Masuk Neraka Siapa Takut #Luruhnya Sebuah Kesombongan

34 komentar
Bismillahirrohmannirrohiim,

Jujur aku akui, bahwa aku berhati-hati ketika memutuskan untuk mengikuti GA yang diselenggarakan oleh pak Hariyanto ini. Hati-hati dalam memilih apa yang akan aku tuliskan. Bukan karena merasa tak ada kesalahan di masa lalu. Justru amat banyak. Tapi aku harus memilih, kisah apa yang akan aku paparkan untuk GA ini. Jangan sampai apa yang aku ceritakan merupakan aib diri yang harus ditutupi, karena Alloh sudah lebih dulu menutupnya.

Sebagaimana hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Al Bukhori dan Muslim:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Seluruh umatku akan diampuni dosa-dosa kecuali orang-orang yang terang-terangan (berbuat dosa). Di antara orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang yang pada waktu malam berbuat dosa, kemudian di waktu pagi ia menceritakan kepada manusia dosa yang dia lakukan semalam, padahal Allah telah menutupi aibnya. Ia berkata, “Wahai fulan, semalam aku berbuat ini dan itu”. Sebenarnya pada waktu malam Tuhannya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi justru pagi harinya ia membuka aibnya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah.”

Inilah alasan mengapa aku merasa harus berhati-hati dalam menuliskan kisah untuk GA ini. Harus ada hikmah yang bisa diambil. Insya Alloh, aku luruskan niatku, bahwa keikutsertaanku dalam GA ini bukan karena ingin mendapatkan hadiah-hadiah yang ada, atau hal apapun selain ingin sedikit berbagi kepada teman-teman, agar tidak melakukan hal yang sama. Sebagaimana yang disampaikan oleh pak Hariyanto:

"Tanpa bermaksud membuka aib seseorang, dengan berbagi kisah, tentunya kita mengharapkan kisah itu bisa menjadi inspirasi, motivasi serta tuntunan bagi pembacanya agar kelak orang yang membacanya bisa berubah menjadi manusia yang lebih baik dalam pandangan dunia, tentunya terutama dalam pandangan ALLAH, sehingga dengan berbagi kisah tersebut kita bisa pula menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama hamba ALLAH."

******

Cerita ini terjadi sudah lama sekali. Yaitu pada masa aku kuliah. Pada waktu itu aku punya beberapa sahabat dekat, salah satunya adalah Prasti (bukan nama sebenarnya). Gadis manis asli Purwokerto ini orangnya kalem, sedikit tomboy, tapi juga perasa. Aku melihatnya sebagai seseorang yang baik, suka menolong, ramah dan berprinsip. Intinya, Prasti adalah seorang teman yang menyenangkan.

Dia sering main ke kostanku. Karena kostku letaknya dekat dari kampus jadi bisa untuk transit kalau ada mata kuliah yang berdekatan, mengerjakan tugas, atau sekedar ingin ngobrol sepulang kuliah. Prasti selalu ke kampus mengendarai sepeda motor yang usianya memang sudah agak tua, tapi begitu setia menemani Prasti ke mana saja

Suatu hari, beberapa teman termasuk Prasti sedang kumpul di kostku. Tiba-tiba aku ingat harus foto kopi beberapa lembar materi kuliah. Prasti mengijinkanku memakai motornya setelah aku mengutarakan untuk meminjamnya. Maka segera aku larikan motor itu ke tempat foto kopi.

Waktu itu memang cuaca sudah mendung. Itu juga salah satu alasan mengapa aku pinjam motornya, supaya cepat dan tidak keburu turun hujan. Tapi rupanya, hujan turun ketika aku dalam perjalanan pulang. Langsung lebat, dan entah kenapa motornya tiba-tiba mogok. Dengan berbasah-basah, aku mencoba menstater secara manual karena motor tua itu tidak dilengkapi stater otomatis seperti motor-motor sekarang. Pakaianku, foto kopianku basah semua. Aku berkeringat di bawah guyuran air hujan. Jalanan sepi, tak ada yang membantuku. Aaah... Rasanya waktu itu aku pengen nangis aja. Berteduh juga sudah percuma, jadi aku terus berusaha menstater motor sampai akhirnya bisa menyala.

