Yang Lepas dan Yang Jadi Nyata

42 komentar
Bismillahirrahmannirrahiim,

Si Princess Give Away, Argha Litha mengadakan GA lagi. Kali ini ikutan ah. Bertemakan tentang mimpi masa kecil dan sekarang. Jadi mengingatkan aku pada masa-masa remaja kala itu. Dimana kau mempunyai impian yang amat menggebu. Inilah kisah mimpiku kala itu.

Masa sekolah SD dan SMPku sebagian aku enyam Pekanbaru. Mengapa sebagian? Sebab kelas 1 dan 2 aku lalui di Yogyakarta. Kemudian bapak dipindah tugas ke Pekanbaru, maka kelas 3 SD aku pindah ke sana, sampai kelas 2 SMP. Kelas 3 SMP, bapak dimutasi ke Karawang. Oke, itu sekedar pembuka saja.

Masa anak-anak dan sebagian remajaku di Pekanbaru, adalah masa-masa yang indah dan penuh kenangan. Meskipun aku perantau, tapi aku mempunyai banyak teman baik di sana. Begitupun dengan sekolahku. Aku amat menikmati masa-masa sekolah di sana.

Ketika SMP, kesenian adalah pelajaran yang paling aku sukai. Aku menikmati sekali setiap pelajaran kesenian tiba. Guru kesenianku, pak Irmansyah, adalah guru yang keras tapi pintar. Menguasai bidang yang diajarkannya. Baik teori maupun prakteknya. Pak Ir adalah guru favoritku. Karena aku suka, otomatis aku menguasai materi-materi yang pak Ir berikan. Teoriku bagus nilainya, begitupun praktek seruling dan pianika, aku sering mendapat pujian.

Pernah suatu ketika pak Ir memberikan test, beliau menulis lagu Ruri Adalah Abangku dengan not balok, dan berkata, "Diantara not-not itu, ada yang bapak sengaja buat salah. Kalau yang bisa menunjukkan not mana dan alasannya, ulangan teori tidak usah ikut dan otomatis dapat nilai 10."

Aku memperhatikan seksama not-not balok yang tertulis pada paranada itu, dan... ahaaa! Aku tahu! Ada not yang ketukannya dibuat salah. Seharusnya hanya satu ketuk, tapi pak Ir membuatnya jadi 2 ketuk. Langsung aku tunjuk tangan dan menjawab. Betul! Untuk membuktikan kalau aku paham, aku disuruh memainkan lagu itu dengan seruling. Lancar sekali aku memainkan lagu itu, dan nilai 10 aku dapat tanpa ulangan teori minggu depannya.

Lantas apa hubungannya dengan mimpiku? Sebentar. Karena aku suka kesenian, maka aku aktif dengan ekstrakulikuler Bina Musika. Aku nikmati setiap kegiatan itu diadakan. Pak Ir begitu aktif mencari moment-moment yang menyertakan Bina Musika sekolahku pada acara-acara di luar sekolah. Seperti menyambut mentri yang berkunjung ke Pekanbaru, pembukaan MTQ, pembukaan pameran pembangunan, dan lain-lain. Kami bermain ansamble dengan memadukan pianika, seruling sopran, alto dan sopranino, juga gitar, dan drum. Aku sendiri memegang pianika.

Karena Bina Musika sekolahku makin maju, maka pak Irmansyah menawarkan kepada anak didiknya untuk memberikan les Biola dengan harga yang murah sekali. Biola bisa dibeli dengan mencicil. Nah, nah! Biola! Ini yang aku impikan. Menjadi seorang violist. Aku suka sekali dengan alunan suara yang dihasilkan sebuah biola. Merdu mendayu, indah menghanyutkan.


gambar dari sini

Aku langsung mendaftar, dan minta ijin bapak ibuku untuk membuka tabunganku demi membeli biola. Bapak ibu mendukungku. Begitu di hadapanku ada sebuah biola, mataku begitu takjub, hatiku membuncah bahagia. Wangi biola baru kala itu harum sekali aku hirup. Segera kelebatan-kelebatan bagaimana gayaku bermain biola menari-nari indah. Menjadi pemain biola rasanya sudah di depan mata. Dengan kesukaanku pada kesenian dan aku cukup menguasai not balok juga sedikit bakat yang aku punya, saat itu aku yakin kalau aku akan segera menguasai biolaku.

