Bahagia Bapak, Bahagia Kami

45 komentar
Bismillahirrahmannirrahiim,

Sejak kecil, aku memang paling dekat sama bapak. Mungkin karena aku anak perempuan satu-satunya dari empat bersaudara, membuat bapak memperhatikan aku lebih. Dulu waktu kecil, kalau aku dan saudara-saudaraku sedang menginginkan sesuatu, pasti aku yang disuruh membujuk bapak. Katanya saudara-saudaraku kalau aku yang minta ijin, biasanya dikasih. Aku memang paling tahu bagaimana mengambil hati bapak, apa yang membuat bapak senang dan bangga, aku memang tahu apa yang bisa membuat bapak tertawa.


Rupanya... Sedalam apa aku mengenal bapak, seperti itu pulalah bapak mengenal aku. Dari sejak aku kecil, remaja, dewasa dan menikah, bapak amat mengerti bagaimana 'menundukkan' aku. Bagaimana mengalahkan kekerasan hati yang aku punya, bagaimana membuatku menerima sebuah aturan atau keputusan yang semula ingin aku memberontaknya. Dan terakhir... Bapak amat mengenalku... Bagaimana membuat aku menerima sebuah keputusan besar dalam hidupnya.

*****
Yogyakarta, 2004.

Hari pertama aku dan keluargaku pulang ke rumah bapak untuk liburan anak sekolah.  Tak ada firasat apa-apa yang aku rasakan bahwa akan ada yang berbeda dengan kedatanganku ke Yogya kala itu. Teras rumah adalah tempat berbincang yang aku suka dari salah satu bagian rumah bapak. Jadi di sanalah semua cerita itu bermula.

Aku sedang ngobrol melepas rindu dengan bapak selepas maghrib. Tiba-tiba seorang gadis masuk gerbang rumah menghampiri teras. Aku tak mengenalnya, tapi bapak menyambutnya ramah, dan mempersilahkan duduk di sebelahku. Gadis itu menunduk seperti merasakan kecemasan, menuruti apa yang bapak suruh padanya. Hatiku mulai bertanya-tanya, mengapa gadis itu begitu canggung di depanku.

"Niken, kenalkan ini Lina. Kamu selama ini ingin punya saudara perempuan bukan? Lina akan jadi adikmu."

Suara bapak bagaikan dengungan ribuan lebah yang menukik tajam menyengatku. Aku tak siap dengan kenyataan yang mendadak ada di depan mataku. Rasanya ku ingin bangkit dari duduk dan meninggalkan bapak dan Lina. Tapi tulangku lunglai bagai tak bertenaga. Aku bahkan merasa tak bisa menggerakkan tubuhku. Aku melirik pada Lina yang semakin menundukkan kepalanya. Aku dengar isakan tangisnya, aku menduga dia cemas akan reaksi yang akan aku tunjukkan. Aku diam. Bibirku kelu. Hatiku berkecamuk banyak rasa. Pikiranku langsung pada almarhumah ibu. Perlahan-lahan, sebuah rasa merambat naik membuatku tak bisa menahan air mata. 

Yah... Bapak amat mengenalku. Sejak kecil aku memang ingin punya adik perempuan, karena tiga saudaraku adalah laki-laki semua. Bapak tahu, hati siapa yang harus ditundukkan untuk menerima rencana hidup bapak yang akan dirangkainya dengan keluarga lain. Hatiku. Karena kalau aku berkata YA, maka mas Yoyok, Didit dan Andi juga akan berkata YA. Kalau aku bisa memeluk Lina, maka ketiga saudaraku juga akan menerimanya. Bapak tahu, aku sebaiknya dipertemukan dahulu dengan Lina dari pada dengan ibunya atau kakak-kakak Lina. Bapak mengenalku, bahwa hatiku akan tersentuh dengan sosok adik perempuan yang selama ini aku dambakan.

