Kebanggaan Dengan Sujud Syukur

55 komentar
Bismillahirrahmannirrahiim,

Sarapan pagi adalah saat yang paling tepat untuk berbincang-bincang dengan anak-anak sebelum mereka berangkat sekolah. Pada pagi hari, anak-anak masih fresh dan semangat. Kalaupun hari itu mereka sedang mempunyai ganjalan di hati, obrolan ringan saat sarapan pagi bisa menjadi ajang penyemangat bagi mereka. Memulai hari dengan memberikan pujian dan sapaan hangat membuat anak-anak membawa perasaan positif ke sekolah. Harapanku tentunya akan membawa pengaruh baik pada keseharian yang akan mereka lalui.

Pagi itu topik obrolan adalah tentang hari raya kurban. Beberapa pertanyaan datang dari Hilman, anakku nomor tiga. Tentang apa hukumnya, bagaimana ketentuannya. Aku menjawab semampuku dan meminta Luthfan, si sulung untuk menambahkan apa yang dia tahu. Sulungku itu... selalu saja membuatku merasa tercengang pada sikap dan kata-katanya yang sering tak terduga.

"Kemaren, guruku tanya sama aku, Luthfan, kamu nggak ikut patungan kelas untuk kurban kambing?"

"Nggak, Bu. Maaf, setahu saya ketentuan kurban adalah satu ekor kambing untuk satu nama. Tidak bisa untuk atas nama satu kelas."

"Nggak apa-apa kali, Fan. Ini kan sebagai pelajaran untuk menumbuhkan semangat berbagi dan bersedekah kepada orang lain."

"Maaf, Bu. Orang sudah banyak yang salah kaprah. Saya nggak mau ikut-ikutan. Kalau mau menumbuhkan semangat berbagi, sekalian saja mengajarkan nilai-nilai agama yang benar. Tidak harus dengan patungan kambing untuk atas nama satu kelas."

Subhanallah... Sungguh aku tercengang mendengar cerita Luthfan. Sebuah keberanian sikap yang dia tunjukkan pada gurunya karena dia merasa apa yang dipahami dan disampaikannya adalah kebenaran.

"Trus Bu Guru bilang apa, Nak?" Tanyaku penasaran.

"Diam aja, pergi ninggalin aku. Biarin aja kalau sampai nilai agamaku jelek karena ini, aku bakal protes. Tapi kalaupun jelek kan cuma nilai agama di sekolah. Semoga di mata Alloh tidak." Tegas sekali nada suara Luthfan.

Mendengar cerita Luthfan, Astri yang di sekolahnya juga sedang diminta untuk hal yang sama jadi merasa tahu harus bersikap bagaimana. Dia akan mencontoh kakaknya. Setiap tahun memang sudah biasa pihak sekolah anak-anak meminta patungan kambing untuk dipotong atas nama kelas masing-masing. Biasanya aku memang menolak memberi dan memberikan pemahaman agar kita mulai dari diri sendiri untuk berubah dan memperbaiki.

Jujur, aku bangga dengan sikap Luthfan. Sikap tegasnya yang tak ragu menghadapi gurunya adalah sebuah kemantapan hati akan tersambungnya dirinya kepada Alloh. Dia tidak takut akan resikonya. Aku bangga pada anakku karena dia bisa mengatasi persoalannya sendiri. Aku bangga pada anakku karena dia bisa menjadi panutan untuk adik-adiknya.

Sebagai seorang ibu, saat ini hal yang amat aku upayakan adalah Qu'anfusakum wa'ahlikum naro. Hingga bila saatnya aku meninggalkan anak-anak kelak, mereka memiliki keimanan yang kuat sebagai dasar hidupnya. Sebetulnya pengetahuan agamaku masihlah amat sedikit, tapi aku punya semangat belajar yang tinggi untuk memperbaiki diri. Sungguh aku amat takut, bila kelak aku mati, aku belum cukup membekali anak-anak dengan keimanan yang baik. Bagaimana aku harus mempertanggung jawabkan semuanya kepada Alloh?

Kebanggaan bagiku adalah manakala anak-anak mampu mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan berlandaskan nilai-nilai agama. Kebanggaan buatku adalah sebuah rasa syukur akan kepercayaan Alloh padaku menitipkan anak-anak yang baik dan bisa diberi nasehat melalui firman-firmanNya.

