Peselancar Yang Baik

49 komentar
Bismillahirrahmannirrahiim,

Tak mudah ketika aku dihadapkan pada sebuah permasalahan yang makin hari makin membuat gelisah. Hatiku makin tak tenang berada dalam lingkungan yang kian aku rasakan tidak nyaman. Satu demi satu masalah yang kuhadapi di kantin yang aku kelola hampir 3 tahun mulai tampak di depan mata. Mulai dari persaingan yang tidak sehat, gunjing sana sini, sikap pemilik kontrakan yang makin tak simpatik, bahkan sampai ada hasutan kepada karyawan kantin yang semula begitu baik dan kekeluargaan menjadi berubah drastis menjadi mencurigaiku. Puncaknya adalah ketika pemilik kontrakan dengan semena-mena akan menaikkan kontrakan amat tinggi demi melihat kantinku yang dilihatnya cukup ramai.

Aku bukan tak mau menghadapi semua masalah itu. Yang makin memberatkan pikiranku adalah, seiring dengan semua kejadian di kantin, aku merasa suasana rumah, hubungan dengan anak-anak dan suami kurang nyaman. Sekalipun aku berusaha tetap mengambil waktu dan mengurus kebutuhan untuk mereka, seperti menyempatkan menemani anak-anak sarapan, pulang kantin pada ba'da Ashar untuk mengecek kebutuhan anak-anak terutama urusan sekolahnya. Lalu kembali ke kantin selepas sholat maghrib, sampai tutup kantin jam 21.00 WIB. Belum lagi kalau aku perlu waktu untuk kebutuhanku pribadi, seperti mengaji. Aku harus mondar mandir sambil selalu stand by kalau-kalau kantin membutuhkan sesuatu.


Otomatis, waktu bertemu suami sudah malam. Karena pagi selepas sholat subuh aku sudah ke pasar. Kalau anak-anak sudah berangkat sekolah, aku disibukkan dengan persiapan keperluan kantin, sementara suami sudah bersiap berangkat ke kantor. Sedikit berbincang sambil mengerjakan ini itu, dan menyempatkan membawakannya bekal untuk makan siang. Ketemu lagi malam sepulang aku dari kantin, yang tentu saja sudah cukup letih. Tak pernah bisa menyambutnya pulang dari kantor. Tidurku jadi lebih larut. Sering pagi hari bangun dengan rasa letih.

Semua kedaan itu makin hari makin menggelisahkan. Rasanya, bukan ini yang aku cari dalam hidupku. Hingga akhirnya aku putuskan untuk menutup kantinku dan kembali menjadi full time housewife and mother. Keputusan itu tetaplah menimbulkan rasa sedih. Membayangkan perekonomian keluarga yang akan menurun drastis di tengah berbagai kenaikan barang, sempat membuatku tak nyaman. Bukan aku tak bersyukur dengan penghasilan suami yang cukup untuk membiayai kehidupan keluarga, tapi dengan adanya kantin kami bisa lebih leluasa dalam memenuhi kebutuhan anak-anak. Aku juga bisa lebih bebas mengatur keperluanku pribadi waktu itu. Penyesuaian bukan hanya padaku, tapi juga pada anak-anak. Mereka harus memahami dan menerima keadaan yang sekarang ada.

Selalu ada hikmah dari sebuah peristiwa. Itu adalah hal yang selalu aku yakini. Berusaha menjalani tiap babak kehidupanku dengan ikhlas. Kadang memang timbul keresahan, tapi seiring dengan perenungan dan pemahaman, satu persatu keresahan menjadi sebuah kemantapan hati yang membuat keyakinan bahwa Allah memang sudah mengatur segala apa yang paling baik untuk hidupku.

Alhamdulilllah, ternyata tak sulit meminta pengertian anak-anak. Aku selalu terharu dengan sikap mereka. Terutama Luthfan dan Astri yang memang sudah bisa diajak diskusi. Mereka menyikapi keadaan dengan lebih banyak menabung uang jajannya, sehingga bisa membeli kebutuhan mereka sendiri. Yang dilakukan Luthfan dicontoh adik-adiknya. Kadang keluar pertanyaan haru seperti,

"Yakin nih Bun, aku dikasih segini? Bukan uang untuk kebutuhan bunda kan? Aku masih ada kok, Bun. Besok-besok aja nggak apa-apa," kata Luthfan kalau aku memberinya uang lebih.

