Intuisi dan Pemahaman Masalah Untuk Calon Pemimpin

42 komentar
Bismillahirrahmannirrahiim,

Mempunyai lima anak dengan usia dari 3,5 tahun sampai 17 tahun, rasanya harus diakui kalau hidupku memang penuh warna. Sebentar harus bisa menyelami keluguan di kecil, sebentar harus bisa memahami si sulung dan sambil menjaga perasaan anak-anak yang di antaranya. Menyeimbangkan sikap agar menjadi diterima oleh semua anak, bukanlah hal mudah dan menuntut kesabaran juga keikhlasan. Aku belajar berproses bersama mereka. Karena buatku, belajar itu tidak hanya harus dilakukan oleh anak-anak, tapi juga orang tua, agar semuanya menemukan cara untuk menyelaraskan hubungan kekeluargaan yang nantinya akan kita bawa ke tengah masyarakat.

Karenanya, aku sering mengatakan bahwa pekerjaan menjadi ibu rumah tangga adalah the most chalenging job in the world. Pekerjaan yang amat menantang. Begitu menantangnya, hingga ketika asyik bermain dengan anak-anak, sesungguhnya kita sedang menciptakan sejarah kita sendiri, dan pada saat kita menggendong anak kita dengan penuh kasih sayang, sesungguhnya kita tengah menggendong masa depan kita sendiri.

Kita semua tentu sepakat, bahwa anak adalah cerminan orang tuanya. Sikap dan perilaku orangtua sangat berpengaruh terhadap perkembangan fisik dan kondisi psikologisnya. Mengenai hal ini, sungguh aku belajar dari kesalahan demi kesalahan dan kemudian berusaha memperbaikinya. Inilah yang aku maksud dengan berproses. Karena apa yang ada dalam teori buku-buku sering tidak pas dengan apa yang aku alami dalam keseharian.

Landasan utama dalam mendidik anak agar menjadi pemimpin yang kuat fisik dan ilmunya adalah dengn menanamkan nilai-nilai agama dan keimanan, agar anak mempunyai filter dari pengaruh-pengaruh dari luar. Agar anak bisa membedakan siapa teman yang membawa pengaruh baik atau buruk dalam hidupnya. Nilai-nilai agama juga akan membuat anak menyadari akan tugas dan kewajibannya dalam beribadah dan menuntut ilmu.

Sebagai orangtua, seringkali kita mudah menyalahkan orang lain apabila pada diri anak kita mengalami ketidakberesan atau ketidakseimbangan atau kesalahan. Padahal kalau kita mau melihat pada diri sendiri ada banyak kesalahan yang sering kita lakukan. Dari apa yang aku jalani dan amati selama mendidik anak-anakku, aku menemukan beberapa hal penting yang merupakan kesalahan orang tua dalam mendidik anak, yaitu:

1. Bersikap Over Protektif dan Memanjakan Anak.

Ini adalah sikap orang tua yang selalu ingin mengambil alih semua tugas dan peran anak. Apapun permintaan anak akan dituruti sebab tidak ingin anak bersedih. Orang tua ingin selalu menyenangkan hati anaknya. Baginya kesedihan anak adalah kegagalan orang tua. Sebisa mungkin memfasilitasi semua kebutuhan anak bahkan terkesan berlebihan, dengan tujuan ingin membahagiakan anak. Anak tak boleh terluka fisik dan hatinya.

Sebagai orang tua, kita tak harus selalu menuruti semua kemauan atau keinginan anak-anak. Kita harus bisa mengajarkan kepada anak sebuah usaha untuk mendapatkan sesuatu, agar anak bisa lebih menghargai sebuah hasil. Belajar mewujudkan keinginan adalah belajar bagaimana mengelola situasi dan kondisi yang mendukung atau menghambatnya.

Sikap over protektif dan memanjakan anak ini justru malah membuat anak menjadi tidak percaya diri. Terbiasa dalam kesenangan, tak memahami bahwa dalam hidup ada sisi susahnya. Membuat anak jadi tidak memiliki semangat juang untuk mendapatkan sesuatu, menjadi gampang menyerah, atau tidak strugle. Sedikit saja merasakan ketidaknyamanan, anak akan merasa frustasi. Seorang pemimpin yang baik tidak bisa tumbuh dari jiwa yang frustasi.

