Kamu Sudah Memilih

24 komentar
Bismillahirrahmannirrahiim,

Sejak aku putuskan untuk berjalan di sampingmu, detik itu juga, segala apa yang ada pada dirimu adalah bagian dari diriku. Kita sama-sama memperjuangkan cinta yang kita miliki untuk bersatu dalam sebuah ikatan perkawinan yang mendapat restu dari seluruh anggota keluarga. Senyumku masih tetap manis jika mengingat cara yang kita tempuh untuk meyakinkan bahwa kita serius dan tulus. Kau memang tegar dan kuat dalam tekad dan cinta, demi meminang gadis idamanmu sekalipun harus mengikuti serangkaian ujian yang dengan mudah kau lalui. Kau bahkan kemudian bersahabat dengan pengujimu, yaitu masku yang kemudian membawa jempolnya untuk diperlihatkan pada bapak ibuku. Hebat! Mas Yoyok memujimu. Pendakian Gunung Slamet berdua antara mas Yoyok dan dirimu, membuatmu mendapat nilai plus. Tante dan omku juga menganggukkan kepala ketika ibuku menanyakan pendapat mereka tentang dirimu. Yes!

Januari 1995, kita melangsungkan pernikahan. Aku anak perempuan satu-satunya, dan ibuku adalah perias pengantin Jawa, maka lengkaplah segala prosesi adat kita lalui, yang membuatmu seperti tersiksa dan kapok. Hihihi... Seminggu seluruh rangkaian adat baru selesai. Tepar deh! Kau hanya menjalani semua itu sebagai sebuah tantangan berikutnya untuk mendapatkan aku. Sesungguhnya kau tak menginginkan semua rangkaian acara itu, tapi juga takjub dengan dukungan banyak pihak dalam acara pernikahan kita, termasuk direkturku di kantor yang bersedia menjadi ketua panitia pernikahan kita.

Alhamdulillah semua berjalan baik dan lancar. Namun kebersamaan kita hanya sebentar. Dua hari kemudian kau harus kembali ke Jakarta untuk bekerja dan aku di Semarang. Seminggu kemudian Ramadhan tiba. Aku belum merasakan bagaimana tugasku sebagai istri yang mendampingimu. Stasiun kereta api Tawang Semarang, menjadi saksi perpisahan dan pertemuan kita tiap 2 minggu sekali. Rasa rindu menjadi sebuah keindahan yang kita simpan pada hati kita hingga saat pertemuan tiba. Bapak dan ibuku belum mau melepasku untuk ikut denganmu ke Jakarta, dan kau sendiri merasa belum mampu memboyongku. Aku memahami semua kondisi yang ada, walau sebetulnya aku ingin segera berkumpul bersamamu.

Mungkin kamu tak tahu saat ibuku mulai mengkhawatirkan sesuatu setelah minggu berganti bulan dan aku belum menunjukkan kehamilan. Ibu begitu mengenalku, sejak gadis aku bermasalah dengan siklus haidku. Beberapa kali ibu membawaku ke dokter untuk menanyakan keadaanku, dokter selalu menjawab tidak masalah  dan memberi obat supaya aku bisa haid. Tapi kenyataannya, aku sering baru mendapat haid 2 bulan sekali atau bahkan pernah 3 bulan baru haid. Kenyataan ini membuat ibu khawatir, aku akan susah punya anak. Alasan ini yang kemudian mendorong bapak dan ibuku merelakan aku pindah ke Jakarta.

Aku ingat dengan apa yang dikatakan ibu saat itu,"Tugas istri adalah mendampingi suami. Dia pilihanmu sendiri, jadi apapun yang dia berikan untukmu, adalah rizkimu. Jalankan semua tugas dan kewajibanmu sebagai istri dengan baik. Bapak dan ibu mengikhlaskan kamu meninggalkan kami dan untuk menghargai suamimu, bapak dan ibu menghentikan semua fasilitas yang kamu dapat sekarang."

Kamu tahu kan artinya?

Itu artinya, aku harus melepaskan dan meninggalkan semua fasilitas yang diberikan oleh bapak dan ibuku. Mobil yang aku pakai untuk ke kantor, termasuk bensin dan segala penunjang mobil itu. Gajiku sebagai sekretaris direktur sebuah perusahaan percetakan di Semarang memang kecil. Tapi gaji itu utuh sebab bapak dan ibu masih menanggung semua kebutuhanku. Hari-hariku begitu ringan sebagai anak, tapi sebagai istri aku merasa bukan apa-apa.

