Sidang Tilang

55 komentar
Bismillahirrahmannirrahiim.

Peristiwa ini dialami Luthfan (sulungku) dan suamiku. Suatu pagi, suamiku terpaksa minta  Luthfan untuk mengantar ke halte busway terdekat, karena sehari sebelumnya kendaraannya terpaksa ditinggal di kantor karena suatu hal.

Masih pagi dan jaraknya dekat saja, begitu pikir suami, maka yang memakai helm hanya Luthfan. #kesalahan pertama.

Supaya cepat, yang mengendarai motor adalah Luthfan. Jadi begitu sampai, ayahnya langsung turun dan Luthfan langsung melaju pulang. #kesalahan kedua sebab Luthfan belum punya SIM.

Rupanya sedang sial, pagi itu ada polisi berjaga di putaran jalan yang mereka lalui. Sudah dapat ditebak, mereka diberhentikan oleh polisi tersebut. Setelah menyapa dan meminta surat-surat, segera pak polisi menyatakan bahwa mereka bersalah karena mengendara tanpa SIM dan yang membonceng tidak memakai helm. Tilang. Itu kesepakatan yang kemudian diambil pak polisi dan suami. Karena pengemudinya Luthfan, sudah barang tentu yang ditilang adalah Luthfan.

Suami sengaja meminta tilang, dengan maksud mengajarkan kepada Luthfan agar tidak melakukan hal yang tidak benar. Juga supaya Luthfan belajar bagaimana proses sidang tilang berlangsung. Belajar bertanggung jawab atas sebuah kesalahan yang dibuat. Pada awalnya Luthfan begitu cemas akan bayangan sidang yang akan dihadapinya. Tapi karena ayahnya berjanji akan mengambil cuti untuk menemaninya saat jadwal sidang, maka kemudian Luthfan menjadi lebih tenang.

Sampailah hari yang ditunggu tiba. Ayah menemani Luthfan menuju Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Suasana ramai sekali. Bayangan sidang massal pun terlihat. Sambil menunggu panggilan, mereka duduk bersama para calon terdakwa (kesannya kok kayak apa aja ya...). Nah, ada kejadian menarik ketika menunggu ini. Ayah didekati oleh seorang pria. Sepertinya dia juga sama sedang menunggu panggilan sidang.

"Bapak sedang nunggu sidang ya?"
"Iya."
"Kayaknya susah deh pak di dalam. Ribet urusannya."
"Ribet gimana?"
"Bertele-tele, sama habis banyak. Saya minta tolong teman saya aja deh buat cabut perkara."
"Cabut perkara gimana maksudnya?"
"Ya supaya nggak usah ikut sidang gitu pak."
"Memangnya bisa?"
"Bisa pak, kalau bapak mau lewat teman saya aja. Salah bapak apa?"
"Nggak ada SIM sama helm"
"Oh, kalau segitu cabut perkaranya 150.000, di dalam lebih mahal lho pak."
"Ah, sudah sampai sini, saya ikut sidangnya aja deh, sambil buat pelajaran anak saya, seperti apa sidang tilang itu."
"Tapi bapak nanti habis banyak."
"Biarlah, hadepin aja deh. Pengen tau saya."

Pria itu kemudian pergi meninggalkan ayah. Sejak awal ayah memang sudah melihat gelagat kalao pria itu adalah calo atau makelar kasus/perkara. Pikir ayah, kalau memang nggak mau sidang sejak awal saja "damai" di jalan. Sudah sampai pengadilan, sudah antri, ngapain pakai calo? Berapa mahalnya sih denda atas kesalahan itu? Apalagi melakukan hal itu di depan Luthfan. Oh, tidak! Itulah yang dipikirkan suami.

Tibalah waktunya nama Luthfan dipanggil memasuki ruangan sidang. Ternyata memang sidang massal. Ruang sidang penuh dengan para terdakwa. Hakim memanggil nama-nama dengan denda yang dikenakan. Misalnya:

"Yang dendanya 50.000: Anto, Yudi, Santi, dst"
"Yang dendanya 75.000: Luthfan, Andi, Badu, dst"

Denda yang dikenakan pada Luthfan adalah 75.000 rupiah saja. Tidak semahal yang disebutkan oleh pria itu. Luthfan pun mendapat pengalaman baru. Ternyata tidak seperti yang dicemaskannya. Ayah juga lega, tidak tertarik oleh bujukan calo untuk cabut perkara.