Bapak terus berbicara menceritakan siapa Lina, ibunya dan dua kakak Lina lainnya. Aku tahu, bapak adalah seorang perencana yang baik. Aku yakin, bapak sudah menyiapkan plan A, plan B untuk meyakinkan aku agar bisa menerima. Aku kenal bapak seperti bapak mengenal aku. Sekalipun saat itu aku merasa, bapak berharap terlalu banyak padaku dalam waktu singkat. Air mata yang mengalir membuatku bicara dengan terbata-bata.

Setelah berdoa dalam hati, beberapa kali menarik nafas panjang, kemudian dengan tersendat-sendat aku sampaikan isi hatiku.

"Niken ingat pesan ibu, sayangi dan hormati bapak sebab bapak amat sayang sama anak-anak, yang rukun sama saudaramu. Niken punyanya bapak, selama ini rasanya Niken belum bisa membuat bapak bahagia. Niken pengen bapak bahagia. Kalau bapak bisa bahagia dengan ini semua, Niken akan menerima keputusan bapak. Tapi... beri Niken waktu untuk bisa membuat semuanya berjalan sesuai harapan bapak."

Selanjutnya, aku berkata pada Lina,"Kita akan jadi saudara, kita harus sama-sama membuka diri untuk saling mengenal. Pelan-pelan aja Lina."

Malam itu, aku hanya bisa merasakan sebuah kelegaan karena sudah mengambil keputusan yang aku rasa benar. Pelukan bapak amat erat sambil menepuk-nepuk punggungku. Bisikan bapak mengucapkan  terima kasih bagaikan siraman air sejuk pada hatiku. Bapak bahagia.

Bahagiakan aku? Malam itu aku hanya bisa mencoba merangkai harapan dalam hati. Sebab aku belum mengenal wanita yang akan mendampingi bapak pada hari-hari selanjutnya. Tapi... Bapak bahagia... Buatku itu lebih dari cukup.

Yang terjadi selanjutnya adalah kebesaran Alloh. Benar saja, ketiga saudaraku menerima keluarga baru dengan lebih mudah.

"Mbak Niken memang keras, tapi dia pemersatu dari kami berempat." Itu yang pernah dikatakan adikku Andi.

Aku yang dari dulu ingin punya saudara perempuan, Alloh langsung memberikan tiga adik cantik-cantik dan baik, Nita, Utari, Lina. Sedangkan Ibu Sriatun ternyata seorang wanita yang baik hati, penyayang dan perhatian. Beliau menerima aku dan ketiga saudaraku dengan amat baik. Kasih sayang ibu Sriatun melengkapi kebahagiaan keluarga kami.


Sekarang kami bertujuh, tidak lagi berempat atau bertiga. Kami menamakan  persaudaraan kami ini dengan nama 7 ELEMENTS.  Yoyok, Niken, Didit, Andi, Nita, Utari dan Lina. Dari hari ke hari, kian terasa keindahan dari kerukunan keluarga kami. Kami bertujuh membuat acara kumpul-kumpul tiap dua bulan sekali. Kekuatan persaudaraan 7 Elements kian terpatri di hati kami semua. Semua element sudah berkeluarga sekarang. Anak-anak kami pun saling menyayangi dan meneruskan keeratan persaudaraan dari orang tuanya. Bertujuh ternyata lebih seru.

Alhamdulillah... Begitu besar nikmat Alloh bagi keluarga kami. Kepada almarhumah ibunda, kami semua sering merangkaikan doa bersama, mengunjungi makam ibu bersama, mengenangnya bersama.

JAKARTA 2013.


Berikut ini adalah Kekuatan Elements dalam mudik tahun 2012. Video dibuat oleh Element 4, Andi. Menggambarkan perjuangan kami mudik Jakarta-Yogyakarta yang ditempuh selama 26,5 jam. There's no price we wont pay, Father. The 7 Elements love you.




“Artikel ini disertakan dalam Semut Pelari Give Away Time, Kenangan paling berkesan dengan papa”




45 komentar:

  1. Bundaaa, dengan baca artikel ini bikin aku merasa bersyukur kemarin bisa kumpul keluarga. Terutama bapak yang jarang sekali bertemu. Kemarin benar-benar membahagiakan bisa lihat Bapaak dan Mimi tersenyum. Artikelnya sangat menginspirasi.... Suka!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kumpul keluarga (apalagi bawa rantang ^_^) memang amat menyenangkan. Melihat wajah ceria orang tua memang sebuah kebahagiaan yang indah, ya mas Qefy...
      Suka jugak sama komennya....