Jawaban Luthfan kepada gurunya adalah wujud dari tersambungnya kalbu kepada Alloh. Pertanyaan-pertanyaan Hilman adalah sebuah proses belajar yang aku harapkan kelak akan menjadi sebuah kebanggaan yang menjadi dambaanku. Aku ingin anak laki-lakiku kelak akan menjadi pemimpin yang kuat fisik dan ilmu.

Aku ingin menjadi seorang ibu yang bisa mengantarkan anak-anaknya menuju masa depan yang bermanfaat dan bermartabat di mata Alloh. Dan untuk itu semua, aku bersedia berproses dan belajar bersama anak-anak. Hingga bila saatnya tiba, kami sama-sama merasakannya sebagai sebuah kebanggaan dengan sujud syukur akan nikmat Alloh kepada keluarga kami, sekecil apapun itu.




Memang benar apa yang disampaikan dalam trailer novel Cine Us... "Melelahkan sekali kalau kita terus mengejar pengakuan dari orang lain. Kepuasan itu dari sini (hati), bukan dari sana (menunjuk gedung)."  Kita memang tak perlu mencari pengakuan dari orang lain, kecuali segala usaha dan upaya kita adalah untuk mencari ridha Alloh. Hingga akan kita raih kebanggaan yang hakiki.



Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Artikel CineUs Book Trailer Bersama Smartfren dan Noura Books





55 komentar:

  1. Fenomena kurban seperti itu memang marak..
    Dari luar kelihatan baik.. tapi lebih baik jika sesuai tuntutan Rosul..

    Bangga sama Luthfan.. semoga bisa terus istiqomah

    BalasHapus
  2. Salut buat mamas saluuut saluuuut
    mantap sikap yg ditunjukan mamas itu suatu proses yang luar biasa dalam kehidupan memahami syariat NYA

    BalasHapus
  3. Bangga memiliki anak2 yang cerdas dan soleh/ solehah.
    Hehe padahal om juga bikin acara urunan kurban lho nak. Ya maksudnya untuk menumbuhkan semangat berkurban. Secara pribadi juga pada kurban :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau secara pribadi juga pada kurban berarti kan sudah ada semangat berkurbannya om ^_^

      Hapus
  4. Subhanallah..luar biasa Niken hasil dr bimbingan dan didikanmu pd permata hati,
    langsung lekat dipikiran dan didada...
    Alhamdulillah......
    Jadi, tidak ada lagi salah kaprah pada anak2 dalam memahami arti qurban dan tata caranya yg benar.. :)

    salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya masih harus banyak belajar, bunda Lily... Saya ingin anak-anak melihat, bahwa yang namanya belajar itu dilakukan selama kita hidup.

      Buat saya, keberanian Luthfan mengemukakan pendapatnya adalah sebuah proses belajarnya.

      Hapus
  5. Bunda @Niken Kusumowardhani, keren deh jawabannya si Luthfan......saya setuju dengan pendapatnya.....

    *Semoga Lomba Atikel diatas , Bunda jadi pemenangnya.... :-)

    BalasHapus
  6. Mbak Niken memang seorang ibu yang hebat dan bijaksana. Berkat didikan mbak, anak-anak mempunyai pemahaman yg luar biasa, baik dari segi agama maupun realita kehidupan.
    Subhanallah, aku salut padamu mbak.......
    Semoga menang lombanya ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang hebat itu Alloh. Alloh yang memberikan saya anak-anak yang bisa dinasehati. Meskipun mereka tetaplah memiliki khasnya dalam setiap perkembangan usianya, tapi saya bersyukur, anak-anak mau diajak diskusi.

      Makasih mbak Yuni.

      Hapus
  7. kalo sapi baru boleh untuk 7 nama ya bund.. kalo kambing yo jangan satu kelas..
    harusnya si Guru menegaskan kepada muridnya.. kambiingnya jangan buat kurban beneran, tp untuk praktik berkurban saja.. jadi makan daging kambing gak harus di saat lebaranidul qurban.. hehehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Guru/pihak sekolah sering tidak jelas dalam memberikan sebuah pengajaran. Hanya mengikuti apa yang dianggap baik untuk sebuah pembelajaran padahal belum tentu benar.

