Ramadhan Anak-Anakku

34 komentar
Bismillahirrahmannirrahiim,

Ramadhan ini banyak sekali yang mengadakan Give Away. Kemaren sudah mendaftarkan dua tulisan untuk GA, dan rasanya ingin juga ikut GA yang diselenggarakan oleh mbak Karina Detri Amalia, sekalian salam perkenalan buatnya.

Cerita tentang Ramadhan memang selalu berwarna warni. Sebagai seorang ibu, aku selalu bersemangat kalau bercerita tentang anak-anak. Bosen nggak ya yang baca? Semoga tidak. Kegiatan sehari-hari kan di rumah, selalu bersama anak-anak, apalagi yang mau diceritakan kalau bukan tentang mereka.


Alhamdulillah, Ramadhan ini Fanni (6 tahun) sudah bisa puasa full. Bahkan sejak hari pertama sampai hari ini, tak ada terlihat Fanni lemas atau loyo karena puasanya. Dia tetap ceria bercanda, menggoda, sekolah, main-main. Suatu hari pulang sekolah Fanni bercerita.

"Bunda, temanku Bunga puasa setengah hari dapat uang 5.000, kalau bisa puasa sampai maghrib dapat uang 10.000. Enak banget! Aku dikasih nggak, Bun. Aku kan tiap hari puasa sampai maghrib."

Seperti biasa, action pertama kali dari bunda adalah memeluk dan mengusap kepala Fanni, dan dilanjutkan dengan kalimat,"Fanni puasa karena apa?"

"Karena... Hmmm... Perintah Allah."

"Pinter. Kalau puasa itu perintah Allah, yang mau kasih hadiah siapa?"

"Ya Allah lah."

"Eh, pinter lagi. Hadiah dari Allah apa ya? Fanni tau nggak?"

"Hmmm. Aku bisa jadi anak pinter."

"Ya, bisaaaa. Tapi yang pasti, Allah akan kasih hadiah pahala buat yang melakukan puasa karena menjalankan perintah Allah. Bukan karena iming-iming hadiah uang. Hadiah dari Allah lebih besar dari pada uang yang bisa ayah dan bunda kasih ke Fanni. Uang ayah dan bunda nggak ada apa-apanya dibandingkan hadiah dari Allah. Nanti bisa saja Allah menjadikan Fanni anak yang sholehah, yang pinter, yang beruntung, yang cerdas. Itu juga hadiah dari Allah."

"Iya Bunda."

"Jadi Fanni mau hadiah uang dari ayah bunda atau hadiah dari Allah?"

"Dari Allah dong."

"Anak bunda memang pinter. Masih kuat puasanya?"

"Masih dong!" sambil beranjak bangkit untuk mengambil mainannya.

Alhamdulillah, satu pelajaran bisa dipahami Fanni. Memang sejak anak sulungku mulai berpuasa, aku tak pernah menjajikan akan memberikan sejumlah uang sebagai hadiah puasanya. Kalaupun nantinya pada saat Idul Fitri ada sedikit uang yang ayahnya berikan, itu bukan karena hadiah puasanya. Karena apa dong? Ya ngasih aja. Buat menyenangkan mereka tanpa mengatakan kalau itu uang hadiah mereka berpuasa.

Takut! Takut sekali aku khilaf dan mebuat anak-anak melakukan hal yang mensyirikkan Allah. Melakukan ibadah bukan untuk Allah. Mungkin ada yang tidak sependapat denganku. Tak apalah. Aku belum mampu untuk menguatkan alasan selain mengatakan hal demikian.

Kalau kepada Hilman (kelas 6 SD) dan 2 remajaku yang sudah SMA, sejak awal Ramadhan aku mengajak mereka bicara. Dengan tegas aku mengatakan,

"Bunda tidak ijinkan kalian buka puasa bersama di mall atau di restoran. Boleh bukber kalau itu adalah kegiatan sekolah. Atau ada undangan temanmu mengadakan bukber di rumahnya. Selain malah jadi pemborosan, nanti juga bisa hilang makna puasanya. Berbuka puasa khan tidak berarti kita terus bebas makan yang kita suka. Bagaimana bisa merasakan kesulitan atau penderitaan orang lain kalau kita berbuka dengan sesuka hati kita. Apalagi kalau sampai tinggal sholat maghribnya... Yang ada puasa kalian cuma sekedar dapat lapar dan haus saja. Percuma lah nak."