      Hapus
  2. Terharu bacanya Mbak Niken. Semoga keluarga Mbak Niken damai dan rukun seperti ini terus. Bapak pasti lelaki yang punya kharisma sendiri ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...
      Setiap orang tua punya kharismanya masing-masing kan mbak Evi..

      Hapus
  3. Membahagiakan orangtua itu perbuatan mulia dan bernilai ibadah Jeng.
    Pernikahan bukan hanya urusan seputar kamar tetapi ada yang lebih penting lagi.
    Dan ternyata sikap Jeng tidak salah khan.
    Semoga berjaya dalam GA
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setiap anak pasti ingin membahagiakan orang tuanya.
      Dengan cara apa orang tua ingin dibahagiakan, rasanya akan lebih tepat dilakukan dari pada kita memaksakan cara kita sendiri.

      Trimakasih pakde
      Salam kembali

      Hapus
  4. Wah keren deh bunda Meski pun keras tp justru jd perekat keluarga. Semoga 7 elementer bahagia selalu.. Amin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi si keras ini gampang melow kok mbak Muna. hehehe

      Hapus
  5. Tersanjung melihat ketegaranmu Bunda.

    Lewat tulisanmu yang indah ini membuat jiwamu yang kenyataannya keras menjadi lebih lembut dan halus.

    7 Element yang sekarang menjadi keluarga, semoga selalu rukun dan hidup bahagia.

    Bunda, kau memang berjiwa Kartini.

    Jaswan salut padamu.

    Salam untuk keluarga di Jakarta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keras tapi selalu berusaha berpikir positif dan belajar bertoleransi dengan orang lain. Keras tapi selalu ingin belajar menjadi lunak.

      Hapus
  6. Akhirnya beberapa element pun bersatu padu... air,bumi,api,udara #eh kok malah avatar
    Seru mak.. kisah hidup yg seruuu aseeliii... ga gampang itu mak tapi Alhamdulillah semua jadi indaaah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kirain mau pesen minuman slurpy... hihihi...itu sih sevel ya..

      Emang seru le... Bersyukur sekali sama kenikmatan yang Alloh berikan. Kita memang tak pernah tau apa yang menjadi jalan hidup kita. Jalani dengan ikhlas aja le.

      Hapus
    2. iyaa mak, begitupun dalam mencari kisah spertinya juga harus ikhlas ya Mak ^_^

      Hapus
    3. iyo le... Layakkan dirimu buat dapat yang terbaik...

      Hapus
    4. nah itulah Mak, melayakan diri itu, itu.... -_-

      Hapus
    5. ada kerjanya le... nggak cuma nunggu..
      Tepe-tepe misalnya

      Hapus
  7. bapak pasti bangga punya anak seperti mbak Niken

    BalasHapus
    Balasan
    1. Niken yang bangga punya bapak seperti beliau :D

      Hapus
  8. Salut dengan sikap mbak niken yang bijaksana. Kadang sebuah keputusan itu terasa menyakitkan, namun demi orang tua, apalagi untuk membahagiakan orang tua yang tinggal satu, meski keputusan itu nampaknya menyakitkan, seketika itu akan berubah menjadi sebuah harapan, yaitu kebahagiaan untuk ayah tercinta. Dan memang sesuatu yang didasari dengan ikhlas pasti hasilnya menyenangkan. Ternyata keputusan yang nampaknya menyakitkan, berubah menjadi sesuatu yang membahagiakan. Semoga keluarga besar mbak niken senantiasa dilingkupi kebahagiaan....amien.
    Dan semoga menang mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. terima kasih untuk doa mbak Yuni.