Perasaanku campur aduk. Jengkel, marah, sebal dan entah apa lagi. Sesampai di kost, sungguh hal tidak mulia aku tunjukkan di depan Prasti dan teman-teman. Aku mengungkapkan kekesalanku di depan semua yang ada di sana. Tanpa menimbang perasaan Prasti sedikitpun. Aku sempat melirik ke arahnya dan melihat seperti ada yang ingin dia sampaikan, tapi dia urungkan karena melihatku basah kuyup dan menggerutu terus.

Begitu hujan reda, Prasti langsung pamit pulang. Aku bahkan tidak mengucapkan terima kasih pada Prasti. Waktu itu, aku belum menyadari kesalahanku. Pikiranku masih penuh dengan kesusahan yang aku alami di bawah guyuran hujan lebat. Setelah teman-teman pulang semua, aku memutuskan untuk tidur sebentar melupakan apa yang baru aku alami.

Bangun tidur, aku melihat buku Prasti ketinggalan di kamarku. Tiba-tiba aku seperti tersadar oleh sesuatu. Astaghfirulloh... Apa yang sudah aku lakukan padanya? Terbayang wajahnya ketika melihatku meluapkan kekesalanku tadi. Ingin menyampaikan sesuatu tapi tidak jadi. Entah apa yang ada dalam hatinya. Mungkin Prasti juga kesal atas sikapku yang tidak menyenangkan tadi. Bukankah seharusnya aku berterima kasih padanya, sudah meminjami aku motornya. Apa yang aku alami adalah di luar kuasanya. Dia juga tak menduga aku akan mengalami hal itu.

Tapi... Niken yang dulu terlalu angkuh untuk meminta maaf pada Prasti. Berharap Prasti memaklumiku dan melupakan kejadian itu. Sekalipun peristiwa itu sering teringat, tapi kata maaf tak terucap dari bibirku untuk Prasti. Dan Prasti tak pernah membahas hal ini. Maka kemudian aku menganggap selesai saja masalah ini. Kami tetap berteman dan berhubungan baik. Peristiwa itu tak mempengaruhi sikap Prasti padaku.

Selesaikah?

Ternyata tidak. Setidaknya bagi diriku. Perasaan itu tak pernah hilang. Rasa bersalah dan wajah Prasti selalu selalu terbayang. Tapi tetap saja perasaan itu aku bawa sampai aku lulus dan berpisah dengan Prasti. Yaah... Aku terlalu angkuh untuk meminta maaf pada sahabatku sendiri, dan malah memilih untuk membiarkan rasa itu bersemayam dalam hatiku.

Tahun berganti tahun.

Kontak dengan Prasti sempat terputus. Maklum waktu itu belum ada handphone atau jejaring sosial seperti Face Book. Waktu bergulir membawa sebuah proses kehidupan pada diriku. Kesadaran demi kesadaran bermunculan merubah jalan hidupku. Satu persatu pertobatan untuk kesalahan di masa lalu aku panjatkan. Termasuk rasa bersalah pada Prasti itu. Aku berjanji pada diriku, andai Alloh mempertemukan kami, aku akan meminta maaf padanya. Karena ternyata, sikapku kala itu menyisakan sesal yang panjang. Hati kecilku selalu tak bisa lepas dari perasaan bahwa aku amat sombong dan bersalah pada Prasti. Aku mengendapkan perasaan ini bahkan sampai bertahun-tahun lamanya.

Ketika sampai padaku ayat Alqur’an dan hadist tentang larangan bersikap sombong, makin gemetarlah rasanya jiwa ini. Peristiwa itu selalu terbayang di pelupuk mataku. 

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)

Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)

Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim)

Siapalah diriku sampai bisa bersikap seperti itu pada Prasti. Tak tau berterima kasih sudah dipinjami motor, malah marah-marah di depan teman-teman, bahkan tak meminta maaf padanya bertahun-tahun lamanya. Berharap Prasti memaklumi keadaanku tanpa memperdulikan perasaannya. Astaghfirullohaladziim... 