"Oke, Bunda." kata Astri

"Iya, aku ada bukber di sekolah. Siap, Bunda. Ngerti deeh!" kata Luthfan

"Satu lagi. Tak ada kegiatan SOTR (Sahur On The Road). Terutama mas Luthfan nih." tegas sekali bunda ini berkata.

"Yaaahh... Padahal ada tuh Bun rencana teman-teman mau ngadain SOTR. Ya udah deh, aku nggak ikut berarti." Luthfan menurut.

Alhamdulillah. Anak-anak masih mau diarahkan. Aku bukannya mau melarang anak-anak berbagi rizki kepada yang membutuhkan. Banyak cara kok yang bisa dilakukan, tidak dengan cara SOTR yang pelaksanaannya penuh dengan resiko.

Sahur On The Road adalah  membagi-bagikan makanan untuk sahur kepada orang-orang yang ada di lampu merah atau kolong jembatan. Mereka akan berkonvoi dengan sepeda motor atau mobil mendatangi titik-titik tempat yang sudah ditentukan. Dua tahun kemaren aku mengijinkan Luthfan ikut. Tapi aku menyesal sudah memberi ijin waktu itu. Melepasnya keluar rumah pertama kali di tengah malam, pulang pagi, dengan segala resikonya, membuatku tidak tenang waktu itu. Tak putus doa aku panjatkan untuk keselamatan anakku.

Foto SOTR Luthfan 2 tahun lalu 

Dari pengalaman melepas Luthfan SOTR 2 tahun lalu, maka di tahun berikutnya dan sekarang aku tegas tidak mengijinkan. Menurutku akan banyak mudharatnya dari pada kebaikannya. 

Pertama, mereka berkonvoi dengan sepeda motor dan akan bertemu dengan konvoi rombongan lain. Resiko tawuran akan ada. Sudah banyak terjadi SOTR berujung perkelahian. Padahal seringnya hanya karena masalah sepele. 

Kedua, resiko kebut-kebutan. Ada aja nanti yang memprovokasi untuk adu ketangkasan bersepeda motor, atau aksi-aksi yang membahayakan diri. Tahun lalu ada anak SMA yang kecelakaan karena kebut-kebutan waktu mau pulang dari SOTR. Menabrak separator busway. Fatal sekali karena sampai meninggal. Innalillahi.

Ketiga, makanan yang dibagikan sekarang sudah tidak tepat sasaran. Karena banyak yang melakukan kegiatan SOTR ini, yang ada malah orang-orang daerah sekitar menunggu di tempat-tempat yang biasa dikunjungi. Dan malah jadi mendidik kemalasan dan kebiasaan menunggu pemberian. Rebutan menerimanya. Mereka sudah hafal dengan kedatangan orang-orang yang ber-SOTR. Bahkan ada kabar yang aku dengar, karena ada yang tidak kebagian, mereka menyerang yang membagikan makanan.

Begitulah Ramadhan. Saking banyaknya keinginan untuk melipatgandakan pahala, sampai-sampai menganggap semua perbuatan baik itu bisa dan syah saja dikerjakan. Padahal yang baik itu belum tentu benar. Hati-hati memilih kegiatan beribadah. Jangan sampai kita melakukan hal yang sia-sia.

Mari kita tetap menjaga semangat Ramadhan, dan bawa terus walau Ramadhan sudah pergi. Ibadah itu jangan hanya musiman saja. Supaya pahalanya juga terus menerus kita dapatkan dan selalu dekat dengan Allah.