Latihan demi latihan selalu aku jalani dengan semangat. Guru biola yang pak Irmansyah pilihkan untuk mengajar beberapa anak didiknya sama menyenangkan dalam mengajar. Aku tak pernah alpa, sebab menjadi violist sudah ada di depan mata.

Namun...

Allah berkata lain. Beliau paling tahu apa yang terbaik buat hambaNya. Menjelang kenaikan kelas 3 SMP, bapak dimutasi ke Karawang. Tentu saja aku harus rela meninggalkan semua yang aku suka di Pekanbaru. Termasuk merelakan meninggalkan les Biola yang ketika itu sedang menggebu di hatiku. Luruh rasanya. Lesu. Oh biolaku.... Hiks, hiks.

Pak Irmansyah berpesan ketika itu, lanjutkan les biola di tempat baru. Setitik harapan masih aku gantungkan, semoga di Karawang aku bisa menemukan guru biola. Pak Ir membesarkan hatiku, terharu juga dengan perhatiannya kala itu. Rasanya tak salah kalau aku mengatakan pak Irmansyah guru favoritku (belakangan aku tahu, ketika pak Ir punya anak perempuan, diberi nama Niken).

Sayangnya, di Karawang bapak dan ibu tak menemukan guru biola. Entahlah, apa memang satu Karawang kala itu memang tak ada yang menguasai biola dan bisa mengajarkannya, atau memang aku tidak berjodoh menjadi violist. Rasanya aku memang harus mengikhlaskan mimpiku menjadi violist terbang jauh. Sampai sekarangpun mimpi itu tak pernah terwujud. Malah cenderung melupakannya.

Mimpi saat dewasa

Mimpiku saat dewasa dipengaruhi oleh pengalaman masa kecilku. Di rumahku selalu ada asisten rumah tangga yang membantu ibu mengurus keperluan rumah. Ibuku seorang guru, dan juga menerukan kuliah, jadi peran pembantu cukup dominan. Meskipun ibu selalu menyempatkan memasak buat keluarga, tapi keseharianku seringnya dibantu oleh asisten rumah tangga.

Beberapa kali ganti ART karena alasan menikah, sakit dan tidak mau ikut keluarga kami pindah saat bapak dimutasi. Rasanya tidak enak banget dengan ganti-ganti ART begitu. Saat aku sudah sayang, mereka berhenti. Bukan berarti sayangku pada mereka melebihi sayangku pada ibu. Tetap ibu memegang peranan dalam rumah tangga, hanya saja aku tak nyaman dengan berganti-ganti ART seperti itu. Kan tetap saja ada saat-saat peralihan, saat ibuku menyesuaikan diri tak ada ART sampai kemudian ada lagi.


gambar karya Astri

Inilah yang membuatku memimpikan, kalau aku menikah kelak, aku akan menjadi ibu rumah tangga. Mengurus kebutuhan keluargaku. Aku tak mau anak-anak merasakan ketidaknyamanan seperti yang aku rasakan. Mereka harus merasakan belaianku utuh mengisi hari-hari mereka. Aku tak pernah merasa kalau impianku ini sederhana.

Ketika aku menikah dan kemudian memutuskan menjadi ibu rumah tangga saat anak pertama hadir, tentu saja orang tuaku menyayangkannya. Wajarlah, mereka kan sudah menyekolahkan aku sampai S1. Tapi aku tetap pada pendirianku. Akhirnya bapak dan ibu menerima keputusan dan tekad anaknya untuk menjadi ibu rumah tangga. Alhamdulillah, rasanya bersyukur sekali dengan apa yang aku jalani saat ini. Menjadi ibu rumah tangga bukan karena keterpaksaan, tapi karena keinginan sejak lama. Semoga apa yang aku jalani ini membawa keberkahan buat diriku dan keluargaku. Aamiin.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Tuppy, Buku dan Bipang di www.argalitha.blogspot.com


42 komentar:

  1. karawangnya dimana mbak? :) ternyata mbak niken punya cita-cita jadi musisi ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karawangnya di Guro II, mbak Lidya.
      hihihi, cita-cita yang kandas.

