Bersama Suami dan Anak-anakku

48 komentar
Bismillahirrahmannirrahiim,


Masuk ke kamar anak perempuanku, Astri dan Fanni, sejenak kupandangi wajah lelap keduanya. Aku naik ke tempat tidur mengambil posisi di tengah mereka. Satu persatu aku belai kepala dan wajah mereka, sambil berkata perlahan,

"Astri, bangun sayang, kita sahur dulu. Fanni cantik, bangun cintaku, sahur yuuk."

Tak bisa kutahan diriku untuk tidak mencium kening-kening mereka. Terus mengusap wajah dan rambut mereka bergantian sampai mereka terjaga dan bangkit dari tempat tidurnya. Fanni terlihat berat membuka matanya dan seperti memohon padaku supaya diijinkan tidak makan sahur. Aku menggodanya dengan candaan-candaan ringan dan mengangkat tubuhnya turun dari tempat tidur. Dengan gontai dia berjalan ke kamar mandi untuk cuci muka. Astri terlihat lebih cepat siap dengan apa yang seharusnya dia lakukan.

Beres di kamat para gadis, aku menuju kamar anak laki-lakiku, Luthfan dan Hilman. Hal yang sama aku lakukan. Mengambil posisi di tengah mereka, lalu mulai membangunkan dengan mengusap wajah dan kepala keduanya.

"Ayo, anak-anak sholeh bunda bangun, kita sahur yuk. Mas Luthfan, Hilman, anak pinter, jagoan bunda, bangun ya."

Banyak harapan pada semua anak-anakku. Aku selalu membangunkan mereka tiap pagi seakan-akan pagi itu adalah pagi terakhirku bisa membelai dan mengusap wajah mereka. Selalu aku nikmati momen singkat pada saat mereka membuka mata pada pagi hari. Kulakukan dengan sepenuh hatiku, atas rasa cintaku pada mereka.

Ramadhan. Sudah pasti setumpuk harapan hadir menjalani hari yang penuh dengan rahmat Ilahi. Aku memang tidak menulisnya pada secarik kertas apa yang menjadi harapanku pada Ramadhan kali ini. Aku hanya mengukirnya di dalam hatiku. Membuatnya menjadi ukiran yang indah, dimana di dalamnya ada aku, suamiku dan anak-anakku.

Resah saat membayangkan, andai Ramadhan kali ini adalah Ramadhan terakhirku. Apa yang akan aku tinggalkan pada anak-anakku? Rasanya aku belum cukup membekali mereka dengan keimanan yang hakiki. Masih banyak kesalahan yang aku buat dalam mendidik dan menjaga mereka. Suaraku masih sering melengking tinggi menghancurkan bangunan kesabaran yang ternyata belum kokoh. Sikapku masih sering gusar meluluh lantakkan halus tutur kata yang tidak terangkai kuat. Aku belum bisa menjadi contoh yang baik dan benar buat anak-anakku. Semoga pada Ramadhan ini semua niat baik terangkai kuat pada sebuah tekad untuk memperbaiki segala ibadah dengan mengajak anak-anak ikut serta.

Menatap wajah suamiku dalam lelapnya, juga membuncahkan sebuah rasa yang menyesakkan dada. Betapa aku masih sering membuatnya bersedih. Sebagai istri rasanya aku masih banyak sekali kekurangan. Betapa sering harapannya padaku luruh karena aku tak bisa memenuhinya dengan baik. Dan dia begitu sabar menerima semua kekuranganku. Aah, andai ini adalah Ramadhan terakhirku, aku ingin selalu menjadi makmumnya, menjadikannya imam dalam kehidupanku hingga akhir hayatku. Aku ingin menggelayutkan diriku pada bimbingannya agar aku menjalankan ibadahku beriringan dan menuju pada sebuah cita-cita bersama. Memanjatkan doa pada hening malam berdua, mengajak anak-anak tunduk pada ketauhidan dan amal sholeh.

Ya Rabb, ijinkan hamba-Mu merasakan keindahan dalam kemuliaan keimanan, bersama suami dan anak-anak hamba. Hingga, bila ini adalah Ramadhan terakhir hamba, hamba dapat meninggalkan mereka dengan segenap kepasrahan dan menuju padaMu dengan keikhlasan. Aamiin Ya Rabbal Alamiin.