Menumbuhkan semangat menabung atau memberikan chalenge kepada anak akan membantunya mewujudkan sebuah impian. Mendorong anak mempunyai impian jangka pendek ataupun jangka panjang akan membuatnya merasa mempunyai tujuan.

Dari hal kecil, aku biasa melakukan ketika anakku ingin membeli mainan baru. Kesempatanku untuk memberikan chalenge untuknya, yaitu dengan mengumpulkan poin kebaikan. Misalnya, anak harus mengumpulkan 50 poin kebaikan (atau jumlah yang disepakati bersama). Tetapkan dulu apa-apa yang harus dilakukan anak untuk mendapatkan poin tersebut. Makan habis, membereskan mainan dan alat tulis, membuka jendela kamar tiap bangun tidur, menabung, dan lain-lain yang semua itu diharapkan akan menjadi perbaikan pada diri anak. Kalau 50 poin sudah penuh, barulah mainan dibelikan. Dengan begitu, anak belajar: menunda keinginan, berusaha untuk mendapatkan kesenangan, lebih apik dalam merawat barangnya, dan perubahan-perubahan ke arah perbaikan.

2. Bersikap Otoriter.

Sikap ini adalah kecenderungan orang tua untuk mengatur dan menguasai anak secara berlebihan, terlalu mencampuri urusan anak, yang mengakibatkan anak tumbuh dengan kepribadian yang lemah dan rentan, terutama pada saat mereka menghadapi masalah atau tekanan dari luar. Anak juga akan sulit beradaptasi dengan lingkungan baru.

Terlalu banyak kata "jangan" yang diucapkan oleh orangtua kepada anaknya. Rasanya anak harus selalu mau mengikuti apa kata orang tua atau harus nurut. Mengatur apa-apa yang harus dikerjakan anak, termasuk mengatur dalam menentukan masa depan anak.

“Itu salah, ini benar,” selalu diucapkan tanpa memberi kesempatan anak belajar dengan berproses. Bagi orang tua, anak harus berhasil lebih baik dari dirinya. Sebagai sebuah pembuktian bahwa orang tua berhasil mendidik anaknya. Kadang menjadi sebuah obsesi yang penuh dengan ambisi orang tua.

Menetapkan target terlalu tinggi dan menuntut anak untuk dapat mencapainya. Hal ini membuat anak menjadi stress, dan bagaikan bom waktu, hal ini bisa meledak suatu hari sebagai wujud berontaknya anak akan tekanan yang dialaminya selama ini.

Kepada anak-anak, aku selalu mengarahkan mereka untuk membuat afirmasi untuk sebuah tujuan. Contohnya ketika anakku hendak menghadapi Ujian Nasional, aku menyerahkan sepenuhnya pada anak target nilai yang ingin mereka raih dan sekolah mana yang hendak menjadi tujuan mereka. Aku tidak ingin, anakku merasa bahwa mereka belajar hanya untuk menuruti keinginan orang tua. Kalau mereka diberi kepercayaan menentukan sendiri nilai dan sekolah tujuan, mereka akan bertanggung jawab dengan pilihannya. Aku berikan support dengan memfasilitasi apa-apa yang menjadi kebutuhan mereka.

3. Bersikap Mengabaikan.

Mengabaikan di sini maksudnya adalah, orang tua yang tidak memberikan motivasi, bimbingan, nasehat kepada anak-anaknya. Anak tumbuh tanpa penghargaan dan sanjungan. Padahal perasaan ingin dihargai itu adalah kebutuhan kita semua temasuk anak-anak. Anak juga memerlukan hadiah atau reward dari usaha-usaha mereka dalam melakukan sesuatu. Semua itu sebagai motivasi mereka untuk melangkah ke masa depannya.