Kalau mendengar Luthfan bicara begitu, mana aku bisa menahan untuk tidak mengusap wajah dan kepalanya.

"Santai, Nak. Uang belanja beres kok. Ini memang buat Luthfan. Kan mau futsal, badminton dan parkour. Kalau ada sisa simpan aja.

Karena sekarang aku banyak waktu kosong, maka aku berkata kepada suamiku untuk mengambil alih tugas tukang ojek yang menjemput sekolah anak-anak, memberhentikan les privat Hilman dan juga mengambil alih mengaji tahsin anak-anak.  Dengan begitu, selain mengurangi pengeluaran bulanan, utamanya adalah supaya aku lebih dekat dengan anak-anak. Sekalipun waktu ada kantin aku masih bisa mengawasi anak-anak, tapi tidak fokus. Perhatian tetap terbagi pada pekerjaan dan masalah kantin.

Begitulah cara Allah memberikan jalan untuk sebuah kebaikan yang sebenarnya untuk hidup kita. Sekalipun kita harus melaluinya dengan sebuah ketidaknyamanan, tapi kalau kita mau mengambil hikmahnya, maka kita akan menemukan kedamaian. 

Sekarang, justru aku merasakan kebahagiaan yang lebih sejak melepaskan kantin. Suasana rumah aku rasakan lebih damai. Lebih dekat dengan anak-anak. Jadi lebih memahami mereka. Bisa menyambut suami pulang dari kantor setelah sekian lama tak pernah aku lakukan. Waktu ada kantin, suami pulang kantor aku masih di kantin sebab kantin tutup pukul 21.00. Sampai rumah kira-kira pukul 21.30.

Dengan mengajar sendiri ngaji anak-anak, aku jadi tahu plus minusnya kemampuan mereka. Untuk Luthfan dan Astri tinggal memperbaiki tajwid, mereka berdua bisa dipegang bersamaan. Aku pakai buku Pedoman Daurah Alqur'an sebagai acuan belajar, lalu aku minta mereka menguraikan tajwid dari satu halaman yang mereka baca. Ada hukum apa saja dari bacaan mereka. Mencari contoh hukum-hukum tajwid di dalam Alqur'an kemudian menulisnya. Kepada Hilman dan Fanni aku juga aku memakai buku Pedoman Daurah Alqur'an dan Metode Utsmani yang terdiri dari 3 buku.




Alhamdulillah, aku betul-betul merasakan nikmat yang luar biasa. Bayangkan... waktuku bercanda dan membelai anak-anak jadi bisa full day. Jadi bisa lebih sering diskusi, belajar bersama, aaahhh... Pokoknya lebih damai deh. Ditambah lagi waktu dengan suami jadi lebih banyak. Materi yang berkurang bukan apa-apa dibandingkan apa yang aku rasakan sekarang ini.
Peselancar yang baik adalah yang mengikuti arus ombak, bukan melawannya. Jatuhnya bukan berarti dia tak mampu menguasai rintangan. Dia akan bangkit kembali untuk kembali menghadapi ombak yang menggulung.

Hidup juga demikian. Jatuh bangun itu hal biasa. Mungkin aku gagal menjadi pengusaha kantin yang handal, tapi aku ingin menjadi seorang ibu yang lebih bertangung jawab dan memperhatikan keluarganya. Masalah-masalah dalam rumah tangga bisa menjadi ombak yang menggulung bila diabaikan. Siapa bilang menjadi ibu rumah tangga bukan sebuah kebangkitan dari jatuh kita. Semua kita kembalikan pada apa hakekat dan tujuan hidup yang sebenarnya.
Yakin... amat yakin bahwa peristiwa yang kita alami dalam kehidupan selalu mengandung pesan moral andai kita mampu mengambil hikmahnya dengan keikhlasan.