Tulisan ini dikutsertakan dalam GA Kinzihana




55 komentar:

  1. aku dulu sblm punya sim kena tilang melanggar jalan melalui forboden di johar.. haha

    damaiii.. 30rupiah saja.. polisine lucuuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... beres ya Noorma. Lucu piye?

      Hapus
  2. Sikap yang bagus
    Mereka yang pura-pura atau bergaya menolong malah menodong, iya kan jeng.
    walaupun saya aparat tapi surat2 lengkap bho.]
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya begitu pakde. Modusnya memang negitu. Seolah2 dia juga melakukan cabut perkara itu.

      Salam kembali

      Hapus
  3. bagus juga, tapi mungkin lebih bagus lagi kalo nunggu luthfan punya SIM dulu kali ya sebelum ngendarai motor... Salam kenal Bunda.. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal kembali. Memang sebaiknya begitu.

      Hapus
  4. calo ada dimana2 ya bun...hadeuh sampe bikin sim juga gitu...ini menjadi pelajaran juga untuk luthfan, sukses GA nya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya Tia, dimana2 ada calo. Bingung juga jadinya :)

      Hapus
  5. Calonya pinter ngebujuk yah... untung nggak tergoda..

    BalasHapus
  6. memang benar, kalau syarat tidak lengkap lebih baik tidak berkendara. saya paling sebel sama pengendara motor yang ngebut dan tak pakai helm pula! huh! rasanya pengen tak lempar minyak jengkol deh! Tapi lebih dari itu, memang ada praktik calo dalam pertilangan. Cari duit gampang aja ga peduli halal haram. ga berkah tau. Cari duit halal emang berat, tapi ga gitu juga kali.

    Saya juga pernah kena tilang, tapi rahasia aja ahhhh--

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya pak... jangan marah-marah disini pak. Takut saya. :D

      Kenapa tuh dihasiain cerita tilangnya. Jangan-jangan....

      Hapus
  7. Tilang? sudah seriiiing :D tapi kemarin iseng pengen sidang ajah, tunggu ceritanyaaa maaak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya aah, mau tunggu cerita mak Fenny soal sidang.

      Hapus
  8. Owh ternyata ya, ada sidang masala Mak.. hihi seru

    tapi untung Lutfan selalu beruntung karena dikelilingi mama dan ayahnya yang selalu menempuh jalan lurus. SUka dengan pola asuh mbak niken (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Idem Mba Hana, aku juga suka pengajaran Bunda Niken dan suaminya kepada anak-anaknya. Happy mereka ya...

      Aku pernah didenda 60.000 bunda Niken. Satu karena tidak memiliki SIM, dua karena STNK mati, tiga karena Plat Nomer tidak standar. Itu lewat jalan damai, karena ngebayangin sidang, ribet plus buta Yogyakarta waktu itu, hehee...

      Salam
      Astin

      Hapus
    2. Mak Hana: Ya bgitu itu pengalaman sidangnya.
      Sebisa mungkin memberi contoh baik buat anak-anak. Walau diakui kadang keceplosan juga. hehehhe.

      Mbak Astin: Biasa aja kok mbak. Kami juga tetap banyak salah sama anak-anak.

      Hapus
  9. kalo saya mah mending melengkapi semua perangkat keselamatan dan surat2 untuk berkendara,mungkin kudu di biasakan karena itu untuk keselamatan kita sendiri,walaupun sedang terburu-buru...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya maaaas, ini memang salah. Makanya mengaku salah dengan mengikuti sidang.