Bersikap mengabaikan juga termasuk tidak memberikan teguran atau peringatan atau bahkan hukuman bila anak melakukan kesalahan. Padahal hal ini perlu untuk mengajarkan anak yang baik dan yang buruk, yang salah dan yang benar. Anak yang tak pernah mendapatkan teguran akan tumbuh semaunya, tidak disiplin dan pembangkang.

Perlu diingat, hukuman dilakukan bila langkah-langkah lain tak berhasil mengubah kebiasaan dan tingkah buruk anak. Lakukan dulu nasehat, anjuran, peringatan dan tak lupa memberi contoh yang baik, barulah beri hukuman bila semua itu sudah tidak mempan.

Karena anakku banyak, sudah tentu akan sering terjadi gesekan-gesekan diantara mereka. Bila ada pertengkaran diantara mereka, aku biasa mengumpulkan mereka dan meminta mereka mengemukakan pendapatnya. Setelah ditemukan benang merahnya, barulah nasehat diberikan. Biasanya anak-anak akan lebih bisa menerima hal ini dibandingkan bila aku memarahi mereka seketika saat ada masalah. Karena ternyata masing-masing mereka punya alasan mengapa mereka berbuat begitu dan mendengarkan alasan mereka membuat mereka merasa dihargai.

4. Sikap Lemah dan Tidak Punya Pendirian.

Orang tua yang tidak punya pendirian sering tidak konsisten pada apa yang dikatakan atau apa yang menjadi peraturan yang dibuatnya sendiri. Kadang orang tua memarahi bila anak mengerjakan sesuatu dan di waktu yang lain memujinya untuk hal yang sama. Atau, orang tua melakukan sesuatu, tapi anak tidak boleh. Contohnya, anak tidak boleh nonton tv dan disuruh belajar, tapi orang tua malah menyalakan tv dan duduk santai menontonnya. Contoh lain, meminta anak untuk mebuang sampah pada tempatnya, tapi orang tua membuang sampah sembarangan.

Padahal anak sebagai calon pemimpin yang bijaksana perlu diajarkan bagaimana menegakkan kebenaran dan mau mengakui kesalahan. Untuk itu, anak perlu mendapat ketegasan sikap dan contoh yang baik, agar anak tidak menjadi ragu-ragu atau bahkan menganggap remeh orang tuanya. Sebuah aturan yang sudah disepakati bersama harus ditegakkan bila memang ada yang melanggarnya. Menjadi teladan yang baik bagi anak-anak adalah sebuah keharusan. Orang tua juga harus mau mengakui kesalahan dan minta maaf kepada anak. Dengan begitu, anak belajar menghargai dan mematuhi aturan.

Anak-anak cukup kritis memperhatikan dan bahkan memprotes ketidakkonsistenan orang tua. Sayangnya tidak semua anak mampu mengungkapkannya. Sebagian dari mereka hanya memendam kekecewaan dan memperlihatkannya dalam sebuah sikap yang melawan.

5. Sikap Pilih Kasih

Terlalu memberikan keistimewaan kepada salah satu anak akan menimbulkan kecemburuan dari anak yang lain. Merasa tersisih dari saudaranya bisa menimbulkan rasa dendam dan sakit hati. Orang tua tidak boleh pilih kasih dan harus bersikap adil kepada anak. Dalam mencurahkan kasih sayang dan perhatian harus sama. Dalam memuji dan menegur juga harus seimbang. Menjadi pemimpin yang adil di kemudian hari, anak sejak dini harus berada dalam suasana yang seimbang dalam hubungan persaudaraannya.

Rasulullah saw bersabda,”Bertakwalah kepada Alloh dan bersikap adillah kepada anak-anakmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bersikap adil bukan berarti selalu memberikan apapun dalam jumlah yang sama, melainkan disesuaikan dengan usia dn kebutuhan anak. Anak usia 17 tahun tentunya berbeda kebutuhannya dengan anak berumur 4 tahun. Maka dalam memberikan uang saku atau pemenuhan kebutuhannya juga harus berbeda. Anak harus diberikan pemahaman akan konsep adil yang sebenarnya. Tidak mungkin bisa disamakan uang saku untuk anak sulungku yang sudah kelas XII dengan anak bungsuku yang masih Play Group.