 “Tulisan ini diikutsertakan dalam momtraveler’s first Giveaway “Blessing in Disguise”




49 komentar:

  1. Masyaallah bunda mang ibu yg TOP bgt aku hrs byk blj ni dr bunda. Bgtu lah Allah sllu punya jln utk menuntun hamba Nya ke jln yg bnr semoga selalu jd kel samaran bun.. Amiinn..
    Makasih sdh berpartisipasi dalam GA ku bun :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Ya Rabb.
      Mbak Muna jangan bilang saya ibu yang TOP, malu rasanya menyandang gelar itu. Kita sama-sama belajar ya mbak.

      Semoga sukses dengan GAnya.

      Hapus
  2. indah jika kita selalu menyikapi sesuatu dengan pola fikir yg positif.. cumunguud bund ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Okeee mas Topics. Sering 2baca tulisanmu bkin pikiran jadi positif. hehehe...

      Hapus
  3. keren banget umi perjuangannya :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Ranii. Apa kabar nih?

      Hapus
    2. alhamdulillah Umi Ranii baik, semoga Umi n keluarga juga baik-baik selalu yaa :)

      Hapus
    3. Alhamdulillah baik-baik juga.
      Terima kasih sering mengunjungi umi.

      Hapus
  4. Salut pada Keberanian untuk mengambil keputusan. Sungguh, kutahu itu bukan perkara mudah..
    Selamat menikmati buah kebahagiaan dari keputusanmu Mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, buahnya manis sekali. Saya tau apa yang saya cari dalam hidup saya.

      Hapus
  5. wah jika dekat minta tolong Devon diajarin ngaji juga bareng Hilman..
    biar makin pinter tajwidnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Antar Dev ke Jakarta mas. Ketambahan murid pinter satu, nggak masalah.

      Hapus
  6. bunda lahfy memang salah satu sosok ibu yang plus plus

    hemm untung hilman nggak seperti saya bunda, kalau dikasih uang selalu bilang kurang pak, kurang bu, hehe :D

    semoga sukses di GA nya bunda :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haiih.. plus plus apa nih mas Imam?

      Jangan dong mas Imam, kasian sama orang tua kalau uang jajan kebanyakan.

      Terima kasih mas Imam.

      Hapus
  7. selalu ada hikmah tersembunyi... tetap semangat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah tetap semangat. Terima kasih ya.

      Hapus
  8. Balasan
    1. Sejak kapan mas Belalang jualan obat nih? Beli dong gan.

      Hapus
  9. materi bukanlah hal yang utama dalam keluarga, yang utama sebenarnya adalah bagaimana keluarga bisa rukun bahagia dalam kebersamaan bagaimanapun keadaannya dan menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahma, selamat berlomba ya...semoga menjadi salah satu yang terbaik.....salam :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang saya rasakan memang demikian mas Hari. Terima kasih supportnya.

      Hapus
  10. Lagi dan Lagi merasakan suasana yang sesungguhnya saat membaca tulisan Bunda.. Bunda tetap is the best deh..... mudah2an menang jadi bisa ikutan tepuk tangan hihihihiihii.... Salam Sayang Selalu Bunda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kangen Rani deh. Maaf ya belum bisa ngobrol panjang lagi. Doakan bisa segera aktif lagi WAnya.
      Salam sayang buat Rani manis.

      Hapus
  11. iya ya mbak, jadi ada hikmahnya dibalik semua itu.
    salah satunya mbak jadi tahu, tajwid2 anak2 yang masih perlu sedikit perbaikan.
    hebat mbak, bisa memetik hikmah dibalik suatu kejadian :)
    good luck ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah mbak, walau memang saya tetaplah seorang ibu dengan banyak kekurangan. Terima kasih ya. Semoga kita semua mampu mengambil hikmah dibalik peristiwa.

      Hapus
  12. Sungguh menginspirasi dari kehidupan bunda Niken. Salam kenal bun.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal kembali Arlin. Syukurlah kalau ada yang bisa diambil dari kisah diatas.

      Hapus
  13. Bunda niken.. tulisannya inspiratif sekali.. apalagi bisa mengajarkan sendiri anak-anak mengaji, itu cita-cita saya jugaa.. :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mengambil tanggung jawab itu bisa membuat saya jadi lebih menjaga semangan pribadi untuk mengaji. Sebab kalau saya malas, berarti anak-anak juga ikut tidak belajar.