      Hapus
  2. ga nyangka mbak niken pernah tinggal di Sumatera kirain belum pernah ke Sumatera *lihat wajah yang ayu jawa itu.. He2*

    Ibu rumah Tangga yang penulis.... :)
    Sukses GA nya ya mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. 6 tahun aku tinggal di Pekanbaru. Lumayan lama ya.
      semoga sama-sama sukses ya :)

      Hapus
  3. Wow, ternyata.sohibku ini pernah hampir mjd violist!.Aku kebalikan drmu Mbak, paling ga sk pljrn kesenian. Jeblok nilaiku, selalu utk pljrn ini. Haha.

    Allah memang Maha Tahu yg terbaik utk hambaNya ya, Mbak. :)

    Sukses utk GA nya yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihhi, suara biola yang mendayu-dayu itu loh mbak Al yang bikin aku pengen jadi violist. Sampai sekarang banyak ilmu dari pak Ir yang masih nempel diotakku saking jelasnya pak Ir menerangkan.

      Makasih mbak Al :)

      Hapus
  4. Mbak, sekarang bisa loh belajar biola lagi. Udah banyak cara belajarnya di youtube. Saya juga sempat belajar selama 6 bulan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaah, sekarang udah nggak minat lagi mbak Evi. Sudah terkubur dalam-dalam. hehehe.

      Hapus
  5. walaupun ngak jadi musisi tapi bunda sekarang menjadi ibu rumah tangga yang membanggakan sekaligus penulis...saluttt, sukses GAnya bun :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Malah kok sekarang bersyukur ya nggak jadi musisi. Itulah, Allah Maha Tahu apa yang terbaik buat hambaNya.

      Hapus
  6. Wah, dah lama sekali ya ceritanya mbak.. dulu orang masih giat2nya belajar dan berkegiatan yg positif.. jaman sekarang ada hp ada motor, melanglang buana hanya di dumay.. ckckck

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, cerita lamaaa sekali. Sudah puluh-puluh tahun #sadar kalo tua :D

      Hapus
  7. Wah,... luar biasa impian mba, menjadi ibu rumah tangga. kebanyakan kita ingin menjadi dokter, pemusik, ilmuwan dll sebagai impian. Tapi impian menjadi ibu rumah tangga tentu sangat indah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kata orang, menjadi ibu rumah tangga itu bukan impian. Tapi untuk bisa merawat, mendidik, mengasuh, anak-anak yang ditipkan kepada kita dengan maksimal, menjadi IRT pantas dijadikan impian.

      Hapus
  8. sekarang jadi ibu rumah tangga yang supeeer :)
    gimana kalau anak2 dididik agar bisa mewujudkan impian Bunda yang tertunda? Hehe, saya punya anggapan demikian loh. Jadi impian saya yg belum tercapai, paling tidak bisa dicapai buah hati saya suatu hari nanti

    terima kasih, sudah terdaftar. hehe, saya berasa Syahrini ada kata Princess-nya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduuh, jangan dibilang supeeer gitu ah, kuatir saya jadi berbangga diri. Banyak kekurangan kok.

      Kalau buat saya, malah tidak mau seperti apa yang Tha inginkan itu, kecuali kalau memang anaknya memang punya minat yang sama. Sebab kalau tidak, malah jadi akan dijalani dengan terpaksa dan hanya jadi obsesi orang tua. Buat saya, biarlah mereka berkembang dengan minat dan keinginannya sendiri, kita mengarahkan.

      Syukurlah sudah terdaftar. Terima kasih ya.

      Hapus
  9. jd ibu rumah tangga itu mulia lho.
    sukses ya bun utk GA nya ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, semoga membawa berkah buat keluarga.
      Trima kasih Ina.