      Hapus
  10. Memang kedua Ortunya Luthfan adalah orang yang bijaksana
    Salut mbak, tapi sekarang Luthfan sudah punya SIM kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih buat salutnya.
      Luthfan 30 juni ini baru 17 tahun. Segera buat SIM deh :D

      Hapus
  11. Pengalaman berharga buat Luthfan ya mba...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Santi, berharga sekali buat Luthfan

      Hapus
  12. ooh, gini ya bund proses tilang yang sebenarnya...

    menarik, makelar pekara itu memang orang dalam (pengadilan) ato bukan bund?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya bukan deh mas, tapi ya nggak tau juga berhubungan dengan siapa dia nantinya.

      Hapus
  13. sidang tilang itu gak kaya sidang2 lainnya, cuma duduk jejer-jejer, trus diumumin kena tilang berapa..hihihi...
    tapi nunggunya itu sih yg bikin keringetan, apalagi yg belum pernah sidang tilang

    salam :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul tuh. Panas dan keringetan saking banyaknya orang.

      Salam kembali

      Hapus
  14. Ibu saya sering kena tilang mb Niken, namun juga sering lolosnya gara2 polisi kasian sama beliau yg sudah lanjut usia hehehe... Namun bila harus sidang ya aku atau kakakku yang pergi ke pengadilan. Betul itu, tidak usah pakai calo-caloan segala, denda tilangnya tak seberapa kok.

    sukses GA nya ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ibu sudah lanjut usia masih mengemudi sendiri? Berani juga ya. :)

      Mulai dari diri sendiri untuk tidak memakai calo.

      Hapus
  15. Sukses wat GA-nya ya Bun! Maap lom sempet nulis wat GA Menyemai Cintanya Bunda... ;-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Eksak, ditunggu ya tulisannya.

      Hapus
  16. Salut untuk Ayah, walau awalnya memang salah tapi tetap bisa memberikan pengalaman berharga bagi putranya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belajar mengakui kesalahan ya mbak Lina :)

      Hapus
  17. lebih murah mengikuti prosedur ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak Lidya, rasanya sih dimana2 begitu ya :)

      Hapus
  18. untungnya waktu itu aku dianter luthfan gak kena tilang ya bund. kan pada gak pake helm... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehee... iya ya mas Ridwan. Salah lagi tuh ga pakai helm.

      Hapus
  19. iya kak, kadang calo-nya malah bekerjasama dengan polisinya. Sebenernya justru lebih murah jika mau ikut sidang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah, mereka cuma menakut-nakuti saja ya.

      Hapus
  20. Hmm.. alhamdulillah saya belum pernah kena tilang Mbak..
    semoga dapat memberi pelajaran bagi yang belum berpengalaman menghadapi masalah ini..
    Makasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bersyukur deh belum pernah ditilang, memang kita harus aman berkendaraan ya mas Wahyu :)

      Hapus
  21. ternyata keputusan sidang tilang lebih murah ya drpd bayar denda langsung, cuma kadang2 malas aja urusan dengan sidang, lumayan menyita waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang sih untuk sidang kita harus menyediakan waktu khusus.Ini yang sering males dilakukan orang.

      Hapus
  22. Kalau saya sengaja ditelatin Mbak supaya gak ikut sidang. Justru kalau telat begitu tinggal nunggu namanya dipanggil hihi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oooh, ada cara lain rupanya... qiqiqi..

      Hapus
  23. Ajaran keluarga Bunda bagus ya, Salut sama sikap Ayah.... banyak hikmah yg bs di petik dr cerita ini.... Terima Kasih sudah di share.... :)

    Sukses ya Bunda untuk GAnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mas Awan. Sukses juga buat dirimu.

      Hapus
  24. Pembelajaran yang bagus, bund.. Baik buat orang tua atau anak.. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener. Sebagai orang tua, kami juga salah mengijinkan Luthfan bermotor2an tanpa SIM

      Hapus
  25. Pembelajaran yang bagus ini.. alhamdulillah, saya belum pernah kena.. semoga tidak deh.. :)

    BalasHapus
  26. keren mba :)
    suami jg pernah nyoba sidang.. engga ribet tapi lamanyaaaaaa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, beneerrrr. Nggak ribet tapi lama dan puanaass :D

      Hapus
  27. ternyata ada calo juga ya? baru tau nih

    BalasHapus

Tulislah Komentar Anda Dengan Santun