Ceria Ramadhan Bersama Gamazoe dan Dhenok Habibie





48 komentar:

  1. Bahagianya.. ..anak2 mempunyai bunda seperti mbak niken....
    cerita yang mengharukan...
    semoga mbak ..dan keluarga diberi kesehatan dan umur panjang.. biar bisa lebih lama tuk saling menikmati cinta..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Ya Rabbal Alamiin.

      Alhamdulillah saling mengisi satu sama lain. Anak-anak juga membuat bundanya bahagia. Alloh yang menuntun semua ini.

      Hapus
  2. semoga kita mampu meraih "harta karun" di bulan Ramadhan ini bunda..
    menjadi orang2 yg beruntung baik Dunia dan Akhirat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, trima kasih do'anya mas Topics.
      Demikian juga dengan mas Topics.

      Hapus
  3. Jika mengingat mungkin saja Ramadhan ini ramadhan terakhir, hati jadi gelisah tak menentu :(
    Semoga selalu berada dalam lindungan0Nya..aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Sudah pasti langsung galau ya mbak Esti. Rasanya ciut banget nyalinya.

      Hapus
  4. Terbayang keluarga dimedan saat membaca tulisan Bunda, andai ini Ramadhan terakhir rani apa yang sudah rani berikan kepada keluarga rani yang saat ini berada jauh di sebrang,Bunda.. dari Bunda rani memahami bagaimana perasaan Ibu yang sesungguhnya, bagaimana harapan2 itu selalu Ibu ukirkan disetiap do'a. Terima kasih Bunda.. semoga setiap orang yang membaca tulisan ini bisa memahami begitu dalam dan besar rasa cinta Bunda untuk keluarga. Semoga kebahagiaan selalu menyertai keluarga Bunda Amin Ya Rabb..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Ya Rabb.

      Trima kasih ya Rani manis. Cerita-cerita Rani selalu mewarnai hari-hari bunda. Bunda terharu dan terima kasih merasa dipercaya menjadi tempat Rani bercerita suka dan duka. Jangan tersinggung ya dengan candaan-candaan bunda.

      Hapus
    2. :-)
      gak mungkin rani tersinggung Bunda, candaan-candaan itu yang membuat rani selalu tersenyum bahkan terkadang sampai tertawa lepas. The Best deh Bunda.

      Hapus
    3. hihihi, jadi boleh nih ya nggodain Rani terus. Asyiiik...

      Nggak ding. Bercanda sama Rani bikin bunda juga tertawa sendiri, kadang suka ditanya anak-anak kalau pas liat bundanya ketawa sama hape.

      Hapus
    4. #Duduk manis..
      Anak2 Tanya gimana kalau Bunda lagi ketawa sama hape.???
      *penasaran

      Hapus
    5. Yaa, ntar bunda jawab. Ini loh kak Rani ada-ada aja, ngelawak terus. qiqiqi.. padahal Rani sedang sebel digodain bunda yaaaa...

      Astri kan pernah ketemu Rani, jadi dia yang jelasin ke saudara2nya siapa kak Rani yang bunda maksud.

      Hapus
  5. Hiks..hiks..hiks, jadi terharu mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. #sodorin tissue
      terima kasih mbak Enny.

      Hapus
  6. Hemmm Bunda, selalu deh membuat pembacanya, jadi merinding disetiap bait tulisannya.

    Salam buat ponakan ponakanku ya Bunda. Peluk cium dari Jember.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haiii mas Jaswan. Mosok sih sampai merinding? Bacanya kan siang-siang.

      Terima kasih salamnya, insya Alloh disampaikan. Peluk ciumnya buat Luthfan dan Hilman aja ya. hehehe...

      Hapus
    2. wah mas imam ini maen peluk cium aja *janganmaudik* :p

      Hapus
    3. Saking sayangnya sama keponakan tuh, mas Topics :D

      Hapus
  7. Tissue... mana tissue....
    ngebayangin makan sahur dan buka bareng2 pasti ramai ya mbak..
    Saya yang bertiga aja sdh heboh, siapa lagi yg suka bikin heboh kalau bukan Dev..., pokoknya tidak ada makan tersisa selama ada Dev.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya jelas mas, seru banget kalo buka puasa dan sahur. Tapi kami menerapkan menu sederhana kok. Satu atau dua menu utk semua.

      Dev, semoga puasanya berkah ya. Tulisan ttg lampu LEDnya menjawab keraguan ttg lampu itu. Pas lagi khaaan. Wkwkwk.

      Hapus
    2. @ Mas INsan: ta kasih serbet saja ya MAs..kan lebar tuh.

      Hapus
    3. Serbetnya bersih nggak mbak Rie?