Itulah kesalahan-kesalahan orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Lebih khususnya, seorang ibu amat berperan penting di dalam tumbuh kembang anaknya. Semua itu membutuhkan kesadaran dari ibu atau orang tua untuk mau berubah dan memperbaiki diri agar anak-anaknya bisa menjadi generasi yang penuh rasa optimis dan percaya diri menyambut masa depannya. Anak yang tumbuh dengan rasa percaya diri, mandiri, berani, imajinatif, aktif, pandai bersosialisasi, kelak akan menjadi pemimpin yang sehat dan pintar jasmani dan rohani.

Satu hal yang perlu diingat:
Mendidik anak yang kita harapkan bisa menjadi calon pemimpin yang sehat dan pintar, tidaklah membutuhkan segudang teori, tetapi memerlukan intuisi dan pemahaman masalah. 





42 komentar:

  1. Tulisannya bagus, Mba Niken. Menjadi masukan jg bagi saya :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, terima kasih mbak Leyla Hana :)

      Hapus
  2. wah ulasannya lengkap nih....
    maklum sudah 5 anak yang dididik pasti sudah punya kjam terbang tinggi...
    bisa untuk edukasi cara mendidik anak nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terbangnya belum tinggi kok mas Insan. Masih belajar.

      Hapus
  3. Indeed.. Being a Mom is the most chalenging job and adventure in the world :) aku byk blj nih de artikel bunda, Moga2 bisa jd ibu yg sebaik bunda. Sukses bun ngontesnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga banyak belajar dari tulisan-tulisan mbak Muna :)

      Makasih supportnya.

      Hapus
  4. Waahh... benar2 'the most chalenging job in the world' ya... Saya gak bisa ngebayangin dulu waktu ibu saya punya 7 anak yg masih kecil2. Thanks to my Mom.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau cuma butuh tantangan ga usah keluar rumah ya mbak Santi... Di dalam rumah banyak! Hehehehe...

      Hapus
  5. sambil baca sambil ikuta belajar dari tulisan mbak niken

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duduk sebelah mbak Lidya aah... Biar nulis sendiri tetap harus belajar menerapkannya dalam keseharian.

      Hapus
  6. tapi emang bener mak kadang anak itu merasa orang tuanya pilih2... ato otoriter, ato emang anaknya yg ndableg yee ckckck

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang jadi ortu harus tau batasannya Le. Kapan hrs melepas kapan harus mengatur. Biar pas gitu. Ajak anak diskusi itu bisa membantu spy anak nggak merasa tidak dihargai.

      Hapus
  7. Ulasannya keren. Harus dicatat di dalam hati dan dipraktekkan. Makasih share-nya, Bunda Niken *salim*
    Semoga sukses untuk lombanya yaa ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mempraktekkannya ya mbak Inna.

      Aamiin, terima kasih :)

      Hapus
  8. serius banghet, menyentuh serasa menggandeng aku untuk mendidik noofa.. bbrp point aku suka.. insyaAllah aku mau praktekkan untuk noofa, kalo pun nantinya tidak pas, paling tidak bisa untuk refrensi..

    bunda emang joooss............

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku rak kuat gendong Noorma. Hihihi...
      Kalau nggak pas, atur aja sendiri ya ^_^

      Bunda jualan extra josss

      Hapus
  9. sayange aku gak suka minum extra Joz.. :p

    iya.. soale kan mendidik anak itu caranya beda2 thok... kaya pae ku le ndidik aku beda karo coro ndidik adiku, bedo karakter soale.... hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naah.... Ya itu letak chalenging-nya. ^_^

      Hapus
  10. Tipsnya komplit bund
    Tapi agak susah kalau ada emak, sering beda pendapat. Maklum cucunya baru 1. Semoga saya bisa mempraktekkannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang harus ada kesepakatan dengan kakek dan neneknya, mbak. Kalau tidak, akan membuat anak bingun dalam bersikap.