      Hapus
  10. Jadi semakin mengidolakan Bunda ini aku.

    Wanita bermain biola, sungguh istimewa.

    Semoga bahagia bersama keluarga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halah, mas Jaswan nih lho. Kan batal jadi violistnya.

      Trima kasih buat doanya, aamiin.

      Hapus
  11. Mimpi yang mulia... jarang zaman sekarang menemukan wanita yang ikhlas dan bermimpi jadi ibu rumah tangga..HIDUP IBU RUMAH TANGGA...Semoga surga menjadi balasanmu ya Bun...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Ya Rabb.
      Reward yang amat diimpikan itu mas Anton. Surga. #berbenah diri ah :)

      Hapus
  12. Sekarang Mas Budhi lagi pengen belajar biola..hadeeeh *lirik gitar dipojokan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, waaah...
      Mbak Esti, kalau mau belajar biola buka pakai gitar yang dipojokan. Kegedean qiqiqi.

      Hapus
  13. jadi super momy bun.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. ups... bukaaan. Super itu hanya milik Allah.

      Hapus
  14. Musik itu indah, ngebayangin Faiz mau enggak ya di musik? gitar dia udah pegang, drum udah...heheeee

    Yang penting impian menjadi Ibu Rumah Tangga mampu mengantarkan putra dan putri Bunda menjadi anak yang bisa membuat Bunda bangga. Satu lagi, Bunda jadi kenal sama blogger lainnya, klo Bunda main biola, sibuk ke luar negeri untuk konser? oh...

    Salam
    Astin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gitar dan drumnya cuma dipegang atau sudah pandai memainkannya nih mbak Astin? hehehe.

      Aamiin, Insya Alloh demikian mbak.
      Iya juga ya, ntar ga kenal mbak Astin yang imut dan manis ini :)
      Salam kembali

      Hapus
  15. menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang mulia dan rasanya tak ada habisnya. Semoga keluarganya makin diberkati :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gaji ibu rumah tangga juga banyak banget loh. Tak ternilai dengan materi.

      Hapus
    2. Ya bener itu mbak...setuju :)

      Hapus
  16. impian lah yang membuat hidup kita menjadi lebih bersemangat dalam meniti kehidupan ini,
    seruling dan biola...aku jadi ingat saat masih kumpul dibina musika kala kecil di kota Makassar :-)
    selamat berlomba...semoga menjadi salah satu yang terbaik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh mas Hari juga ikut Bina Musika ya dulu. Sekarang ini lumayanlah kalau buat ngajari anak-anak pelajaran kesenian dan praktek suling dan pianika.

      Terima kasih supportnya.

      Hapus
  17. biola adalah impian yang sampai sekarang belum bisa saya capai mbak, pengen seklai belajar biola, tapi behrubung belum ada kemampuan untuk beli biola dan biaya kursusnya , ditunda dulu, tapi ntah sampai kapan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biola yang dulu saya beli pakai uang tabungan itu, akhirnya dijual. Coba kalau kita sudah kenal dulu ya, bisa saya kasihkan ke mas Awal. :D

      Hapus
  18. Klo soal pelajaran kesenian, ampyun deh Mbak. dari SD-SMA nilaiku stabil :7.

    Apalagi klo suruh gambar, stress duluan pokoknya. Tapi aku juga pernah dan masih punya impian : pengen bisa main biola..atau piano deh. heheheh #mimpi lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biola dan piano tuh kayak raja dan ratunya musik #kata orang2.

      Sekarang saya sama musik hanya sisa2 saja mbak Rie. Apalagi sejak suami berhenti ngeband.

      Hapus
  19. Harga biola itu mahal ya mbak? Beaya kursusnya juga. Beda dengan gitar. Biola terlihat eksklusif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lumayan deh kalau harganya. Sayang juga biola yang dulu itu sudah dijual.

      Hapus
  20. Sama deh Bunda, Hidup berpindah-pindah kayak zaman megalitikum aja ya.... :D Semoga Menang ya GA nya...

    BalasHapus

Tulislah Komentar Anda Dengan Santun