Aroma Yang Menggetarkan Hati

32 komentar
Bismillahirrahmannirrahiim,

Sesederhana apapun kenangan itu, bila kita mengikatnya di dalam ingatan, akan mampu membuat getaran-getaran halus berdesiran di dalam hati. Melihat anak-anak bertumbuh seolah tak ingin menoleh ke belakang. Rasanya hanya ingin maju melangkah bersama mereka. Menapaki langkah demi langkah mengiringi jalan mereka menuju masa depan.

Namun tetap saja ada yang bermain di dalam hati saat menyadari bahwa mereka tak lagi bisa aku ayunkan dalam gendonganku. Shalawat dan lantunan beberapa ayat suci yang menjadi senandung lullaby mereka kini telah mampu mereka lantunkan sendiri. Satu per satu anak-anak beranjak tinggi, menyisakan banyak kenangan dari sejak mereka bayi sampai saat ini. Tanganku tak lagi menimang mereka. Cepat sekali waktu berlalu meninggalkan masa-masa di saat mereka selalu lekat dalam gendonganku.

Sebagian dari kenangan masa bayi anak-anakku sering bangkit dalam ingatan karena sebuah aroma. Aroma khas yang amat aku suka. Lekat pada kulit halus dan lembut bayi-bayiku. Karena aroma itulah kadang aku bertingkah "aneh". Aneh gimana? Seperti cerita ini.

Ba’da Ashar aku meluncurkan Varioku ke rumah temanku yang seminggu lalu baru saja melahirkan. Aku harus bergegas dan berusaha sampai di rumahnya sebelum jam 16.00. Sebelumnya aku sudah mengabarkan tentang rencanaku berkunjung.

Niken : "Tunggu aku ya, jangan mulai dulu sebelum aku datang."

Yanti : "Oke, tapi jangan kesorean ya. Jam empat aja."

Niken : "Insya Alloh, siaaaap...!"

Syukurlah aku belum terlambat, sampai rumah temanku beberapa saat sebelum hal yang ingin aku saksikan dimulai. Saat aku sampai dia sedang mempersiapkan kebutuhan bayinya.

Tidak kok, temanku tidak sedang mengadakan acara di rumahnya. Jadi apa yang ingin aku saksikan sampai berpesan khusus begitu? Sepele sebetulnya. Aku ingin melihatnya memandikan bayi mungilnya yang baru berumur satu minggu itu. Aku ingin melihatnya membasuh kulit lembut dan halus itu. Usapan-usapan tangan Yanti pada kulit bayinya begitu sepenuh hati. Memancarkan kasih sayang seorang ibu. Aku bagai de javu melihatnya. Kemudian... deg... inilah yang membuatku ingin melihat momen itu. Aroma khas yang selalu melambungkan kenangan pada bayi-bayiku dulu. Aroma minyak telon dan bedak bayi. Aroma keduanya sungguh membuatku seperti ada pada masa saat aku mengusap bayi-bayiku.

Aku yakin, waktu itu wajahku menatap takjub pada keindahan ciptaan Allah. Geliat-geliat bayi mungil itu begitu pasrah pada usapan ibunya. "Allahu Akbar, Ya Rabb... Sekalipun Kau sudah memberi aku kesempatan 5 kali untuk mengagumi ciptaanMu, aku masih saja takjub dengan apa yang aku lihat.




Hhhhmmm... Aku hirup wangi semerbak itu dalam-dalam. Segar sekali. Seketika kenangan usapan tanganku pada Luthfan, Astri, Hilman, Fanni dan Kayla bergantian muncul dalam ingatan. Melihat Yanti mengusap lembut dengan memberi pijatan-pijatan ringan pada bayinya, betul-betul menggetarkan hatiku. Hhhmmmm... Sungguh segar dan wangi. Khas sekali.  Geliat sang bayi, aroma minyak telon dan bedak bayi, membuatku makin mengagungkan namaMu.

Aku hanya menyaksikan Yanti menyelesaikan tugasnya pada sang bayi, sambil menikmati aroma yang sudah membuat hati dan ingatanku mundur ke masa lalu. Yanti membedong bayinya dengan rapi. Setelah itu barulah aku menggendongnya. Menciumi tubuh wangi dan segar berbalut bedongan itu. Matanya terpejam, tapi kelihatannya dia mencari ASI. Aiiih... Lucunya. Menggemaskan sekali.

Begitulah, aroma kenangan itu sering membuatku berusaha mengunjungi bayi saat dimandikan. Kadang kalau sedang melewati perkampungan dan mencium ada aroma minyak telon dan bedak bayi, aku hirup dalam-dalam. Otomatis sekelebatan kenangan masa bayi anak-anakku akan muncul.