Tulisan ini diikutsertakan untuk GA dalam rangka Ramadhan Giveaway dipersembahkan oleh Zaira Al ameera, Thamrin City blok E7 No. 23 Jakarta Pusat



34 komentar:

  1. saya setuju kalau dikatakan memberi hadiah uang demi melancarkan puasa sang anak sebenarnya sangat tidak mendidik, sebaiknya dari usia dini anak-anak diajarkan untuk memahami Islam secara benar..jangan diiming-imingi dengan hal yang justru menjauhkan dari ajaran Islam itu sendiri...,
    selamat berlomba semoga menjadi salah satu yang terbaik...salam :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Indahnya Islam memang harus ditanamkan kepada anak-anak, tapi tidak dengan kesenangan duniawi. Anak-anak harus percaya akan adanya kehidupan hari akhir dan balasan syurga bila beribadah karena Allah.

      Hapus
  2. gak bosen deh Umi, baca cerita dr umi ttg anak-anak :D hehe
    cara Umi mendidik anak-anak Umi jadi pelajaran juga buat aku, makasih ya umi ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukurlah kalau tidak bosen, semoga ada manfaatnya walau sedikit.
      Makasih kembali Ranii.

      Hapus
  3. lagi rame GA nih..hihihi tapi aq tetep bertahan dgg pendirian hahaha..
    fanny, dkk (dan kakak2nya bukan dan kawan2nya) moga lancar semua puasanya
    jangan nyoroh mas topics dulu, wkt SMA pulang sekolah ngumpul dirumah teman maen PS sampe maghrib (katanya sih biar ga terasa puasanya hihihi...)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ralat *jangan nyonToh mas topics maksutnya ^_^

      Hapus
    2. Kalau Luthfan pulang sekolah lebih memilih tidur. Malah beberapa kali tetap latihan badminton di sore hari. Persiapan akan ada turnamen setelah lebaran. Les juga tetap jalan terus. Jadi aktifitas tetap berjalan, hanya lama waktunya yang dipersingkat.

      Hapus
  4. "Siapa yang pagi ini shaum hendaklah ia shaum dan menyempurnakan puasanya. Maka kami pun menyempumakan puasa hari itu dan kami mengajak anak-anak kami shaum. Mereka kami ajak ke masjid, lalu kami beri mereka mainan dari benang sutra. Jika mereka menangis minta makan kami berikan mainan itu sampai datang waktu berbuka." (HR Bukhari Muslim)

    Dalam pendidikan anak, hadiah dinilai punya pengaruh positif bagi anak, bisa menumbuhkan motivasi anak untuk berusaha mencapai prestasi. Hadiah akan membuat anak merasa dihargai. yang penting ada kesepakatan bahwa hadiah hanya sebatas penghargaan dan pelecut motivasi sedangkan tujuan utamanya adalah berpuasa karena menjalankan perintah Allah.

    "Hendaknya kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai." (HR. Bukhari)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hendaknya kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai." (HR. Bukhari)
      hmmm bolehkah aq minta hadiah ? ^_^

      Hapus
    2. Selama Ramadhan, anak-anak saya bebaskan main game PS ataupun di komputer. Kalau tidak Ramadhan, main game hanya di sabtu dan ahad. Biasanya Fanni main game setelah pulang sekolah, atau main permainan lainnya, sampai sholat dzuhur. Setelah itu Fanni tidur siang sampai ashar. Lalu biasanya Fanni asyik mewarnai, menggambar.

      Hilman kurang lebih begitu juga, tapi dia leih suka membuat "sesuatu" dari kertas-kertas. untuk mengisi waktu. Dia minta alat-alat pendukung, saya belikan. Kemaren ayah membelikan Hilman perangkat alat pancing. Hilman kadang minta ditemani mancing untuk menunggu buka.

      Luthfan dan Astri pulang sekolah sudah ashar, jadi mereka sudah bisa mengatur dirinya sendiri. Semua tetap berjalan sebagaimana mestinya diluar jam-jam ngaji mereka.

      Hadiah buat anak-anak tetap kami berikan. Tapi bukan seperti yang dilakukan ortu teman Fanni diatas. Waktu Astri lulus SMP dengan nilai yang bagus, saya dan ayahnya memberi hadiah sebagai rasa penghargaan kami atas jerih payah Astri.