      Hapus
  8. begini baru benar. apa yang luthfan lakukan sama kayak yang dilakukan sama temenku yang dulu juga nolak arisan kurban sekampung. mana ada kurban pake arisan? kurban buat yang mampu saja kan... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan dibuat arisan, lebih baik dibuat tabungan kurban. Menabung dalam satu tahun supaya pada saat berkurban bisa terbeli hewan kurban oleh masing-masing.

      Hapus
  9. Salut, Bunda. semoga suatu saat nanti saya juga bisa menjadi seorang ibu yg bijaksana seperti Bunda. Peran wanita memang sangat crusial, karena dari wanita yang akan menciptakan generasi selanjutnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seorang ibu harus mau belajar bersama anak-anaknya. Bukan hanya membantu dalam pelajaran sekolah, tapi dalam menghadapi persoalan2 hidup yang ada. Insya Alloh Ayu akan bisa menjadi ibu yang bijaksana buat anak-anaknya kelak.

      Hapus
  10. Sebenernya ada khilaf atau perbedaan pendapat dari hukum patungan, Bun! Asumsinya adalah hadits dari Ibnu Abbas yg berkata, "Kami bersama Rasulullah SAW di dlm bepergian, maka tibalah hari Qurban, dan kami bersyirkah seekor unta untuk 10 orang sedangkan seekor sapi untuk 7 orang. [HR. An-Nasai : 4392]

    Kita tau kalo hadits, sperti halnya Qur'an scara garis besar ada 3 macem. Hadits perintah, hadits larangan dan hadits berita. Hadits di atas cuma berupa berita, di dalamnya gak mengandung “thalab”, tuntutan atau perintah Nabi yang ditandai dg adanya kalimat "amarana Rasul (perintah) atau naha Rasul (melarang)."‎

    Singkatnya hadits di atas cuma berupa pemberitahuan Ibnu Abbas tentang pengalaman para sahabat menjumpai hari
    raya Idul Adha dalam keadaan bepergian.
    Kemudian mereka menyembelih qurban masing2 seekor kambing, berhubung kambingnya gak sebanding ama jumlah para sahabat dalam rombongan itu, maka sebagai jalan keluarnya ada yang patungan 1 ekor unta buat 10 orang, dg asumsi bahwa harga seekor unta sama dg 10 ekor kambing. Sedangkan seekor sapi buat 7 orang krn harga seekor sapi sama dg harga 7 ekor kambing.

    So, hadits tsb gak dalam kapasitas ngebatesin bahwa seekor sapi cuma boleh buat 7 orang, gak boleh kurang dan gak boleh lebih, apalagi buat ngebatesin bahwa qurban kambing
    gak boleh patungan.

    Kalo kita pakem ama pemahaman bahwa satu jenis hewan qurban buat sejumlah org tertentu, maka itu bertentangan ama praktek yang diamalkan
    Nabi SAW, yaitu menyembelih satu ekor
    kambing diqurbanin buat dirinya dan keluarganya, dan satu lagi diniatin buat umatnya.‎

    Dari Aisyah dan Abu Hurairah, "sesungguhnya Rasulullah SAW ketika menghendaki untuk qurban, beliau membeli 2 kambing gibas yang besar, bertanduk, bulunya abu-abu dan dikebiri, beliau menyembelih yang satu (diniatkan) bagi umatnya yang menyaksikan ketauhidan Allah dan menyaksikan penyampaiannya Nabi (atas risalah), dan beliau menyembelih kambing yg satu lagi (diniatkan) dari Muhammad dan keluarganya Muhammad SAW. [HR. Ibnu Majah 3122]

    Faktor selain termasuk ibadah “sunnah muakkad” qurbanisasi juga mengandung syiar Islam (ada unsur “amar
    ma’ruf”-nya) serta suasana “fastabiqul
    khoirot”. Misal, dg adanya patungan qurban di sekolahan. Ini adalah syiar buat org tua murid dan masyarakat sekitar.

    Kalo qurban dibatesin seekor kambing cuma boleh buat satu orang aja (gak boleh patungan), maka gak nutup kemungkinan suatu saat nanti pelaksanaan ibadah qurban bakalan ilang seiring perjalanan waktu, apalagi harga kambing makin lama makin mahal.

