebih segar.

Pernah tiga hari Luthfan tidak olah raga, katanya,"Duuh, Bun... Aku butuh detak jantung yang lebih kencang nih. Aku perlu berkeringat, aku mau badminton deh."

Sepertinya, gejolak mudanya butuh penyaluran. Kebiasaan berolah raga membuatnya merasa tak nyaman bila sudah beberapa hari diam. Aku bersyukur, Luthfan menemukan cara untuk menyalurkan gejolaknya dengan berolah raga. Olah raga membuatnya bisa belajar dengan lebih konsentrasi. Olah raga membuatnya bersikap sportif dan bisa menjaga dirinya.

Waktu dia di Nusa Dua Bali kemaren, Anak ABG ini mengirimkan foto waktu dia naik Parasailing. Katanya,"Bundaaaa... Aku bisa terbang melambung tinggi! Aku bisa liat laut dari atas. Aku berdebar-debar, dan tak putus mengucap Allahu Akbar!"

Aaah, nak... Kau memang selalu tak terduga, tapi membuat bangga. Buat bunda, kau memang layak dirindukan. Tangan bunda takkan pernah berhenti membelaimu. Ijinkan bunda merangkai harapan pada masa depanmu.




Artikel ini turut mendukung Gerakan PKK Warung Blogger





Read more

Intuisi dan Pemahaman Masalah Untuk Calon Pemimpin

42 komentar
Bismillahirrahmannirrahiim,

Mempunyai lima anak dengan usia dari 3,5 tahun sampai 17 tahun, rasanya harus diakui kalau hidupku memang penuh warna. Sebentar harus bisa menyelami keluguan di kecil, sebentar harus bisa memahami si sulung dan sambil menjaga perasaan anak-anak yang di antaranya. Menyeimbangkan sikap agar menjadi diterima oleh semua anak, bukanlah hal mudah dan menuntut kesabaran juga keikhlasan. Aku belajar berproses bersama mereka. Karena buatku, belajar itu tidak hanya harus dilakukan oleh anak-anak, tapi juga orang tua, agar semuanya menemukan cara untuk menyelaraskan hubungan kekeluargaan yang nantinya akan kita bawa ke tengah masyarakat.

Karenanya, aku sering mengatakan bahwa pekerjaan menjadi ibu rumah tangga adalah the most chalenging job in the world. Pekerjaan yang amat menantang. Begitu menantangnya, hingga ketika asyik bermain dengan anak-anak, sesungguhnya kita sedang menciptakan sejarah kita sendiri, dan pada saat kita menggendong anak kita dengan penuh kasih sayang, sesungguhnya kita tengah menggendong masa depan kita sendiri.

Kita semua tentu sepakat, bahwa anak adalah cerminan orang tuanya. Sikap dan perilaku orangtua sangat berpengaruh terhadap perkembangan fisik dan kondisi psikologisnya. Mengenai hal ini, sungguh aku belajar dari kesalahan demi kesalahan dan kemudian berusaha memperbaikinya. Inilah yang aku maksud dengan berproses. Karena apa yang ada dalam teori buku-buku sering tidak pas dengan apa yang aku alami dalam keseharian.

Landasan utama dalam mendidik anak agar menjadi pemimpin yang kuat fisik dan ilmunya adalah dengn menanamkan nilai-nilai agama dan keimanan, agar anak mempunyai filter dari pengaruh-pengaruh dari luar. Agar anak bisa membedakan siapa teman yang membawa pengaruh baik atau buruk dalam hidupnya. Nilai-nilai agama juga akan membuat anak menyadari akan tugas dan kewajibannya dalam beribadah dan menuntut ilmu.

Sebagai orangtua, seringkali kita mudah menyalahkan orang lain apabila pada diri anak kita mengalami ketidakberesan atau ketidakseimbangan atau kesalahan. Padahal kalau kita mau melihat pada diri sendiri ada banyak kesalahan yang sering kita lakukan. Dari apa yang aku jalani dan amati selama mendidik anak-anakku, aku menemukan beberapa hal penting yang merupakan kesalahan orang tua dalam mendidik anak, yaitu:

1. Bersikap Over Protektif dan Memanjakan Anak.

Ini adalah sikap orang tua yang selalu ingin mengambil alih semua tugas dan peran anak. Apapun permintaan anak akan dituruti sebab tidak ingin anak bersedih. Orang tua ingin selalu menyenangkan hati anaknya. Baginya kesedihan anak adalah kegagalan orang tua. Sebisa mungkin memfasilitasi semua kebutuhan anak bahkan terkesan berlebihan, dengan tujuan ingin membahagiakan anak. Anak tak boleh terluka fisik dan hatinya.