      Saya hanya membiasakan diri untuk tidak memberi motivasi secara materi. Pelukan, ciuman, pujian, usapan pada kepala mereka sambil mengatakan kalau kami bangga pada mereka adalah hal yang rasanya makin mendekatkan saya pada anak-anak. Terbukti, mereka juga akan melakukan hal yang sama bila mereka merasa bundanya membuat mereka bangga.

      Terima kasih untuk nasehatnya. Hadist-hadist itu mengingatkan kembali untuk selalu menghargai usaha anak-anak dalam melakukan sesuatu.

      Hmmm... kalau ayah Insan mau kasih hadiah buat Fanni juga boleh kok. Hehehehe....

      Hapus
    3. Mas Topics minta hadian sama mas Insan khan :D

      Hapus
    4. minta ke dua2 nya sama om insan juga sama bunda juga :p

      Hapus
    5. Dapat double dong. Pinter juga mas Topics :D

      Hapus
  5. Bunda seperti Mamaku, sellau ngomel ngomel tiap kali anaknya keluar sampai larut malam.

    Hahaaa contonya saya, pada suatu hari saya masih dengan jadwall rutin pulang larut malam (diatas jam 12 malam). Seperti biasa Mama ngomel hingga klimaknya, saya pun diam, dan itu selalu saya lakukan tiap dimarahi Mama. Saya diam karena memang saya tau melanggar peringatannya. Hingga suatu waktu saya harus di teras depan rumah gara-gara tidak dapat kunci pintu. Setelah itu kontak motor dikarantina. Gerilya teriakan Ayah sampai ke layar ponselku. Hadeehhhh kapok deh....

    Biar gitu aku sayang sama Mama. Huuuuu kangen rumah deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mama punya alasan untuk menegur mas Jaswan seperti itu. Pulang larut malam itu memang bunda larang buat anak-anak. Resikonya banyak.

      Sekarang terbukti mas Jaswan kangen mama kan?

      Hapus
  6. hemm, jadi ingat masa kecil saya bunda

    kalo luthfan sukanya acara SOTR (Sahur On The Road), kalo saya beda, saya sukanya POTR alias patrol on the road

    Jadi setiap jam setengah 3 saya sudah siap dengan kentongan saya dan langsung berkumpul di masjid, trus bersama temen temen se kampung bangunin orang sahur :D

    semoga sukses bunda dengan GA nya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. pengalaman seru ya mas Imam, membangukan sahur dengan kentongan.
      Luthfan baru sekali kok SOTRnya. Cukup sekali aja deh biar tau aja. Selanjutnya nggak boleh.

      Makasih mas Imam.

      Hapus
  7. Mbak Niken.. caramu mendidik anak-anak sungguh menginspirasi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah.
      Saya juga belajar dari teman-yeman dengan membaca kisah2 mereka dalam keluarganya.

      Hapus
  8. Fani pinter ya, puasanya...
    Kalo saya tetap mba memberikan reward berupa uang jika puasanya full sampai maghrib, agar anak semangat dan termotivasi, tdk ada indikasi lain, dengan catatan, bahwa anak saya mengerti bahwa puasa ujung tombaknya bukanlah uang, tapi tetap semuanya karena Allah, bukan karena uang dan Alhamdulillah anak saya mengerti. Pelajaran puasanya tahun ini adalah dia mengerti bahwa lapar itu tidak enak, jadi bisa merasakan bagaimana anak2 yg kurang beruntung ketika lapar. Lalu dia mengerti bahwa dlm berbuka tidak boleh berlebihan, karena masih banyak anak2 yg lain yg berbuka seadanya. Dan pelajaran yg terpenting, dia jadi rajin sholat 5 waktu, gak pernah 'bolong' selama Ramadhan ini. Reward dari Allah akan puasanya adalah tentu pahala, dan reward dari manusia melalui orang tuanya adalah berupa uang. Jika anak sudah mulai besa, tentu reward berupa uang seperti itu, tidak akan ada lagi. Reward utk anak yg baru memulai belajar puasa disini dimaknai bahwa 'penting lho.. belajar puasa', sehingga akan ada reward atas jerih payahnya dalam belajar berpuasa, yaitu berupa uang dari orant tuanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita punya cara masing-masing dalam menanamkan ibadah kepada anak. Asal semua sudah disepakati dan mengerti bagaimana menempatkannya dengan baik dan benar. Syukurlah anak mbak Santi bisa memahami hakekat ibadah yang sebenarnya.
      Nanti pada Idul Fitri, saya dan ayah tetap meberikan reward itu kepada anak-anak, tapi mengatakannya karena ayah punya rizki lebih dan ingin berbagi rasa syukur dengan anak-anak.

