Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

0 komentar



Foto koleksi pribadi

Memang miris sekali dengan berita dan kenyataan yang terjadi akhir-akhir ini. Tawuran antar kampung, mahasiswa dan pelajar semakin marak. Kekerasan semakin meningkat. Entah apa yang ada di dalam pikiran mereka kala itu, sehingga bisa sebegitu beringasnya. Tak kenal lagi rasa kemanusiaan. Tak lagi mengenali dirinya sendiri. Semua terbawa pengaruh emosi massa. Menghilangkan nyawa orang, bagai semudah mengayunkan tangan. Astagfirullah...

Dalam hati saya berkata dan berandai-andai. Yang akhirnya menjadi sebuah harapan besar, semoga tawuran tak lagi dianggap menjadi penyelesaian masalah. Sebab bukannya masalah akan selesai, tapi akan muncul masalah-masalah yang lebih besar lagi. Saya bukan ingin mengorek-ngorek kekurangan pemerintah dalam mengayomi rakyatnya secara lahir dan batin. Sebab...bila hanya saling menuding ini kesalaahn siapa, masalah tawuran tidak akan selesai. Malah hanya akan menjadi perdebatan panjang yang tak ada solusinya. 

Menurut saya, ada dua hal yang harus dibenahi untuk mencegah dan menanggulangi tawuran ini. Yaitu:

1. Dari dalam rumah/keluarga

Sebagai seorang ibu yang mempunyai anak usia 16 tahun, saya sudah pasti amat resah dengan tradisi tawuran. Anak Sulung saya, Luthfan, yang kelas XI SMA (kelas 2 SMA), sering bercerita tentang teman-temannya baik yang satu sekolah ataupun yang tidak, bahwa mereka tawuran. Alasannya kadang sepele, seperti hanya karena ledek-ledekan di Twitter, serempetan motor di jalan, atau masalah sepele lainnya. 

Pernah suatu hari, Luthfan pulang sekolah dengan beberapa temannya. Tumben, pikir saya kala itu. Biasanya teman-teman Luthfan main ke rumah pada hari Jum'at. Karena Sabtu libur, sering mereka main kerumah dulu sepulang sholat Jum'at. Kalau tidak salah itu hari Rabu. Terlihat buru-buru, Luthfan minta ijin mau main Futsal. Seperinya dia mengerti keheranan bundanya, Rabu bukan hari olahraganya. Lantas dia duduk menjelaskan,

"Bunda, aku futsal hari ini memang mendadak. Tidak ada rencana sebelumnya." 

"Memangnya mau ada pertandingan?" tanyaku

"Bukan bunda, aku menghindar diajak tawuran. Tadi teman-teman di sekolah sudah pada panas mau membalas serangan SMA .... Aku ngga mau ah... Ngapain...! Rugi-rugi amat ikut yang begituan. Jadi aku tadi langsung ajak teman-teman yang lain buat futsal aja. Bilang kalau udah sewa lapangan." Luthfan menjelaskan dengan emosi yang naik-turun.

"Terus teman-teman yang mengajak tawuran itu ngatain apa sama kamu?" seraya yakin bahwa anakku sempat mengalami penekanan dari temannya

"Iya jelaslah dikata-katain bun... katanya aku ngga solid, cemen, ngga perduli sama masalah teman... pokoknya macam-macamlah... aahh...! Biarin aja dikatain apa juga... Aku ngga mau babak belur sia-sia, apalagi kalau sampai mati sia-sia. Mendingan futsal aja deh...!" Sahut Luthfan.

"Alhamdulillah, mas Luthfan bisa mengambil sikap yang baik dan benar. Bunda bangga. Pergialh futsal nak", kucium keningnya saat dia cium tanganku untuk berpamitan.

Lega sekali melihat sikap Luthfan itu. Prinsip, keimanan dan  keyakinan. Itu yang ingin saya tekankan. Di rumah, anak-anak adalah tanggung jawab orang tua. Kita harus bisa menanamkan nilai-nilai agama dengan baik. Agama Islam itu tidak sekedar bisa baca Alqur'an, mengaji membaca dan menulis saja. Islam juga bukan agama sholat. Bisa ngaji, bisa sholat... berarti sudah baik. Sering anak-anak hanya melakukannya sebagai hal yang menggugurkan kewajiban saja. Tanpa memahami arti dan makna ibadah yang dikerjakannya.