    Maapin, Bun! Anakmu ini gak bermaksud minteri, cuma share pemahaman aja kok! Kita tetep boleh khiyar (milih) suatu pendapat ulama, yg penting gak bikin susah. Kita bisa juga milih pendapat yg bilang, yang dimaksud
    kambing buat satu
    orang, sapi buat 7 org dan unta buat 10 orang itu adalah dalam masalah orang yang nanggung pembiayaannya. Sebagian pendapat juga bilang, gak sah berqurban pake seekor
    kambing secara patungan lebih dari satu orang trus diniatin atas nama jama’ah, sekolah, atau kampung. Silahkan Bunda memilih ... :-)

    Selamat berqurban en, Bun! ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih buat masukannya Andy. Bunda belajar dari pemaparan yang Andy sampaikan.

      Kebenaran datangnya dari Alloh, andai ada kesalahan itu karena kekurangan bunda sendiri.

      Hapus
    2. Super sekali penjelasannya Eksak. Ini salah satu postingan komen terpanjang yang pernah saya baca di blog

      Hapus
    3. Bagi saya, apa yang dipaparkan Eksak adalah wujud perhatiannya pada saya dan keluarga. Saya berterima kasih untuk kepeduliannya.

      Hapus
  11. Mbak Niken sudah mulai keliatan penanaman nilai2 Islamnya pada anak2. Saya mash jauh mbak ... moga2 bisa seistiqomah mbak Niken ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pelan-pelan, mbak Niar. Yang penting pemahaman tauhid dulu.

      Hapus
  12. dari hati bukan dari orang lain ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukankah musuh utama kita adalah diri sendiri?

      Hapus
  13. Menurut saya untuk pembelajaran tak masalah Bun patungan.. soal satu nama satu korban, atau pahalanya buat siapa.. wallahualam...

    sukses GA-nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi salut buat Lutfan yang berani mengungkapkan apa yang menurut dia benar..

      Hapus
    2. Inginnya sih ibadah yang dilakukan tidak sia-sia.
      Dalam proses belajar memang akan mengalami lika-liku.. tak apa :)

      Hapus
  14. #senyum manis :-)

    Akhirnya ke TKP hihihihi.. lagi2 rani tercengang dibuat Mamas Luthfan, salut banget sama Mamas, tapi tetap dibalik itu semua ada Bunda yang hebat dan Ayah yang Luar biasa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. *colek pipi manis Rani ^_^

      Bunda nungguinnya sampai digigitin nyamuk. Hihihihi....
      Luthfan tetaplah remaja dengan ciri khasnya. Kadang masih bisa emosional kalau ada masalah. Tapi setidaknya masih bisa dinasehati.

      Hapus
  15. Pagi hari memang saat yang asyik buat bareng sama anak-anak ya Bun... Kalo ga terlalu buru2 ngantor, biasanya aku mandiin salah satunya..hehe..
    Keren bgt jawaban Luthfan bun..dulu di kelas 1 SMA aku pernah mengalami hal spt itu, berbeda pandangan dengan guru Agama. Alhasil nilai agama sampai kelas 3 ya mentok dia angka 7 haha...tapi gak masalah, sekolah khan bukan cari nilai yang sll bagus, tapi lebih penting karakter yang harus selalu bagus..#bener gak sih bun...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas Anton. Saya bukan orang yang silau dengan angka bagus di raport. Buat saya, anak-anak bisa memecahkan/menyelesaikan masalahnya adalah nilai bagus mereka.

      Hapus
  16. Waaah, untungnya jaman sekolah dulu gak pernah ada acara urunan qurban gitu, hehe

    Aduuh, pasti bangga banget ya Umi :') smoga aku juga bisa bikin bangga Ibu aku...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jaman umi dulu juga nggak ada.

      Pasti Ranii bisa buat bangga orang tua Ranii. Btw, ajak umi ke jungle land dong ^_^

      Hapus
  17. Saya juga turut salut dan bangga dengan keberania Lutfan.

    Namun kebiasaan yang salah kaprah memang butuk banyak waktu untuk kembali di normal kan.

    Namun usaha Lutfan, patut dan sangat patut untuk di acungi dua jempol.

    Titip salam untuk Lutfan ya Nda.

    Terima kasih Nda.


    Oh ya sandalku mana Nda, aku kesini mau ambil sandalku yang kemarin ku tinggalkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang mas, kalau memang belum bisa merubah apa yang salah pada lingkungan kita, mulailah pada diri sendiri.

      Sandal jepitnya dipakai Luthfan tuh mas Jaswan.