      Hapus
  8. :') "andai Ramadhan kali ini adalah Ramadhan terakhirku. Apa yang akan aku tinggalkan pada anak-anakku?" setiap Ibu pasti berkata seperti ini, ya Mak? :') saya juga demikian, apa yang saya lakukan agar bisa membuat Mama saya senang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Tha. Ingin membekali mereka dengan keimanan yang dalam, sehingga mereka mampu melindungi diri mereka dari segala cobaan.

      Hapus
  9. kalau yang besar masih mau dikeup gak mbak?maksudnya anaknya yang cowo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih mau mbak. Malah kalo lagi datang kolokannya, bisa ngusel minta diusap kepalanya.

      Hapus
  10. baiti jannati,
    sungguh bunda adalah seorang ibu yang beruntung.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, karunia Allah.

      Terima kasih mbak LJ

      Hapus
  11. Sejujurnya, saya masih belum sanggup memayangkan jika ini Ramadhan terakhir saya lho Mbak.

    Tapi, apapun...anytime kita mmg harus siap dan semoga saat kembali pada NYA tiba...kita bisa khusnul khotimah. Aamiin:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, kapanpun kita memang harus siap untuk kembali kepadaNya. Semoga kita masih bisa bertemu dengan Ramadhan tahun depan.

      Hapus
  12. mbak..ceritanya bikin pengen mewek.
    anda ini ramadhan terakhir.. apa yang bisa aku tinggalkan buat keluargaku. hiks
    salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. #sodorin tisue buat mbak Uul.
      Salam kenal kembali, semoga kita mampu meninggalkan kebenaran buat keluarga kita.

      Hapus
  13. Mbak Niken, postinganya sukses bikin mataku menghangat..

    tapi memeng perasaan, terakhir kali memeluk mencium membelai buah hati, kadang terselip dalam hati, karena usia kita hanya DIA yang tahu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, mbak Lies juga merembes mili. Sodorin tisue juga deh.
      Semoga kita siap menghadapNya, ya mbak :)

      Hapus
  14. Aku kok, jadi mau mewek sih, bacanya mba... menyentuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perlu tisue juga nggak mbak Santi. hehehe..

      Hapus
  15. Terimakasih sudah berpartisipasi sahabat, sudah tercatat sebagai peserta.

    Salam manis dari Gamazoe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah sudah tercatat sebagai peserta.
      Terima kasih.

      Hapus
  16. Bundaaaaa...aku kepengen ngebangunin anak2ku sahur kek gitu jg, kapan ya malaikat2 kecil itu meramaikan rumah *elah kok curcol* hihihihi.

    Gudlak ngontesnya Bunda, peluk cium untuk anak2 sholeh dan sholehah-nya Bunda Niken^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, aamiin... Semoga Orin segera dikaruniai momongan. Sekarang nikmati aja dulu masa-masa berdua.

      Terima kasih supportnya ya.

      Hapus
  17. aku ko ga di bangunin Bundaa..
    mau donk ..!!

    Senengnya punya bunda seperti bundaku ini,
    hikss jadi sedih yaa..
    apalagi aku cuma ngebanguninn olive aja..
    papanya ga ada :(

    Pa kabar bundaku, semoga sehat selalu
    sukses ya ngontesnya :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ntar pakai miscal aja ya Nchie. Hehehehe.

      Sedang menjalani LDR yang indah ya. Semoga semua bisa berjalan baik. Dalam arti bisa merasakan hikmah dari jarak yang sekarang ada.

      Kabar baik Nchie. Alhamdulillah sehat.

      Hapus
  18. Pa khabar? Semoga tetap bersemangat di tengah Ramadhan.
    Sukses dengan kontesnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kabar baik. Semoga demikian juga dengan mas Pri.
      Terima kasih ya.

      Hapus
  19. Ah bunda bisa banget ya bikin cerita yang kayak gini, sedih banget jadinya :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan sedih Mita, ini bukan cerita sedih kok. Harapan-harapan itu begitu indah bila terwujud kan?

      Hapus
  20. Itu juga yang kepikiran oleh saya
    Sering ngomel sama anak isteri he he he
    Semoga kita masih berytemu dengan Romadhon2 di depan ya jeng
    Semoga sukses dengan GAnya
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngomel itu kok kadang susah kita jaga ya pakde. Sesekali kelepasan juga :)

      Terima kasih supportnya.

      Salam kembali

      Hapus

Tulislah Komentar Anda Dengan Santun