Hhhmmmm... wangi dan segar...!


Tebak, foto ayah dengan siapa?





32 komentar:

  1. aih mbak Niken,, bikin hati ini pun di buat rindu..
    iya aroma mereka khas sekali.. wangi dan segar..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener kan ya Ummu, wangi bayi itu membuat damai :)

      Hapus
  2. Jadi inget saat kecilnya Devon, tentang pengalamanku merawat dev waktu kecil yg sedang ditulis....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ampun deh kalo GAku gak bakal menang kalo mbak Niken sdh turun gunung

      Hapus
    2. Oh yaa...? Bener ya, cerita Dev nya ditunggu.

      Turun gunung? Lha aku aja baru nongol dari laut :D
      Jiaan, panen kok di taman orang.
      Sini sakuranya taoh di sini, biar Little Garden makin Lovely. hehehe.

      Hapus
    3. sakjane mb niken soko gunung opo laut to mb.. *haiiyyaah nglantur :D

      Suksess GAnya mb niken :))

      Hapus
    4. Aku dari taman kecil ini, mbak Enny. Wkwkwk...

      Hapus
  3. Hehehe...aroma spt itu memang wangi dan menyegarkan ya mbak Niken. Saat ini aku masih menikmati aroma spt itu setiap hari. Maklum saja, si bungsu baru 2thn...#pengin ikutan GA-nya Kaka Akin tp belum nemu ide hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. 2 tahun masih suka pakai minyak telon ya.
      Hhmmm, wangi dan segar ya...

      Hapus
  4. Wow saya juga suka sekali aroma bayi .... ngangeni dan menggemaskan. Moga menang ya mbak, saya juga ikutan ini, baru posting tadi

    *promo hehehe*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Langsung mengendus aroma di blog hijau mbak Niar :D

      Hapus
  5. bau bayi memang enak, buu *hmmm*
    alhamdulillah anak saya yg bungsu umur 3 tahun kurang masih bau bayi, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. 3 tahun masih bau bayi? Udah campur keringat kecutnya ya. Itu juga aroma tersendiri.

      Hapus
  6. walaah, jadi keinget masa kecil, laris dicium sana sini, hihih ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi, pasti mbak Damae menggemaskan, sampai di cium sana sini

      Hapus
  7. Aroma anak bayi...jadi semakin kangen, pingin bayi

    BalasHapus
  8. keponakan saya yang masih 2 tahun baunya juga enak mbak setelah siap mandi, di kasih minyak telon dan bedak,,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, iya... kebayang segarnya kalau anak2 habis mandi.

      Hapus
  9. aroma anak kecil itu enak banget ya mbak apalagi bayi jhas banget harumnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget tuh mbak Lidya. Meskipun bercampur keringet tetep saja membuat rindu.

      Hapus
  10. Semua punya kenangan dengan aroma ya jeng
    Ada yang sedih,gembira,lucu,dll
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya pakde. Banyak sekali ternyata aroma yang membangkitkan kenangan.

      Salam kembali.

      Hapus
  11. Aroma bayi, memang membuat rindu pada bayi mungil kita yg sdh tdk bayi lagi #menerawang#

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang aroma mereka sudah sama seperti bundanya. Kecut. hehehe.

      Hapus
  12. uwah,saya juga sukaaa bgt sama aroma baby...aplge yg umur baru lahir itu harummmm,,segerrr banget kl habis mandi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. tuh kan..tuh kan... beneran aroma bayi itu membuat hati tenag dan damai :)

      Hapus
  13. nek minyak telone noofa merknya my baby yang plus mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu juga ga pakai merk itu jane. Tapi pokoknya semua minyak telon aromanya khas.

      Hapus
  14. Ya, saya juga sangat mencintai anak-anak saya. Semenjak lahir, semua yang ada pada bayi baik yamng kita lihat maupun kita rasakan, memiliki daya tarik tersendiri yang mendatangkan rasa cinta kita untuk merawat, mengayomi, membesarkan dan mengantarkannya menuju kehidupan yang lebih baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas Pakies, anak-anak dengan khasnya masing-masing menumbuhkan rasa sayang yang dalam.

      Hapus
  15. Judulnya bagus, seperti slogan peralatan bayi hihihi ^^
    Aroma bayi emang khas ya Mbak, pantes bikin gemes dan pengen nyium.. ^,^

    BalasHapus

Tulislah Komentar Anda Dengan Santun