Siap! Aku akan tinggalkan semua itu dan menerima segala apa yang akan kau berikan untukku.

Kamu tergelak saat aku ceritakan, ketika aku mengajukan pengunduran diri di kantor, atasanku keberatan. Aku diiming-imingi naik gaji, akhir tahun jalan-jalan ke luar negeri bahkan tiket kereta api untuk kunjungan suamiku ke Semarang atau bila aku ke Jakarta akan diganti oleh kantor. Wuiiihhh! Enaknya! Rasanya belum pernah mendengar ada fasilitas seperti itu.

Tidak! Sekali lagi tidak!

Aku tidak mau semua itu. Aku tetap memilih ikut dirimu ke Jakarta apapun kondisinya nanti. Sekalipun akan hidup sederhana mungkin, rasanya aku lebih memilih itu dari pada selalu berjauhan dengan dirimu. Aku mau jadi istrimu seutuhnya.

Awal Agustus 1995, kau resmi memboyongku ke Jakarta. Rumah petak pemberian bapakmu adalah tempat pertama kita memulai hidup berdua. Rumah yang sejatinya adalah rumah kontrakkan yang menjadi penghasilan orang tuamu, adalah saksi dari perjuangan hidup kita. Indah sekali, ya... Aku seutuhnya menjadi istrimu, menerima dan memberikan kasih sayang yang kian hari kian dalam.

Kita tinggal di sebuah titik yang ada di bilangan Cengkareng Jakarta Barat. Sekalipun kita memulai semuanya dari nol, tapi rasanya aku tak sulit beradaptasi dengan lingkungan dan keadaan. Mungkin karena biasa ikut bapak yang berpindah-pindah tugas, jadi mudah buatku untuk menyesuaikan diri. Tetangga kanan kiri juga menerima kita dengan baik. Bahkan kita seperti mendapat orang tua di sana yang begitu perhatian dengan kita.


Kalau ingat awal-awal aku tinggal di Cengkareng, lagi-lagi aku bisa terseyum bahagia. Meski aku terbiasa dengan hidup yang apa-apa tersedia, ternyata kalau menjalani semuanya dengan ikhlas dan sabar, buahnya akan manis. Tak sesulit yang aku bayangkan. Belajar mengatur semua urusan rumah tangga sendiri ternyata makin mendewasakanku. Mencoba mengatasi segala situasi dan kondisi yang kadang membuatku menghela nafas panjang, membuatku makin mensyukuri atas apa yang Allah berikan kepadaku. Bersamamu, aku kuat menghadapi semuanya.

Aku melepasmu berangkat kerja pukul 6 pagi, dan menyambutmu pulang antara pukul 20 - 21. Sambil menunggu panggilan dari lamaran yang aku kirim ke beberapa tempat, aku mengisi keseharianku dengan menyulam dan merajut. Alhamdulillah, Allah kemudian memberikan kepercayaan kepada kita dengan sebuah kabar gembira. Dua bulan aku tinggal di Jakarta aku tahu kalau positif hamil. Karena haid yang tidak teratur, aku tak tahu kapan aku mulai hamil. Kita memang tak memperdulikan itu, karena kita sudah terlalu bahagia dengan anugrah yang kita tunggu.

Kau ingat tes pack yang aku perlihatkan padamu pagi itu? Ekspresimu terlalu datar untuk sebuah rasa bahagia. Bayangan akan mendapat peluk cium seperti di film-film tak aku dapatkan. Hihihi... Kau tak percaya dengan garis dua yang ada di tes pack itu, dan membawaku ke klinik untuk memastikan kehamilanku. Pulang dari klinik barulah kau terlihat yakin dan bahagia.

Saat tahu aku hamil, langsung aku urungkan niat mencari kerja, dan bertekad akan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Semula bapak dan ibuku menentang. Aku paham, mereka merasa sudah menyekolahkan aku hingga jenjang S1, tentunya ingin anaknya sukses dalam pekerjaan. Tapi aku tetap pada keputusanku. Dan akhirnya orang tuaku mengalah dan memahami keinginanku.


Ibu selalu menegaskan,"Kamu sudah memilih, lakukan dan tanggung jawab dengan pilihanmu." 