Alloh memberiku jalan hidup dengan menikah dengan laki-laki yang juga teman kuliahku dulu. Tentu saja suamiku mengenal baik Prasti. Setelah menikah, aku diboyong ke Jakarta. Sungguh luar biasa Alloh mengatur jalan hidup hambaNya. Ternyata Prasti tinggal di Jakarta juga setelah menikah. Aku mendapat alamat dan nomor teleponnya dari ibunya di Purwokerto, yang sengaja kami kunjungi untuk menanyakan kabar Prasti. Begitu dapat nomor telepon, aku langsung menghubunginya (pertengahan minggu). Subhanalloh... Sungguh aku tak menyangka, Prasti senang sekali ketika aku menghubunginya. Itu ditunjukkannya dengan mengajak suami dan anaknya datang ke rumah hari Ahadnya. 

Surprise sekali aku dibuatnya. Tak menyangka akan mendapat tanggapan sebaik itu darinya. Rasa rindu setelah sekian lama tidak bertemu kami luapkan dengan saling bercerita masa-masa yang kami lewati setelah lulus kuliah.

Sesuai janji pada diri sendiri dan pada Alloh, pada pertemuan pertama itu, aku meminta maaf pada Prasti atas kesalahan yang aku perbuat pada waktu itu.

“Pras, kamu ingat waktu aku pinjam motormu untuk foto kopi, trus motormu mogok dan aku basah kuyup kehujanan. Sampai di kost aku marah-marah dan tidak mengucapkan terima kasih sama sekali.”

Prasti tersenyum dan berkata,”Ingat Ken.”

“Ingat? Berarti kamu merasakan sesuatu yang tidak enak ya waktu itu.

"Yaahh... Sedikitlaah."

"Tau nggak Pras, selama ini aku merasa bersalah dan ingin minta maaf. Tapi kok ya nggak keucap. Maafin aku, ya Pras. Aku jahat banget sama kamu waktu itu. Harusnya aku minta maaf begitu aku sadar kalau aku salah. Tapi aku malah diam aja sampai kita lulus dan pisahan.”

“Sudahlah, Ken. Aku udah memaafkannya. Aku maklum kenapa kamu kesal. Yang aku kenang tentang kamu bukan peristiwa itu. Banyak hal yang nyenengin selama aku jadi temanmu. Itu cuma bumbu biar ada lebih seru aja.”

“Alhamdulillah... Lega sekali rasanya aku bisa menyampaikan maafku sama kamu. Makasih, ya Pras. Itulah yang aku suka dari kamu. Selalu berusaha mengerti orang lain, walaupun mungkin kamu kecewa, tapi kamu berusaha mengerti."

Obrolan kemudian malah jadi makin ramai (berdua aja ramai, hehehe..). Kami malah saling membuka kalau ternyata sama-sama menjadi secret admire masing-masing, dan sama-sama ingin sekali bertemu untuk menyambung silaturahim. Ternyata oh ternyata... Banyak rahasia persahabatan yang justru baru terungkap setelah bertahun-tahun tak bertemu. Alhamdulillah... Terima kasih Ya Robb. Silaturahim memang indah.

Yang selanjutnya adalah sebuah hubungan indah yang kembali terjalin antara keluargaku dan keluarga Prasti. Kami saling mengunjungi, anak-anak saling mengenal. Banyak hal yang aku ambil dari peristiwa itu. Bahwa aku harus mengantongi egoku, menundukkan kesombonganku, belajar mengakui kesalahan yang aku perbuat dan meringankan hati untuk meminta maaf atas sebuah kesalahan. 


34 komentar:

  1. Suatu peristiwa yg mengajak kita untuk berbesar hati dan mengajarkan kita untuk berlaku dewasa ya, mba Niken...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Santi. Dan tidak seharusnya sampai menunggu selama itu. Bersyukur Alloh masih memberi saya umur untuk meminta maaf.

      Hapus
  2. Oooh..
    Maafin aq ya mak.. Barangkali ada kata2 yang kurang menyenangkan maaaaaaf bangets

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ki ngopo tho Le? Kok tiba-tiba minta maaf.

      Hapus
    2. emang ada masa-masa dimana diri ini ada rasa gengsi tuk mengakui kesalahan.. namun lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali

      Hapus
    3. sama mak,
      selalu maafkan aku kalau ada hal yang gak sengaja buat mak gak suka ya... :)

      Hapus
    4. @Tole: iyo Le. Memang meminta maaf itu kadang lebih sulit daripada memaafkan. Bersyukur masih dikasih umur sama Alloh utk minta maaf.