      Hapus
  14. Peselancar yang bijak, tahu karakter ombak dan diri. Sharing luar biasa Jeng Niken. Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya betul mbak Prih, walau saya belum pernah berselancar yang sesungguhnya. hehehe.
      Terima kasih ya. Salam kembali.

      Hapus
  15. Tulisan yang sangat inspiratif mbak, saya suka ^^

    Seperti pengorbanan ya Mbak selalu ada dampak negatif dan positifnya, namun akan berakhir indah di akhirnya jika mengikhlaskannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kuncinya pada diri sendiri, bagaimana menjalani sebuah keputusan yang sudah diambil.
      Terima kasih Titis.

      Hapus
  16. Bun, tulisan ini sudah menghadirkan sentakan2 di dada saya, apa yg saya alami ternyata belum ada apa2nya tapi ngeluhnya sudah panjang kali lebar.. *jadi malu sama Allah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga sering khilaf mbak. Kita bisa saling mengingatkan ya agar selalu bersyukur pada Allah.

      Hapus
  17. mbak...tulisannya inspiratif..
    setiap kali ingin mengambil langkah begitu, masih maju mundur maju mundur.
    Agaknya saya masih harus belajar jadi peselancar yang baik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk memantapkan keputusan, sebaiknya dipikirkan apa yang menjadi fokus utama dalam hidup kita. Kalau saya, selalu berpikir tentang tanggung jawab saya terhadap anak-anak.

      Saya juga belum jadi peselancar yang baik kok mbak Uul. Masih jatuh bangun menghadapi gulungan ombaknya.

      Hapus
  18. Pilihan yang mungkin awalnya sulit ya Bunda, tapi saya salut sama keputusan Bunda, bahwa keluarga tetap nomor satu... dan saya setuju perkataan Bunda bahwa kebahagiaan saat dekat dengan keluarga tak akan pernah sebanding dengan materi berapapun :)

    Sukses buat ngontesnya Bunda ya... Aamiin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berat juga waktu memberhentikan 5 karyawan kantin waktu itu. Mereka terpaksa mencari kerja di tempat lain. Tapi Alhamdulillah cepet dapet.
      Terima kasih supportnya ya mas.

      Hapus
  19. Bukan pilihan mudah namun terbaik bagi keluarga dan rumah tangga ya mbak. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Susi, dan rasanya itu pilihan yang tepat.

      Hapus
  20. Alhamdulillah subhanallah .. senang membacanya mbak Niken. Insya Allah berkah. Anak2 pun pengertian ya ... moga menang mbak :)
    *Toss*

    BalasHapus
  21. tugas ibu rumah tangga itu beraaat ya bu..kantin sm dgn warung, mencari penghasilan plus bs untuk keperluan sehari. Keluarga kami punya warung, asik deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pada saat semuanya bisa berjalan harmonis, memang mengasyikkan ya mbak Anggi.

      Hapus
  22. Artikel yang lahir dari kemurnian jiwa dan pikiran akan selalu membawa sebuah aura yang menusuk ketaran jiwa dalam mebarikan hikmah kecerahan dalam titik kehidupan untuk bercermin. Terimakasih Bun atas artikel yang baus ini.


    Salam wisata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apa kabar mas Indra?
      Terima kasih untuk komentarnya yang berkesan. Sebuah jalan hidup yang harus dilalui dengan baik.

      Salam kembali.

      Hapus
  23. Tulisan inspiratif seperti ini sering menghentakkan saya ke sudut terdalam nurani Bun, benarkah segala yang sudah saya lakukan selama ini. Terima kasih untuk share-nya, semoga saya juga bisa menjadi ibu sebaik Bunda Lahfy

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perlu kerja sama yang baik dengan suami dan anak-anak untuk bisa melakukan semua ini. Kita tak bisa sendirian.

      Terima kasih kembali, mbak Uniek. Insya Allah kita bisa menjadi ibu yang baik buat anak-anak kita.

      Hapus
  24. Indah sekali kalimat-kalimat Bunda Niken.

    BalasHapus

Tulislah Komentar Anda Dengan Santun