      Hapus
  18. mungkin jangan disebut qurban ya bun, tapi sedekah kambing

    BalasHapus
  19. Soal prinsip, gak mudah loh bertahan dari omongan orang dan lebih milih karena Allah. Andai semua kayak gitu gak ada yang korupsi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. semoga makin banyak yang bisa melakukannya, ya mbak Ami

      Hapus
  20. Yang diwajibkan untuk berkurban adalah bagi mereka yang mampu, jadi kalau untuk anak2 (murid sekolah) karena belum mempunyai penghasilan yang jelas maka tidak diwajibkan, adapun berkurban dengan patungan diperbolehkan asalkan hewan yang dikurbankan berupa unta atau sapi dan maksimal 7 orang. bagaimana jika murid2 berpatungan untuk membeli kambing? boleh2 aja tapi bukan dinilai sebagai kurban melainkan shadaqah. mungkin disini peran orang tua dan guru harus tahu dan menjelaskan dengan benar agar tidak ada kerancuan. jadi tidak ada salahnya jika suatu saat Luthfan bershadaqah secara berpatungan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Shadaqah secara patungan memang bisa saja dilakukan, mas Insan Robbani. Tapi rasanya tidak perlu memngambil moment khusus seperti hari raya kurban. Patungan kurban ini ada dari anak SD, SMP dan SMA yang sudah pasti pemahaman mereka berbeda-beda. Kebiasaan mengambil moment-moment khusus inilah yang sering bergulir menjadi sebuah pemahaman yang keliru.

      Hapus
  21. Selalu suka pada cara Mbak Niken mengungkap cinta pada anak-anak. Mereka beruntung memiliki ibu seperti dirimu Mbak. Ohya selamat ngontes..Sukses ya Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. Saya anggpa sebagai do'a ya mbak Evi. Sebab saya merasa masih jauh sekali dari hal itu.

      Hapus
  22. selamat menyambut hari raya Idul Adha..mohon maaf lahir batin...salam :-)

    BalasHapus
  23. Ya ampun bunda pasti bangga sekali dengan jawaban anak-anaknya ini. Hal ini juga pasti nggak terlepas dari ajaran bundanya soal ilmu agama :) saluuuuut!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah anak-anak mau belajar. Bundanya ikut belajar sama mereka ^_^

      Hapus
  24. Saya sih gak ngerti-ngerti amat soal agama. Kalau masalah 1 kambing = 1 orang saya tau, tapi waktu sekolah dulu gak pernah protes soal ini soalnya kurang paham. Malahan baru keingat waktu baca artikel ini kalo saya dulu kurang bener, meskipun hasil sumbangan 1 sekolah dibelikan sapi dan sisanya dibelikan kambing.Inspiratif. Nah ada pertanyaan nih bun, gimana kalo patungannya diubah niatnya. Bukan lagi berkurban tapi bersodakoh?

    - Salam kenal :)
    Semoga sukses GA-nya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekolah sebagai penyelenggara seharusnya memberikan pengetahuan dan pengajaran agama dengan baik dan benar. Kalau memang mampu meluruskan niat seluruh warga sekolah yang terlibat, mungkin bisa menjadi sodakoh. Wallahualam...

      Salam kenal kembali.
      Terima kasih.

      Hapus
  25. Terlepas dari esensi dialog Luthfan dan gurunya, keberaniannya untuk mengungkapkan pendapat dengan tegas adalah modal untuk menjadi anak hebat. Bahkan bila harus dihadapkan pada ancaman nilai yang jelek. Adalah kebanggaan yang besar memiliki anak-anak yang mulia di sisi Allah, anak-anak yang mampu menuntun orangtuanya melangkah ke surga. Aamiin. Luthfan pasti niru Om Rudi ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Punya prinsip dan bisa mempertahankan prinsip, buatku itu adalah hal baik dari anakku. Luthfan sebagai anak sulung, seakan sudah tampak ingin bisa menjadi panutan adik-adiknya. Dia bisa cukup tegas kepada adik-adiknya. Dia bahkan pernah bilang,"Biar aja aku yang dibilang galak, jangan bunda." Hehehehe...

      Hapus
  26. Kebanggaan bagiku adalah manakala anak-anak mampu mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan berlandaskan nilai-nilai agama. <--- Subhanallah, Mbak. Semoga kelak saya bisa seperti, Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Alloh bisa, mbak Evi.
      Mulai dari menanamkannya pada diri sendiri. :)

      Hapus

Tulislah Komentar Anda Dengan Santun