Sahabat Yang Allah Ciptakan Untukku

2 komentar
Bismillahirrahmannirrahiim,



Mana bisa aku tak menyebut namamu saat aku ditanya siapa sahabatku? Kita sudah melewati banyak kisah. Kadang kita jatuh bersama, namun tangan kita tetap saling menggenggam, hingga kita bisa saling menguatkan untuk kembali bangkit dari kejatuhan. Kita juga sering tergelak tawa saat merasa berhasil memperjuangkan sebuah jalan baru yang akan membawa kita pada keindahan.

Adalah dirimu, cantikku, yang begitu sabar dan mengerti menghadapi aku. Mungkin aku pernah menyinggung perasaanmu, tapi kau begitu bijaksana tetap menyunggingkan senyumanmu padaku. Membuatku menyudutkan diriku sendiri, malu, begitu ikhlas dirimu menerimaku. Dalam hati aku menguatkan kata, aku akan lebih halus dalam bertutur. Mungkin tak bisa selembut dirimu, namun akan kuperlihatkan dari sikapku.



Duduk melingkar bersamamu dalam beberapa masa ini, menjalinkan sebuah pemahaman baru akan makna kehidupan. Apa yang selama ini tak pernah terbayangkan oleh kita, menjadi sebuah kekuatan yang menakjubkan. Kita belajar. Kita mencerna. Kita memahami. Kita meyakini. Kita mengimani. Kadang dengan air mata berlinang, menyadari kesalahan demi kesalahan yang membuat kita menyia-nyiakan hidup. Kadang kita menertawakan diri kita sendiri atas kebodohan yang ada pada diri kita.

Bersyukur kita masih bisa ditunjukkan akan kedangkalan ilmu kita. Kita dibukakan kesempatan untuk memperbaiki keimanan kita. Entah berapa kali bibir kita berucap syukur yang sama akan jalan yang ditunjukkan Allah pada kita. Meski banyak yang memandang sebelah mata pada langkah kita, kau dan aku tetap bergenggaman tangan saling menguatkan.

Manisku, tetaplah di sampingku menapaki jalan yang Allah bukakan untuk kita. Kita dipertemukan dengan orang-orang yang begitu tulus membagi ilmunya, mengisi kedangkalan yang ada pada kita. Segalanya mungkin bagi Allah. Hingga kita tak lagi terbata-bata dan meraba-raba. Semua menjadi jelas, kemana arahnya. Bukankah itu indah?

Tak perlu berpanjang-panjang kalimat untuk menyatakan makna persahabatan kita. Semua sudah terangkai dalam perjalanan panjang yang kita lalui bersama. Teruji oleh begitu banyak problema hidup. Kita tahu dimana batas yang harus kita campuri, mana yang tidak. Sepertinya kau yang mengajari aku akan hal ini. Aku begitu percaya bahwa ajakanmu adalah sebuah kebaikan. Berapa kali ya kau membawaku kepada sebuah momentum yang kemudian menjadi sebuah kekuatan. Bagiku, kau adalah sahabat yang Allah ciptakan untukku. Maka apa yang sudah Allah tetapkan, akan aku jaga sepenuh hati.

Ah... Aku menitikkan air mata. Bukan sebuah kesedihan, melainkan rasa syukur aku memilikimu. Aku tak pernah merasakan keindahan dalam bersahabat seperti denganmu. Sungguh Renati Utami, saat Allah kita sertakan dalam sebuah hubungan, ternyata tak ada yang mampu meruntuhkannya. Terima kasih untuk semua kasih sayangmu buatku dan keluargaku. Anna uhibbuki fillah.


“Tulisan ini diikut sertakan dalam GA “Siapa Sahabatmu?” pada blog senyumsyukurbahagia.blogspot.com, hidup bahagia dengan Senyum dan Syukur”






2 komentar:

  1. Cerita yang mengharukan mbak, memang kalo sudah tak lagi bersama baru terasa kehilangan sahabat sejati.. :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kami masih halaqah bersama kok mas. Masih bersahabat sampai sekarang.

      Hapus

Tulislah Komentar Anda Dengan Santun