      Apa dan bagaimana kita mendidik anak-anak, kitalah yang mengenal anak-anak kita sendiri dan cara berbicara kepada mereka. Cara kita mungkin berbeda, namun tujuan kita sama, ingin anak-anak mengenal Sang Penciptanya sejak dini.

      Terima kasih mbak Santi. Salam buat keluarga :)

      Hapus
  9. Betul mba Niken, saya setuju sekali. Pelcum utk Fani :) dana salam kembali utk keluarga mba Niken

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah salam disampaikan, mbak Santi. Terima kasih.

      Hapus
  10. Alhamdulillah ... senang membacanya mbak Niken. Salut. Smoga anak2 istiqamah ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Doa yang sama buat anak-anak mbak Niar :)

      Hapus
  11. Dulu aku juga kaya gitu hehhee, tapi dulu waktu aku masih kecil semangat berpuasa karna akan diberikan hadiah sama ayah, mungkin yang belum tahu apa apa jadi akunya semangat aja menjalankan puasa demi hadiah tersebut he he he he he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang Irfan sudah tidak begitu kan? Melakukan puasa karena ibadah kepada Allah.

      Hapus
  12. Foto Bunda di atas gak pake kacamata, ea? Itu bda bgt, tau gk sih Bun? So, met puasa buat Bunda skluarga ea ... Salam buat kakak2 gue, Luthfan, Astri, Hilman, fany dan siapa yg di Bandung? Hehe... Salam juga buat Panda yg blm pernah ketemu gue! :-)

    BalasHapus
  13. Foto bunda? Nggak ada tuh. Itu Astri dan Fanni kok.
    Salam kembali buat mas Andi.

    BalasHapus
  14. ngaku nih mbak, awalnya tahun kemarin aku kasih uang ke Pascal kalau bisa puasa sampai magrib tapi hingga kini uangnya dititipkan ke aku :) Tahun ini gak perlu ada sogokan Allhamdulillah lancar puasanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, Pascal pinter. Semoga anak-anak kita bisa memahami hakekat ibadah sedini mungkin.

      Hapus
  15. Begitulah caraku mendidik anak, mbak. mengajarkan kesederhanaan dan selalu mengajak mereka diskusi tentang baik-buruk apa yg mereka lakukan. cara ini membuat mereka lebih paham dan mengerti.
    Upah puasa juga tak ada, meski sekedar uang jajan atau baju baru. paling tidak itu yg kukatakan pada anak2ku. mereka tak minta baju baru juga sih. dijawab iya.
    kalau tetap dikatakan hadiah, yaitu tiap week end di ajak ke pantai atau bebas main ke desa paman bibi jika mereka menuntaskan kewajiban belajar dan puasa anak2.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Subhanallah, senangnya bila anak-anak sudah mengerti kewajiban mereka tanpa harus diiming-imingi hadia, ya mbak Susi.

      Hapus
  16. Bunda niken.. inspiratif sekali cara ngenalin dan ngajarin puasa ke anaknya. ^^. Subhanallah..
    eia saya kira diatas itu foto bunda dan Fanni.
    Eh ternyata Astri dan Fanni ya :D

    BalasHapus

Tulislah Komentar Anda Dengan Santun