      Saya yakin, kita sendirilah yang membuat hidup kita ini mudah atau sulit. Tak perlu mencari kesalahan pada orang lain. Kita ingin orang menerima kita dengan baik maka bersikap baiklah pada orang lain. Anak selalu bisa membahagiakan orang tuanya, selama yang kta pakai adalah ukuran dari Alloh,bukan materi.

      Hapus
  9. Dengan bertambahnya saudara, tambah pula rasa bahagia ya, Bund. . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya dong Idah... Tambah rame tambah rejeki.

      Hapus
  10. keluarganya nambah, rame jadinya. Benar memang, kebahagiaan bapak adalah segalanya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi rame banget. Kalau lebaran jadi makin meriah. Alhamdulillah...

      Hapus
  11. Subhanallah... selama ini saya menilai penggabungan 2 keluarga yang semula asing itu adalah hampir mustahil. Ada contohnya dalam keluarga saya. Ternyata keluarga Bunda bisa berjalan dengan begitu indahnya ya... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Segala perbedaan yang ada kami terima sebagai sebuah paket yang tak bisa dipisahkan. Kalau ada yang kurang pas, akan kami diskusikan. Jadi tak ada salah paham. Selisih pernah ada, tapi Alhamdulillah bisa segera selesai dan saling memahami bahwa dasarnya bukanlah rasa tidak suka, melainkan perbedaan kebiasaan saja.

      Hapus
  12. Maaf bunda baru sempet mampir :P Terima Kasih yah partisipasinya...

    BalasHapus
  13. Keputusan bijak yang bener-bener bikin bahagia Umii,
    akuu juga punya saudara tiri, kalo di gabung jadi 7 jugaa looh Umi :')
    Sukses yaa buat GA-nya Umiiku, semoga jadi salah satu pemenang, aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Alloh menggerakkan hati Umi ketika itu. Atas ijinNya semua berlaku demikian.

      Waah... rame juga ya saudaraan Ranii...

      Makasih ya...

      Hapus
  14. tidak mudah menerima dan menggabungkan dua keluarga yang berbeda dan kita tidak mengenal sebagaimana kita mengenal saudara sekandung. Ini membutuhkan sebuah kelapangan dada dan keikhlasan untuk satu tujuan, yaitu kebaikan bersama dan kebersamaan dalam kebahagiaan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, mas Pakies... kami semua diberi kelapangan dada oleh Alloh.

      Hapus
  15. Tak heran jika 7 elements begitu erat ikatan persaudaraanya, sebab ada lem kasih sayang yang merekatnya..

    sukses GA-nya Bun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lem nya kuat nempelnya. Kayak lem super...
      Makasih mas Lozz

      Hapus
  16. Selalu terasa indah, membaca tulisan bunda Niken... semoga sukses GA-nya ya Bun...jadi ikut nggak ya? Sudah ada calon pemenang sih disini....hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.... ini pasti karena adik almamater menghormati kakaknya. Jangan kuatir... kakak bisa ngalah sama adiknya... ^_^
      Makasih mas Anton

      Hapus
  17. Jogja Jakarta lebih dari 26 jam... ckckckck

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lumayan deh pegelnya. Tapi terbayar begitu ketemu bapak ibu

      Hapus
  18. selalu tergetar dan terharu membaca persatuan saudara2 dari ibu yang berbeda. betapa asyik dan mengasyikkan. semoga Bapak senantiasa dilimpahi kesehatan dan keberkahan, melihat anak-cucu menjadi hamba yg beribadah. Semoga berjaya dalam kontes ini Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...
      makasih mas Rudi. Bila dijalani dengan ikhlas oleh semuanya, akan bisa rukun dan bahagia.

      Hapus
  19. ALLAH sudah menjawan do'a Bu Niken dengan memebrikan adik perempuan.
    Ayah dan anak bagaikan sahabat yang saling mengerti ya Bu Niken, cerita yang sangat menyentuh :)

    Salam hangat dari Bali Bu,...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Hani. Alhamdulillah semua ini atas ijin Alloh.

      Salam hangat dari Jakarta

      Hapus

Tulislah Komentar Anda Dengan Santun