Sebagai orang tua, kita tak harus selalu menuruti semua kemauan atau keinginan anak-anak. Kita harus bisa mengajarkan kepada anak sebuah usaha untuk mendapatkan sesuatu, agar anak bisa lebih menghargai sebuah hasil. Belajar mewujudkan keinginan adalah belajar bagaimana mengelola situasi dan kondisi yang mendukung atau menghambatnya.

Sikap over protektif dan memanjakan anak ini justru malah membuat anak menjadi tidak percaya diri. Terbiasa dalam kesenangan, tak memahami bahwa dalam hidup ada sisi susahnya. Membuat anak jadi tidak memiliki semangat juang untuk mendapatkan sesuatu, menjadi gampang menyerah, atau tidak strugle. Sedikit saja merasakan ketidaknyamanan, anak akan merasa frustasi. Seorang pemimpin yang baik tidak bisa tumbuh dari jiwa yang frustasi.

Menumbuhkan semangat menabung atau memberikan chalenge kepada anak akan membantunya mewujudkan sebuah impian. Mendorong anak mempunyai impian jangka pendek ataupun jangka panjang akan membuatnya merasa mempunyai tujuan.

Dari hal kecil, aku biasa melakukan ketika anakku ingin membeli mainan baru. Kesempatanku untuk memberikan chalenge untuknya, yaitu dengan mengumpulkan poin kebaikan. Misalnya, anak harus mengumpulkan 50 poin kebaikan (atau jumlah yang disepakati bersama). Tetapkan dulu apa-apa yang harus dilakukan anak untuk mendapatkan poin tersebut. Makan habis, membereskan mainan dan alat tulis, membuka jendela kamar tiap bangun tidur, menabung, dan lain-lain yang semua itu diharapkan akan menjadi perbaikan pada diri anak. Kalau 50 poin sudah penuh, barulah mainan dibelikan. Dengan begitu, anak belajar: menunda keinginan, berusaha untuk mendapatkan kesenangan, lebih apik dalam merawat barangnya, dan perubahan-perubahan ke arah perbaikan.

2. Bersikap Otoriter.

Sikap ini adalah kecenderungan orang tua untuk mengatur dan menguasai anak secara berlebihan, terlalu mencampuri urusan anak, yang mengakibatkan anak tumbuh dengan kepribadian yang lemah dan rentan, terutama pada saat mereka menghadapi masalah atau tekanan dari luar. Anak juga akan sulit beradaptasi dengan lingkungan baru.

Terlalu banyak kata "jangan" yang diucapkan oleh orangtua kepada anaknya. Rasanya anak harus selalu mau mengikuti apa kata orang tua atau harus nurut. Mengatur apa-apa yang harus dikerjakan anak, termasuk mengatur dalam menentukan masa depan anak.

“Itu salah, ini benar,” selalu diucapkan tanpa memberi kesempatan anak belajar dengan berproses. Bagi orang tua, anak harus berhasil lebih baik dari dirinya. Sebagai sebuah pembuktian bahwa orang tua berhasil mendidik anaknya. Kadang menjadi sebuah obsesi yang penuh dengan ambisi orang tua.

Menetapkan target terlalu tinggi dan menuntut anak untuk dapat mencapainya. Hal ini membuat anak menjadi stress, dan bagaikan bom waktu, hal ini bisa meledak suatu hari sebagai wujud berontaknya anak akan tekanan yang dialaminya selama ini.

Kepada anak-anak, aku selalu mengarahkan mereka untuk membuat afirmasi untuk sebuah tujuan. Contohnya ketika anakku hendak menghadapi Ujian Nasional, aku menyerahkan sepenuhnya pada anak target nilai yang ingin mereka raih dan sekolah mana yang hendak menjadi tujuan mereka. Aku tidak ingin, anakku merasa bahwa mereka belajar hanya untuk menuruti keinginan orang tua. Kalau mereka diberi kepercayaan menentukan sendiri nilai dan sekolah tujuan, mereka akan bertanggung jawab dengan pilihannya. Aku berikan support dengan memfasilitasi apa-apa yang menjadi kebutuhan mereka.

3. Bersikap Mengabaikan.

Mengabaikan di sini maksudnya adalah, orang tua yang tidak memberikan motivasi, bimbingan, nasehat kepada anak-anaknya. Anak tumbuh tanpa penghargaan dan sanjungan. Padahal perasaan ingin dihargai itu adalah kebutuhan kita semua temasuk anak-anak. Anak juga memerlukan hadiah atau reward dari usaha-usaha mereka dalam melakukan sesuatu. Semua itu sebagai motivasi mereka untuk melangkah ke masa depannya.

Bersikap mengabaikan juga termasuk tidak memberikan teguran atau peringatan atau bahkan hukuman bila anak melakukan kesalahan. Padahal hal ini perlu untuk mengajarkan anak yang baik dan yang buruk, yang salah dan yang benar. Anak yang tak pernah mendapatkan teguran akan tumbuh semaunya, tidak disiplin dan pembangkang.