      @mas Ridwan: udah paham sama sifatmu, jadi no hurt feeling. Sama dengan Tole, guyonannya udah diapal, jd juga no hurt feeling.

      Hapus
  3. indah, dalam dan sungguh mendamaikan tulisanmu ini Bunda Lahfy :) like it soooo much

    BalasHapus
  4. makanya aku bingung mau nulis apa utk GA ini bund..

    salam buat Bunda Prasti yaa..

    :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga segera ketemu apa yang mau dikisahkan.

      Hapus
  5. salam kenal bund, penyesalan emang suka datang belakangan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal kembali Dina.
      Semoga ke depannya bisa lebih hati2.

      Hapus
  6. Alhamdulillah, terimakasih ya sudah berkenan berpartisipasi,
    artikel sudah resmi terdaftar sebagai peserta,
    salam santun dari Makassar :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah sudah tercatat.
      Sukses selalu ya pak Hari.

      Hapus
  7. Sahabat yang baik selalu mengerti keadaan sahabatnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Ranii. Saling mendoakan satu sama lain.

      Hapus
  8. akhirnya..... :) ikut menyimak dan belajar....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa.. Akhirnyaaa...
      Ditunggu ah kisah mas Belalang.

      Hapus
  9. ketika emosi... Terkadang kita terlalu memikirkan diri sendiri....

    *sebuah pembelajaran... Dalam keadaan apa pun kita mesti bisa berpirkir jernih... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rasa "aku" yang sering berada di paling depan. Kesabaran memang harus selalu tertanam dalam hati kita.

      Hapus
  10. selamat Malam...hm saya terharu dan terbawa suasana membaca ceritanya...memang terkadang Lidah Beku ketika akan meminta Maaf meskipun sudah jelas kalau kita yang melakukan kesalahan itu...saya jadi teringat juga ketika masa masa kuliah setelah membaca Artikelnya...semoga jadi pemenang juga yaa dalam Fiesta Tali Kasih Blogger 2013

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat pagi.
      Semoga tulisan sederhana ini bisa diambil hikmahnya.

      Terima kasih kunjungannya. Salam kenal.

      Hapus
  11. waduh sandal jepit saya ketinggalan, eh bukan, maksud saya, saya lupa Follow Blognya,hehehe... Ok Blognya sudah saya Follow, kalau ada waktu ke sebelah juga jalan jalan ke gubuk Tua saya, dan jika berkenan bisa juga follback...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waahh... Terima kasih lagi aah. Kunjungan balasan segera setelah saya buka kompi. Ini sdg pakai hape.

      Hapus
  12. baca ini sambil hati berdebar bund. ada juga kesalahan masa lalu yang buat aku berfikir. ada banyak peristiwa yang ingin aku ubah, ingin minta maaf sama orang orang yang pernah aku bikin gak enak hati. juga hutang lima belas ribu rupiah yang belum sempat terbayar sampai sekarang. juga ingin menjelaskan sikap yang membuat sekumpulan orang salah asumsi kepadaku, tapi sepertinya aku tak sanggup untuk itu. tuilsan bunda selalu mencerahkan, makasih ya bund.... :)

    semoga menang GA nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga akan ada waktu, kesempatan dan keberanian untuk melakukannya.

      Aamiin. Makasih kembali. Semoga sakit giginya lekas sembuh

      Hapus
  13. Berani meminta maaf aalah tindakan yang luar biasa tentu saja dengan ikhlas ya mbak meminta maafnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Alloh ikhlas, mbak Lidya. Malah merasa terlambat sekali

      Hapus
  14. Aku juga punya sahabat yang sempat kusakiti. Alhamdulillah dia tak ada dendam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bersyukur kita diberi sahabat2 yang baik hati

      Hapus
  15. Kok mataku sedikit berkaca baca bagian akhirnya Nda. Ketika Prasi menemui Bunda.

    Haduhhh Mana Tisuue..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masak siih, mas Jaswan? Oooo... *nih tissuenya

      Hapus
  16. Subhanallah.. obrolah yg terakhir itu luar biasa sekali. Tidak mudah untuk mengucapkannya :-)

    BalasHapus

Tulislah Komentar Anda Dengan Santun