Anak-anak sering tidak mempunyai filter yang bisa menyaring pengaruh buruk dari luar. Sekalipun mereka sholat, mengaji, tapi mereka tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sehingga yang kelihatan seru, yang kelihatan indah, yang sedang menjadi trend, diikuti tanpa bisa memilah ini baik ataupun ini buruk. Untuk bisa mempunyai filter itu, maka pendidikan agama harus kita perdalam dengan pemahaman isi Alqur'an dan meningkatkan akhlak. Tidak melulu dengan hukuman atas kesalahan. Kalau dasar keimanan kuat, pengaruh negatif bisa tersaring dengan sendirinya. Hati anak-anak akan menolak dengan sendirinya.

Maka menjadi sebuah keharusan, sebagai orang tua kita memberi contoh yang baik kepada anak. Selalu menyempatkan memberi belaian kepada anak, tidak bertengkar dengan pasangan di depan anak-anak, tidak sekedar melarang tapi kita sendiri melanggar. Suasana rumah yang tenang, tentu saja akan menimbulkan rasa tenang juga buat anak-anak. Membuat mereka betah dan memilih pulang ke rumah sepulang sekolah dari pada tongkrongan tidak jelas di luar rumah.

Berusahalah menjadi teman buat anak-anak, juga teman anak-anak kita. Kenali dengan siapa anak-anak bergaul akrab. Kalau mereka main ke rumah, ajari teman anak-anak mengikuti aturan yang berlaku di rumah kita. Jadi, main boleh, bercanda silahkan, rumah berantakan tak apa, menyediakan konsumsi tak masalah... asal ikut aturan yang ada dirumah. Seperti No Smoking Area (anak SMA kalau ngumpul kan seringanya saling mengenalkan sesuatu yang baru buat temannya), waktunya sholat ya sholat, berinternet sehat, main game/PS tidak dengan game yang saya dan ayahnya larang untuk dimainkan dan aturan lainnya. Jadi bukannya anak kita yang ikut-ikutan, tapi mereka yang ikut aturan. Alhamdulillah, sampai saat ini rumah saya selalu ramai dengan remaja-remaja putih abu-abu dan putih biru. Walau ada aturan-aturan itu. Bukti bahwa anak-anak itu tergantung bagaimana kita mengarahkannya.

2. Dari luar rumah

Dari pihak sekolah juga harus melakukan tindakan pencegahan dan penanggulangan terhadap maraknya tawuran ini. Seperti lebih mengoptimalkan kegiatan ekstra kulikuler. Jadi kegiatan-kegiatan itu tidak sekedar diikuti anak-anak pelajar sebagai rutinitas yang membosankan. Tetapi bisa menambah prestasi yang bisa membanggakan bagi pelajar. 

Keakraban guru dan murid lebih ditingkatkan. Guru adalah orang tua murid di sekolah. Maka sudah sepantasnya sebagai orang tua guru-guru mendekat kepada murid-muridnya dalam arti membuat murid-murid nyaman dengan gurunya. Sama seperti di rumah, suasana nyaman di sekolah, membuat murid-murid mencintai lingkungan sekolahnya dengan tenang. 

Mengadakan pembahasan mengenai hukum dan sanksi dari tawuran itu. Sekolah bisa bekerja sama dengan jajaran terkait untuk melakukannya. Dengan mengetahui hukum dan sanksi tawuran itu, diharapkan pelajar akan berpikir lebih jauh jika ada hasutan untuk tawuran.

Bisa juga dengan mengadakan kegiatan bersama antar sekolah, atau kegiatan persahabatan. Sehingga akan terjalin hubungan baik antar sesama pelajar dari sekolah-sekolah yang tergabung di dalamnya. Tak kenal maka tak sayang. Dengan mengenal teman-teman dari sekolah lain dalam sebuah kegiatan persahabatan, diharapkan akan menumbuhkan keakraban sesama mereka.


Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bersatu:



Indonesia Bersatu



Posting Komentar

Tulislah Komentar Anda Dengan Santun