Perlu diingat, hukuman dilakukan bila langkah-langkah lain tak berhasil mengubah kebiasaan dan tingkah buruk anak. Lakukan dulu nasehat, anjuran, peringatan dan tak lupa memberi contoh yang baik, barulah beri hukuman bila semua itu sudah tidak mempan.

Karena anakku banyak, sudah tentu akan sering terjadi gesekan-gesekan diantara mereka. Bila ada pertengkaran diantara mereka, aku biasa mengumpulkan mereka dan meminta mereka mengemukakan pendapatnya. Setelah ditemukan benang merahnya, barulah nasehat diberikan. Biasanya anak-anak akan lebih bisa menerima hal ini dibandingkan bila aku memarahi mereka seketika saat ada masalah. Karena ternyata masing-masing mereka punya alasan mengapa mereka berbuat begitu dan mendengarkan alasan mereka membuat mereka merasa dihargai.

4. Sikap Lemah dan Tidak Punya Pendirian.

Orang tua yang tidak punya pendirian sering tidak konsisten pada apa yang dikatakan atau apa yang menjadi peraturan yang dibuatnya sendiri. Kadang orang tua memarahi bila anak mengerjakan sesuatu dan di waktu yang lain memujinya untuk hal yang sama. Atau, orang tua melakukan sesuatu, tapi anak tidak boleh. Contohnya, anak tidak boleh nonton tv dan disuruh belajar, tapi orang tua malah menyalakan tv dan duduk santai menontonnya. Contoh lain, meminta anak untuk mebuang sampah pada tempatnya, tapi orang tua membuang sampah sembarangan.

Padahal anak sebagai calon pemimpin yang bijaksana perlu diajarkan bagaimana menegakkan kebenaran dan mau mengakui kesalahan. Untuk itu, anak perlu mendapat ketegasan sikap dan contoh yang baik, agar anak tidak menjadi ragu-ragu atau bahkan menganggap remeh orang tuanya. Sebuah aturan yang sudah disepakati bersama harus ditegakkan bila memang ada yang melanggarnya. Menjadi teladan yang baik bagi anak-anak adalah sebuah keharusan. Orang tua juga harus mau mengakui kesalahan dan minta maaf kepada anak. Dengan begitu, anak belajar menghargai dan mematuhi aturan.

Anak-anak cukup kritis memperhatikan dan bahkan memprotes ketidakkonsistenan orang tua. Sayangnya tidak semua anak mampu mengungkapkannya. Sebagian dari mereka hanya memendam kekecewaan dan memperlihatkannya dalam sebuah sikap yang melawan.

5. Sikap Pilih Kasih

Terlalu memberikan keistimewaan kepada salah satu anak akan menimbulkan kecemburuan dari anak yang lain. Merasa tersisih dari saudaranya bisa menimbulkan rasa dendam dan sakit hati. Orang tua tidak boleh pilih kasih dan harus bersikap adil kepada anak. Dalam mencurahkan kasih sayang dan perhatian harus sama. Dalam memuji dan menegur juga harus seimbang. Menjadi pemimpin yang adil di kemudian hari, anak sejak dini harus berada dalam suasana yang seimbang dalam hubungan persaudaraannya.

Rasulullah saw bersabda,”Bertakwalah kepada Alloh dan bersikap adillah kepada anak-anakmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bersikap adil bukan berarti selalu memberikan apapun dalam jumlah yang sama, melainkan disesuaikan dengan usia dn kebutuhan anak. Anak usia 17 tahun tentunya berbeda kebutuhannya dengan anak berumur 4 tahun. Maka dalam memberikan uang saku atau pemenuhan kebutuhannya juga harus berbeda. Anak harus diberikan pemahaman akan konsep adil yang sebenarnya. Tidak mungkin bisa disamakan uang saku untuk anak sulungku yang sudah kelas XII dengan anak bungsuku yang masih Play Group.

Itulah kesalahan-kesalahan orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Lebih khususnya, seorang ibu amat berperan penting di dalam tumbuh kembang anaknya. Semua itu membutuhkan kesadaran dari ibu atau orang tua untuk mau berubah dan memperbaiki diri agar anak-anaknya bisa menjadi generasi yang penuh rasa optimis dan percaya diri menyambut masa depannya. Anak yang tumbuh dengan rasa percaya diri, mandiri, berani, imajinatif, aktif, pandai bersosialisasi, kelak akan menjadi pemimpin yang sehat dan pintar jasmani dan rohani.

Satu hal yang perlu diingat:
Mendidik anak yang kita harapkan bisa menjadi calon pemimpin yang sehat dan pintar, tidaklah membutuhkan segudang teori, tetapi memerlukan intuisi dan pemahaman masalah. 





Read more