Waktu berjalan begitu cepat. Kini sudah 18 tahun aku mendampingimu. Kekhawatiran ibu tentang aku akan sulit hamil ternyata salah. Kita bahkan dianugrahi 5 orang putra putri yang cakep dan cantik. Semua sehat dan pintar. Mereka semua adalah amanah dari Allah yang harus kita didik dengan sepenuhnya. Marilah, suamiku... Kita hantarkan anak-anak kepada masa depan yang sesuai dengan petunjuk Allah.



give_away

Tulisan ini diikutsertakan dalam Semut Pelari Give Away Time



24 komentar:

  1. bener bgd, karena sudah memilih jadi siap risikonya..
    awalnya pasti nyesek bgd ya mb.. tapi sekarang luar biasa...
    sukses GAnya mb.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rasanya tidak ada yang nyesek waktu mengambil keputusan itu. Proses belajar memang jatuh bangun, tapi saling menguatkan saja.

      Makasih Annur.

      Hapus
  2. Besar sekali pengorbanan Mba Niken. Barakallah.. semoga sakinah selamanya, aamiin... :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.
      Besar atau kecil tidak penting, semua memang harus dilakukan saat saya sudah memilih.

      Hapus
  3. Harus konsekwen dengan pilihannya... apalagi suaminya sangat sayang dan perhatian juga anak2 yang baik dan shalih/ah,... alhamdulillah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Alloh akan selalu demikian. Beliau memang orang yang paling mengerti siapa aku.

      Terima kasih mas Insan.

      Hapus
  4. Hakikat 'memilih' pada manusia sebenernya adalah 'dipilihkan' dan kita tinggal 'just do it' aja! Nah! Baru deh pas kita ngelaluin proses ampe berharap ke hasil yg pastinya tanpa ngesampingin risiko, itulah pilihan yg mjd konskwensi kita!

    *tanam tuai, ar-Ra'd: 11, last surah of Baqarah ... :-)

    *success 4 giveaway!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Allah yang memilihkan, begitu bukan maksudnya? Kita menjalankan apa yang sudah dipilihkan.

      Makasih ya Eksak.

      Hapus
  5. Keluarga sebagai anugerah yang luar biasa Jeng Niken, paparan ini menggambarkannya dengan indah penyelenggaraanNya atas kekasihNya. Selamat meramaikan GA sahabat. Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Allah memberi anugrahNya kepada keluarga saya. Cobaan demi cobaan adalah bukt kasih sayang Allah kepada kami.

      Terima kasih mbak Prih.

      Hapus
  6. ah, terima kasih sudah menuliskannya di sini ya Bun, jadi bisa belajar banyak^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya menulis ini untuk mengingatkan kembali masa-masa itu, supaya sekarang lebih bersyukur dengan keadaan yang jauh lebih baik. Alhamdulillah.

      Hapus
  7. hanya satu kata; asiiiik
    aq blum bisa cerita ttg hal yg sama xixixi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang asyik kalau diceritakan. Pun saat menjalaninya. Perjalanan hidup yang harus menjadi pelajaran.

      Semoga segera bisa bercerita tentang hal yang sama :D

      Hapus
  8. Terimaksih sudah berbagi pengalaman hidup ini mbak... banyak hikmah yang bisa kupetik di sini... Semoga keluarga mbak Sakinah dan penuh barokah dari NYA... dan semoga sukses di GA ini ya... Oya, Semarangnya di mana, mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Ya Rabb.

      Saya dulu tinggal di jln. Pleburan. Waktu itu bapak sdg ditugaskan di Semarang.

      Sama2 memetik hikmah ya mbak Metcha :)

      Hapus
  9. Loh...Perasaan sudah dikunjungi deh ini. Ha Ha maap lupa kasi komen, kelupaan :D

    Terima Kasih yah sudah berpartisipasi di Semut Pelari Give Away Time :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naaah, sekarang saya baru lega deh, sudah dikunjungi oleh empunya hajat dan terdaftar sebagai peserta. Terima kasih mas Husni.

      Hapus
  10. kok ak baca ini malah nangis yah Umi :')
    makasih Bangeet Umi buat tulisan yg ini ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan nangis dong Ranii... Bunda bahagia kok menjalaninya.

      Hapus
  11. Selamat Anda terpilih sebagai juara 3 Semut Pelari Give Away Time...Silahkan langsung ke TKP untuk claim hadiah!

    http://semutpelari.blogspot.com/2013/08/pengumuman-pemenang-semut-pelari-give.html

    BalasHapus
  12. Selamat ya mbak... tulisannya emang Top Markotop

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat juga, mas Insan. Tulisannya mantap deh.

      Hapus

Tulislah Komentar Anda Dengan Santun