      Hapus
  11. Tips yang sangat padat , Semoga lahir dan lahir bunda - bunda yang baru yang berpikiran dan berwawasan seperti bunda Niken Kusumowardhani.

    Semua orang tua menginginkan anaknya mandiri.
    Anak yang mandiri tentu sangat membanggakan orangtuanya. Selain tidak selalu mengandalkan orang tuanya, ia akan lebih bertanggung jawab pada kehidupannya.

    Sikap mandiri tidak datang sendiri. Untuk menciptakannya dibutuhkan kerja sama antara Kita sebagai orang tua dan anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas... butuh kerja sama yang baik antara orang tua dan anak. Dan itu berarti komunikasi juga harus baik.

      Terima kasih kunjungannya

      Hapus
  12. utk urusan anak, sy jg byk belajar dr Mbak Niken yg udh py anak 5 :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga belajar banyak dari cerita-cerita mbak Myra tentang Keke dan Nai

      Hapus
  13. Ulasan artikel yang bermanfaat Mba, semoga bisa menjadi pegangan bagi para ibu dan calon ibu dalam menddidik dan membina masa pertumbuhan dan perkembangan pada usia anak.

    Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang masing-masing anak membutuhkan pendekatan yang berbeda-beda. Harus ada rasa saling membuka diri untuk itu.

      Hapus
  14. Otoriter dan Memanjakan Anak adalah dua hal yang umum terjadi dalam memperlakukan anak anak kita. Saya sendiri yang baru belajar menjadi BAPAK mengalami degradasi dan juga kegalauan dalam mendidik anak anak saya. Saya mungkin otoriter, sedangkan istri punya konsep dengan cara pendekatan (approach). Saya keras, istri mendidik lembut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebuah kerja sama yang baik tuh Pak Asep. Saling melengkapi dengan istri dalam mendidik anak bisa jadi warna yang indah.

      Hapus
  15. hmmm.. tulisan mbak niken selalu menyentuh hati...
    jadi tabungan ku kelak untuk mendidik anak2..jika diberi momongan oleh Allah swt...,

    Terimakasih sudah menginspirasi mbak... sukses untuk GA nya.. aamiin

    BalasHapus
  16. Ini udah kayak pedoman, tuntunan, panduan, kurikulum, tata cara, tata tertib, dsb. Mantep Bun! Kapan gue bisa ngerasain itu semua?

    Sukses kontesnya, Bundaaaaaaaaaaaa .... :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau mau ngerasain itu semua, ayok kita ngelamar ke pulau sebrang dulu :D

      Makasih ya Andy...

      Hapus
  17. Nah loh >.<)
    mamah harus baca nih 5 point di atas, ntar ah aku kasih tau mamah hihihi
    tapi yah namanya juga manusia
    kalau saya sebagai anak sih, saya punya filter dan firewall tersendiri, jadi kalau salah satu dari 5 poin itu keluar, saya bisa ambil kebijakan sendiri xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau sudah ada saling pengertian anatar anak dan orang tua, akan lebih mudah menyelaraskan.
      Salam buat mamah ya ^_^

      Hapus
  18. keren bun....
    saya juga belajar ini tiap hari di kampus,,, ingin segera praktek biar gak hanya teori tapi sayang ini suami sama anak kok belum muncul2 ya i hidup -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga segera dipertemukan dengan pasangan hidupnya ya Lulu

      Hapus
  19. Share yang bagus, mba Niken.

    BalasHapus
  20. Banyak ibu yg pilih kasih ya mbak. aku mngalami yg ini.

    BalasHapus
  21. Bagus mbak Niken ... kebayang punya 5 anak ... pasti amat berwarna hidup mbak Niken ..

    BalasHapus
  22. Ulasan nya Menarik sekali. Dn pas saya sedang belajar. Saat ini saya mmounyai anak 1 berusia 2 bulan. Tapi saya pribadi ingin mempersiapkan pengetahuan mulai sekrg.tks mba Niken . Salam kenal.

    BalasHapus

Tulislah Komentar Anda Dengan Santun